lawalataipb/ October 26, 2021/ Catatan Perjalanan/ 0 comments

Merupakan kegiatan untuk mengulik dan mencari keunikan kampung adat, khususnya kampung adat di Jawa Barat. Tim yang berangkat terdiri dari 8 orang dengan perjalanan yang ditempuh sejauh 685 km menggunakan motor, menghabiskan waktu 12 hari untuk berkendara dan singgah di beberapa tempat.

Senin, 18 Januari 2021

Pukul 14.00, tim berangkat dari IPB menuju Kampung Adat Cireundeu. Kampung yang terkenal dengan makanan pokok singkong ini berlokasi di Leuwigajah, Cimahi Selatan. Tim berangkat melalui jalur Puncak – Cianjur – Padalarang dengan jarak 124 KM. Perjalanan disambut dengan hujan gerimis dari Ciawi, akhirnya kami memutuskan untuk singgah dan istirahat sebentar. Pukul 16.00 kami sampai di Puncak Cisarua dan mendapati kabut tebal hingga jarak pandang terbatas, namun tim terus melanjutkan perjalanan hingga Cianjur. Kebetulan waktu sudah magrib, kami beristirahat di masjid daerah Cipatat hingga isya dan melanjutkan perjalanan melalui Padalarang. Jalan dari Cianjur hingga Padalarang merupakan jalan besar dan lurus, sampai bertemu RS Karisma Cimareme, belok kanan masuk ke Jl.Batujajar, untuk sampai di Kampung Adat Cirendeu kami harus melewati jalan naik turun dan berlubang. Pukul 22.00 kami sampai di Cirendeu dan mendapati gapura bertuliskan (kacepus) serta saung disebelahnya. Kami pun nembagi menjadi 3 tim untuk mencari dimana letak kampung Cirendeu karena jalan terbelah menjadi 2 arah. Ada yang jalan ke 2 arah, lalu ada juga yang menunggu di saung untuk menjaga barang. Hingga akhirnya datang 2 pria, yaitu Kang Entri dan Kang Jajat, beliau merupakan orang yang berpengaruh di kampung yang terkenal dengan singkong tersebut, kami berbincang sebelum masuk. Sayangnya, kami ditolak untuk memasuki Kampung Cirendeu dikarenakan ada warga yang terdampak covid-19. Namu kami diberi tempat okeh beliau untuk singgah semalam di Kantor Kepala Desa karena melihat kondisi tim yang sudah melakukan perjalanan yang cukup jauh. Karena tidak bisa memasuki dan melihat kampung secara langsung, tim memutuskan untuk mewawancara Kang Entri hingga pukul 1.10, kami beristirahat untuk melanjutkab perjalanan di hari berikutnya.

Selasa, 19 Januari 2021

07.00 tim bangun dari istirahat dan siap-siap untuk berpamitan dengan Kang Entri lalu berangkat lagi menuju Kampung Adat Mahmud yang berlokasi di Mekar Rahayu, Bandung. Perjalanan memakan waktu 30 menit dengan jarak 11KM. Tim berkendara melalui Jl.Nanjung melewati pasar dan persawahan yang dikelilingi sungai citarum, salah satu motor kami terkendala dan kebetulan bengkel lumayan jauh dari lokasi sehingga tim harus kembali ke jalan menuju kota. Setelah sampai lagi di kampung yang terkenal dengan keagamaannya, kami melihat gapura yang bertuliskan “Situs Mahmud” dan dibelakangnya terdapat warung untuk kami beristirahat sekaligus sarapan. Pukul 10.00, tim selesai istirahat dan akan bergegas mencari keberadaan juru kunci kampung ini dengan bertanya warga di kampung tersebut. Kami berjalan sekitar 100m dari gapura, dan menemui plang yang menunjukan arah ke Makom Mahmud ke kanan, namun jalan menuju rumah juru kunci di arah yang berlawanan. Hingga akhirnya kamu sampai di Madrasah dan menunggu kedatangan juru kunci, selang beberapa menit datanglah Kiai HJ,Sapei, beliau merupakan juru kunci Kampung Mahmud ini dan kami dipersilahkan memasuki Madrasah tersebut untuk melakukan wawancara. Pukul 12.00, tim selesai melakukan wawancara dan kami diberi izin untuk bermalam di Madrasah ini. Tim beristirahat tenang hingga sore, namun saat tidur datanglah beberapa anak kecil yang bermain di dalam Madrasah, berlari dan berteriak, sedikit mengganggu tidur kami, namun kami menjadi lebih akrab karena itu. Sore tiba tepatnya pukul 16.00, kami diajak berkeliling kampung dan melihat makam bersama anak- anak yang tadi hingga matahari terbenam. Pukul 21.00 kami mencari makan malam dan membeli beberapa souvenir dan anak-anak tersebut jadi pemandunya. malamnya kami melakukan evaluasi dan briefing untuk keberangkatan esok harinya, sebelum beristirahat datanglah Kang Tawi, kami berbincang dan bercanda di Madrasah hingga tengah malam, dan kami beristirahat untuk menjaga stamina di perjalanan selanjutnya.

Rabu, 20 Januari 2021

Pukul 08.00 kondisi di Kampung Mahmud hujan gerimis dan udara dingin, sambil mempersiapkan barang bawaan dan sarapan, anak-anak kecil kemarin datang lagi untuk meminta bantu mengerjakan tugas dan kami membantu hingga selesai. 11.30 semua siap, kami berpamitan dengan Ki Sapei dan melanjutkan perjalanan ke Kampung Adat Cikondang yang berlokasi di Lamajang, Bandung, berjarak 23 KM dari Kampung Mahmud, melewati Soreang – Cangkuang – Cimaung dengan jalan yang berlika liku, tanjakan curam, dan licin. Perjalanan memakan waktu 1 ½ jam dikarenakan kami melewatinya, padahal sudah jelas memiliki patokan yang bertuliskan “Situs Rumah Adat Cikondang”, akhirnya tim memutuskan untuk berbalik arah dan kembali menuju jalan besar. Beda dari sebelumnya, di kampung yang menyisakan satu rumah adat ini kami sudah memiliki kontak salah satu masyarakat di kampung adat ini, biasa dipanggil Kang Egi, beliau membantu kami untuk menemukan tempat tinggal sang Juru Kunci. Akses memasuki kampung ini lumayan sulit, jalan yang sempit ditambah licin membuat kami sulit untuk mengendarai kendaraan kami. Hingga akhirnya kami sampai di lokasi kampung adat, kami disambut oleh Ki Anom, beliau merupakan juru Kunci di Kampung Adat Cikondang sekaligus satu-satunya orang yang masih memegang erat budaya kampung adat ini. Kami menyimpan barang bawaan di saung yang memiliki nama “Bale Paseban” yang dijadikan tempat istirahat nantinya dan pergi ke rumah sebrang dimana Ki Anom berada untuk melakukan wawancara. Ditengah wawancara, Ki Anom mengajak kami memasuki hutan larangan yang berlokasi di belakang situs rumah adat tersebut untuk melihat- lihat. Selesai wawancara, kami beristirahat sementara di Bale Paseban dan berencana mengunjungi Saung Katumbiri, tempat berkumpulnya masyarakat sekitar yang mengenalkan berbagai kesenian sunda. Kami singgah di Saung Katumbiri untuk belajar beberapa alat music sunda serta bertanya-tanya mengenai kesenian sunda. Tepat diatas saung merupakan rumah Emak (orang tua dari pemilik Saung Katumbiri), kami beberapa kali mengunjungi rumahnya juga. Sambil berbincang di saung, ada beberapa teman kami yang melakukan ziarah ke makam dengan Ki Anom karena kebetulan hari itu merupakan waktu untuk ziarah. Pukul 22.45 kami kembali ke Bale Paseban, sebelum istirahat kami berbincang-bincang sekaligus evaluasi dan briefing untuk kegiatan di esok harinya.

Kamis, 21 Januari 2021

Pukul 06.00 saya bangun dari istirahat sudah ada Ki Anom didepan Bale, lalu saya diajak menunggu di rumah adat untuk menghangatkan badan sekaligus memasak pisang bakar yang akan dibagikan ke teman-teman sedangkan Aki menabur bibit padi di sawah. Hingga semua siap untuk berangkat, kami mengobrol lagi dengan Ki Anom sebelum berpamitan dan mengunjungi rumah Emak di saung katumbiri sekaligus menunggu salah satu teman kami bekerja. Memakan genar, berbincang tentang alam sambil menunggu hujan reda, hingga berpamitan dengan Emak pada pukul 13.30 lalu kami berangkat menuju PALAWA UNPAD yang berlokasi di Sumedang, Jawa Barat. Saat sudah mendekati UNPAD, kami bingung mencari dimana pintu masuknya hingga harus berputar arah beberapa kali, dan kebetulan jalanan macet sehingga harus mamakan waktu lebih lama. Hingga akhirnya waktu menunjukan pukul 16.00, kami sampai di PALAWA UNPAD dan disambut dengan teman-teman PALAWA, dibuatkannya teh sambil mengobrol berrbincang tentang organisasi. Malam harinya, kami diajak keluar oleh salah satu anggota PALAWA untuk mencari makan, beliau mengajak kami mengunjungi Warkop BKI Pajawan yang letaknya tidak jauh dari kampus, hampir sama seperti “Babakan Raya” jika kami berada di IPB. Setelah kembali lagi ke kampus, ada beberapa teman yang bermain boulder da nada juga yang bercanda-canda dengan teman PALAWA.

Jumat, 22 Januari 2021

Saat kami bangun dari tidur yang nyenyak, teman PALAWA sudah menyiapkan makanan untuk kami sarapan. Sebelum kami bersiap, dua orang dari tim pegi ke Pasar Tanjungsari untuk membeli kebutuhan kelompok. Setelah kembali ke PALAWA pukul 14.00, kami menyiapkan barang bawaan, berpamitan, dan berfoto-foto untuk melanjutkan perjalanan kami ke Kampung Pulo yang berlokasi di Cangkuang, Garut. Berjarak 34 KM, perjalanan menghabiskan waktu 1 jam dengan jalan perbukitan membuat salah satu motor memiliki kendala sehingga harus dibawa ke bengkel. Sambil menunggu montir yang sedang bekerja, kami membeli makanan yang disebut Burayot. Burayot sendiri merupakan makanan khas daerah Garut. Hingga akhirnya kami sampai di lokasi dekat Kampung Pulo, namun kami tidak bisa memasuki kampung itu sama sekali dikarenakan kampung sedang ditutup, dan tim memutuskan untuk berdiskusi dan mencari tempat bermalam saat itu agar esok paginya tidak terlalu jauh dan memakan waktu lama untuk kembali. 22.00, akhirnya kami menemukan tempat yang bisa dipakai untuk beristirahat yaitu MAPASIL STAI Siliwangi Garut, yang berlokasi tidak jauh dari Kampung Pulo dan hanya menghabiskan waktu 13 menit dari Kampung Pulo. Saat sudah sampai di lokasi, kami disambut baik oleh anggota MAPASIL, dan sudah disiapkan makanan untuk kami makan malam. Berbincang tentang organisasi sedikit lama, dan kami tertidur.

Sabtu, 23 Januari 2021

Sudah pagi hari, kami harus berangkat lagi ke kampung yang memiliki ciri khas Candi Cangkuang ini untuk mencari Juru Kunci disana, namun kami tetap ditolak untuk masuk dengan alasan pandemi covid. Akhirnya kami memutuskan membagi tim untuk mencari warga sekitar yang menurut kami cukup tau banyak hal tentang Kampung Pulo dan kami bertemu dengan Bapak Abdul Azis (75), beliau menunjukan rumah orang yang tau tentang Kampung Pulo, yaitu Bapak Rahayu (76) yang merupakan kakak iparnya. Namun kebetulan sekali Bapak Rahayu ini sedang tidak ada dirumah, kami berputar-putar mengelilingi kampung untuk mencarinya namun saat kembali lagi ke rumahnya, beliau sudah ada dirumah. Dilakukan wawancara seputar Kampung Pulo, hingga selesai kami melakukan sesi foto dan kembali lagi ke MAPASIL STAI Siliwangi Garut untuk beristirahat hingga esok. Saat kembali, kami baru tahu bahwa Rektor atau biasa dipanggil Ibu Illa Susanti merupakan alumni kampus kami dan di fakultas yang sama dengan saya, hingga kami di izinkan menginap di kampusnya. Kami disediakan makanan dan tempat yang layak, beliau juga meluangkan waktu itu berbagi cerita saat di IPB. Sisa waktu di hari ini kami pakai untuk bersantai hingga malam.

Minggu, 24 Januari 2021

Kami berencana untuk mengikuti kegiatan MAPASIL, yaitu penanaman 1000 bibit tanaman kopi di Gunung Kaledong, Kampung Cigadog, Desa Tanggulun, Kecamatan Kadungora. Kami berangkat pukul 8.10, perjalanan memakan waktu 35 menit dengan jarak tempuh 9 KM dari MAPASIL dengan jalan perbukitan. Saat sampai di lokasi, kami membagikan bibit tanamannya lanngsung, didapatkan 20 bibit untuk satu orang. Pukul 09.00 kami mulai berjalan ke lokasi penanaman, trek yang curam lumayan menguras tenaga kami saat jalan menuju lokasi. Hingga akhirnya kami sampai di lokasi dan membagi tim agar ada yang menanam, mewawancarai pelaksana, dan mengambil beberapa gambar kegiatan. Setelah kegiatan penanaman selesai, kami berdiskusi dengan Pak Koko dan Pak Danus yang merupakan pelopor gerakan penanaman 1000 bibit tanaman kopi ini. Berbincang dan membagi ilmunya tentang pertanian dilakukan hingga jam 14.15, lalu berpamitan untuk kembali lagi ke STAI. Saat sampai di STAI, didepan gerbang sudah ada yang menunggu kami semua, yaitu senior kami di LAWALATA yang sedang berkegiatan diluar kota juga, mereka berencana mengunjungi kami untuk mengetahui kabar sekaligus pulang ke Bogor. Malam harinya kami berencana berangkat lagi ke daerah Garut untuk beristirahat agar tidak terlalu jauh ke lokasi selanjutnya, dan kami mendapati tempat yang bernama Jelajah Garut. Berlokasi di dekat alun- alun Garut, seharusnya kami menghabiskan waktu 30 menit untuk berkendara dari STAI menuju jelajah Garut dengan jalan menyusuri sawah, namun sedikit lebih lama karena kami harus menghadiri rapat juga, akhirnya kami berhenti di pinggir jalan untuk makan malam dan rapat. Setelah makan selesai, kami berangkat lagi menuju Jelajah Garut. 22.10 kami sampai di Jelajah Garut dan disambut oleh Kang Dedin dan Kang Ambon, bercerita dan bercanda sepanjang malam hingga akhirnya kami beristirahat.

25 Januari 2021

Pagi hari saat bangun tidur kami langsung mencari sarapan ke daerah kota Garut didekat alun- alun, cukup lama mencari sarapan dan akhirnya kami menemukan yang pas dan kembali lagi ke Jelajah Garut. Setelah selesai, hari ini digunakan untuk kami beristirahat dan mencuci baju. Hingga malam, kami diajak Kang Dedin pergi ke Pasar Ceplak untuk mencoba berbagai kuliner di kota Garut. Pasar Ceplak merupakan pusat dari berbagai macam makanan khas Garut, kami membeli beberapa kue putu yang unik dan beda dari kue putu lainnya. Di Pasar Ceplak, kue putu memiliki tiga warna dan ukurannya lebih besar jika dibandingkan dengan kue putu lainnya. Selanjutnya kami mencoba ayam bakar yang ada di Pasar Ceplak, dengan harga beda dari yang lainnya, tempat ini merupakan tempat yang paling murah dan enak. Selesai kulineran, kami kembali lagi ke Jelajah Garut untuk beristirahat.

26 Januari 2021

Kami bangun sedikit lebih siang, dan langsung bersiap- siap untuk berangkat ke Kampung Adat Naga. 12.00, kami berpamitan dengan Kang Dedin dan Ketua Jelajah Garut dan berangkat. Saat perjalanan ada beberapa teman yang membayar uang kuliah dan beberapa mengisi bensin untuk perjalanan yang lumayan jauh. Perjalanan ke kampung Naga memakan waktu 2 jam dengan jarak 26KM, lebih lama dikarenakan kami harus beristirahat untuk makan siang di Warung Nasi Benink, jalur perbukitan dan berkelok-kelok ditambah kondisi cuaca saat itu hujan sehingga jalanan menjadi licin, untungnya Kampung Naga tidak terlalu jauh dari jalan raya sehingga akses untuk berkunjung ke Kampung Naga tidak terlalu sulit. 14.20 kami sampai di Kampung Naga, setelah memasuki gerbang kami menemui tulisan besar yang bertuliskan “Kampung Naga” dan ada juga tugu kujang pusaka bertuliskan aksara sunda dibagian atasnya. Kami memparkirkan motor dibagian kanan pintu masuk dan menunggu hujan reda. Kami membagi menjadi tiga tim untuk mencari juru kunci, bertanya orang sekitar, dan menjaga barang. Saat kami mencari tahu, dating seseorang yaitu Abah Tatang, beliau merupakan pemandu disini, beliau memberi tahu bahwa jika berkunjung ke Kampung Naga harus dipandu oleh pemandu dan kami sepakat untuk dating lagi esok harinya. Karena waktu saat itu sudah sore, kami berencana menginap di penginapan terdekat dari Kampung Naga karena di Kampung Naga sendiri kami tidak bisa menginap. Akhirnya kami menemukan penginapan yang bernama Pondok Hijau, namun kami tidak bisa bermalam disana dikarenakan tempat itu melarang perempuan dan laki-laki berada di satu ruangan. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari masjid terdekat untuk dijadikan tempat bermalam, saat mencari kami merasa perlu istirahat dan singgah di sebuah warung nasi yang bernama “Kedai Mamih???”. Disana kami bertemu dengan seseorang yang menawarkan untuk tinggal dirumahnya, namun kami menolak dengan alasan kami akan tidur di warung. Saat itu kami bingung untuk bermalam dimana, menurut kami saat itu tidak ada tempat yang aman untuk ditinggali. Hingga akhirnya kami mencoba bertanya pada pemilik warung nasi tersebut untuk singgah semalam, beruntungnya kami diberi tempat tinggal dan diberi satu kamar untuk kami bermalam. Sambil berbincang dengan pemiliknya, kami diberi makanan dan minuman untuk mengisi perut kami yang sudah kenyang saat itu. Setelahnya, kami melakukan evaluasi harian dan briefing untuk perjalanan esok harinya dan beristirahat dengan tenang.

27 Januari 2021

Saat bangun paginya, Ibu Yati sudah mempersiapkan nasi goreng dan ubi untuk dimakan sebelum berangkat ke Kampung Naga, kami makan banyak pagi itu agar kuat menuruni ratusan anak tangga nantinya. Jarak Kampung Naga dari rumah Ibu Yati cukup dekat, hanya 4KM sehingga kami tidak terlalu terburu- buru mengejar waktu. Waktu pun menunjukkan pukul 8.30 kami berpamitan dengan Ibu Yati dan berangkat ke Kampung Naga. Kami tiba di Kampung Naga 20 menit setelahnya, namun sebelum masuk kami menunggu salah satu teman kami yang rumahnya cukup dekat dengan Kampung Naga, ia ingin ikut mengunjungi kampung ini bersama kami. Saat teman datang dan Pak Risman sudah siap, kami mulai perjalanan menuruni ratusan anak tangga untuk sampai ke kampungnya. Namun perjalanan tidak terasa berat karena saat berjalan kami melihat begitu banyak pemandangan, persawahan, serta sungai Ciwulan. Sampailah kami di Rumah Panggung yang merupakan Balai ditengah kampung tersebut, cukup luas dengan banyak alat musik khas menggantung di dinding dari anyamannya dan melakukan wawancara. 10.30 wawancara selesai dan kami diarahkan untuk mengunjungi Pak Maun, beliau merupakan Punduh Adat sekaligus pengrajin kayu di kampung tersebut, dan disebelahnya ada Aki Rida yang sedang membuat “aseupan” atau tempat untuk nasi dikukus. Selesai kami melihat-lihat, Pak Risman yang menjadi pemandu mengajak kami untuk mengunjungi tempat pembuatan tas koja, meleewati beberaoa gang kecil hingga sampai dan disana ada Pak Usup yang sedang membuat beberapa kerajinan seperti tas koja dan karinding (alat musik). Setelah selesai mengunjungi beberapa tempat kerajinan, kami diajak oleh beliau untuk beristirahat di rumahnnya yang tidak jauh dari tempat terakhir kami karena kebetulan cuaca hujan saat itu dan berbincang-bincang sambil menunggu hujan. Hujan selesai kami keluar Kampung Naga dan menaiki ratusan anak tangga lagi untuk bersiap-siap berangkat ke Kampung Adat Dukuh yang berlokasi di Pameungpeuk, Garut Selatan. Beristirahat sebentar di pintu masuk dan berpamitan pulang pada pemandu. 13.15 kami berangkat ke Kampung adat selanjutnya yaitu Kampung Dukuh, perjalanan kali ini jauh lebih lama dibanding perjalanan sebelumnya dikarenakan jarak yang lumayan panjang yaitu 103KM dengan jalan berbatu dan berkelok- kelok ditemani pegunungan dan kebun teh. Dalam perjalanan, salah satu motor teman kami tiba-tiba tidak ada remnya dan kami harus membetulkannya ditengah perjalanan, memakan waktu cukup lama untuk menunggu montir bekerja, kami habiskan waktu sambil bermain dengan anak-anak kecil yang berada di sekitar bengkel itu. Setelah motor selesai, kami melanjutkan perjalanan dan menikmati jalan perbukitan dengan jalan yang mulus, hingga akhirnya kami tiba di satu turunan dengan jalan bebatuan besar dan licin sehingga kami harus lebih pelan dan berhati-hati untuk melewati itu. Jalan itu menghabiskan banyak waktu kami, hingga akhirnya kami melihat cahaya lampu rumah dan kebetulan sekali itu warung. Kami beristirahat sebentar untuk meregangkan badan kami yang terasa pegal karena melewati jalan itu. Waktu sudah semakin malam, kami melanjutkan perjalanan lagi dikarenakan jarak dari tempat kami bersitirahat masih jauh dari tempat yang akan kami gunakan untuk bermalam. Walaupun badan sudah lelah dan jalan masih bebatuan kali yang licin, kami tetap melanjutkan perjalanan agar tidak terlalu malam untuk sampai rumah seseorang yang kami kenal. Sempat beberapa kali salah memilih jalan hingga motor harus terpeleset, namun kami bangun lagi dan tetap berjalan. Hingga akhirnya kami sampai di akhir jalan bebatuan, disambung jalan yang lebar dengan permukaan mulus, betapa gembiranya tim saat itu karena tidak harus melewati jalan yang merusak motor kami. Karena terlalu senang menemukan jalan raya, kami berjalan lumayan cepat jika dibandingkan dengan perjalanan sebelumnya. Hingga akhirnya kami sampai di sebuah persimpangan yang mengarahkan kami menuju Kampung Dukuh, namun kami harus membeli beberapa pesiapan untuk bermalam nanti di rumah kenalan kami. Setelah semua siap, kami melanjutkan perjalanan menuju Kampung Dukuh yang jalannya menanjak ke atas, jalan yang berlubang dan gelap membuat kami harus lebih berhati-hati . Lalu ada lagi persimpangan didalamnya, kami diberi dua pilihan dengan jalan berbatu seperti yang tadi atau jalan tanah basah yang sangat licin untuk dilewati. Karena sudah kapok dengan jalan bebatuan, kami mencoba jalan yang baru namun beberapa dari kami jatuh dijalan itu karena tidak melihat tumpukan tanah yang licin ditambah kondisi cuaca saat itu hujan. Akhirnya kami memutuskan melewati jalan berbatu besar yang tidak jauh beda dengan yang sebelumnya. Perjalanan menghabiskan waktu 1 ½ jam dari kami bertemu jalan bebatuan hingga kami sampai di tempat bermalam kami. Saat sampai kami disambut oleh Bang Husnul atau biasa dipanggil Kim dan langsung diajak kerumahnya untuk beristirahat. Disiapkannya makanan yang cukup banyak untuk kami yang sudah berkendara cukup jauh, berbincang-bincang dan bertukar informasi hingga akhirnya kami semua beristirahat.

28 Januari 2021

Saat itu merupakan hari dimana kami semua memiliki waktu untuk mengisi jadwal akademik, di teras yang nyaman tanpa suara bising kendaraan kami semua sibuk mengisi jadwal kuliah. Lalu datanglah Bang Husnul dengan tas ditangannya yang berisi banyak sekali kedondong, ia membawakannya dari kebun yang tidak jauh dari rumahnya untuk kami makan saat itu. Hingga akhirnya waktu menunjukan pukul 13.00 kami bersiap untuk berangkat lagi ke Kampung Dukuh, jarak kampung dari tempat kami singgah tidak begitu jauh, namun jalan yang harus kami lalui berupa jalan berbatu dengan dikelilingi hutan sehingga perjalanan terasa begitu lama untuk sampai di tempat tujuan. Akhirnya kami sampai dan langsung diarahkan menuju “Bumi Sesepuh” yang merupakan balai besar tempat kuncen berada sekaligus untuk berkumpulnya masyarakat sekitar. Kami bertanya-tanya tentang Kampung Dukuh pada Bapak Uluk Luqman yang biasa dipanggil Pak Maman yang merupakan juru kunci di Kampung Dukuh. Wawancara selesai sekitar pukul 15.00, beliau mengajak kami makan bersama dengan masyarakat yang ada di Balai tersebut dan kami siap-siap berpamitan dengan Pak Maman untuk kembali ke rumah Bang Husnul. Melewati jalan berbatu yang menanjak lagi dan berfoto-foto tepat di bagian atas kampungnya, dan melanjutkan perjalanan hingga sampai pukul 16.40. Beristirahat sebentar dan berpamitan dengan keluarga Bang Husnul, kami bersiap-siap melanjutkan perjalanan kami. Melewati jalan yang sama dengan semalam, namun dalam perjalanan kami banyak menemui jalan pintas tanah yang tidak begitu licin sehingga kami begitu cepat saat perjalanan turun. Saat kami sudah sampai di jalan utama, kami sempat tidak tahu tujuan selanjutnya hingga salah satu teman kami merekomendasikan untuk singgah sebentar di Puncak Guha yang berlokasi di Sinarjaya, Garut Selatan. Perjalanan dari Pameungpeuk menuju Puncak Guha sangat cepat, hanya membutuhkan waktu 20 menit. Puncak Guha merupakan tebing dengan pemandangan laut lepas yang sangat indah, namun sayangnya kami sampai di tempat saat matahari suda terbenam sehingga kami tidak dapat melihat keindahannya. Selesai beristirahat, kami mencari tempat untuk bermalam lagi dikarenakan jarak dari selatan ke Bogor cukup jauh dan kami tidak disarankan untuk melakukan perjalanan malamhari. Tujuan selanjutnya merupakan Pantai Apra yang berlokasi di Sindangbarang, Cianjur Selatan. Berjarak 55 KM dari Puncak Guha dengan jalanan sepi dan berkelok-kelok. Perjalanan memakan waktu 2 jam dengan beberapa kali istirahat ditempat yang ramai karena sangat sulit untuk menemukan keramaian warga sehingga kami harus lebih berhati-hati dalam memilih tempat untuk berhenti. Pukul 21.30 kami sampai di alun-alun Sindangbarang, mencari makanan dan survey tempat untuk kami bermalam di pantainya. Bermain dan berdiskusi tepat di depan alun-alunnya hingga kami didatangi seorang polisi untuk mengingatkan kami agar lebih berhati-hati saat di pantai nanti. Tepat tengah malam, kami masih berdiam diri di depan alun-alun itu, suasana sepi dan hanya ada beberapa orang yang lewat, setelah berdiskusi kami memutuskan bermalam di pantai. Jarak alun-alun ke pantai hanya 1KM, jadi kami tidak terlalu terburu-buru mengendarai kendaraan kami.

29 Januari 2021

Kami sampai di pantai sekitar pukul 00.30 dini hari dan langsung membagi tugas, ada yang membangun tenda, membuat atap dengan flysheet, serta memasak. Setelah tugas selesai, saya berjalan- jalan ke menyusuri pantai untuk melihat-lihat, dan hujan turun! Kami langsung berlari kembali dan memindahkan semua barang bawaan kami ke saung yang ada didekat tempat kami berkemah. Kami semua mengganti baju karena baju yang kami gunakan basah dan tidak mungkin nyaman saat dipakai untuk tidur nanti. Setelah semua selesai, kami memiliki waktu untuk melakukan kegiatan bebas dan kami putuskan untuk berbincang dan bernyanyi-nyanyi saat itu hingga pagi, karena sudah lelah, kami pun tidur di pinggir pantai. Waktu menunjukan pukul 07.00, kami semua bangun dan menikmati indahnya pantai. Ada yang berenang, berjalan menyusuri pantai, dan berjemur. Waktu kami habiskan dengan bersenang- senang di pantai hingga siang hari, lalu mandi dan bersiap lagi untuk berangkat ke Kota Cianjur. Saat kami sudah siap berangkat, ada orang yang menghampiri kami dan bertanya asal kami, beliau yang kami tidak ketahui namanya itu merupakan alumni IPB tahun 1988, kami sedikit berbincang hingga waktu menunjukan pukul 13.20. Kami berangkat menuju Cianjut Kota melalui Cibinong – Tanggeung – Pegelaran – Sukanagara dengan jarak 107KM dan waktu tempuh 5 jam. Perjalanan memakan waktu sangat lama dikarenakan jalan yang kami lalui merupakan pegunungan yang berkelok-kelok penuh dengan lubang dan basah sebab hujan saat itu, ditambah kami beristirahat beberapa kali untuk merenggangkan badan karena jalan yang berlubang membuat kami pegal- pegal. Kebetulan sekali di daerah Cianjur kota ada senior yang siap menampung kami untuk bermalam di rumahnya yang berada di Sukaluyu, cukup dekat dari Kota Cianjur. Kami bermalam disana hingga esok hari.

30 Januari 2021

Bangun dari tidur, kami langsung bersiap untuk berpamitan dengan senior kami yang sudah memberi tempar bermalam. Sekitar pukul 11.20 kami berangkat ke Bogor untuk kembali ke IPB, melewati jalur yang sama dengan berangkat yaitu Puncak Bogor. Dalam perjalanan, kami makan di tempat yang cukup terkenal yaitu Sate Maranggi dan menentukan lokasi perhentian selanjutnya untuk kami melakukan evaluasi keseluruhan perjalanan kami yaitu Bukit Pelangi. Saat melewati puncak, kabut sangat tebal hingga jarak pandang kami hanya sekitar 5m kedepan dan kami harus berjalan sangat pelan. Hingga akhirnya kami sampai di Bukit Pelangi, kami melakukan evaluasi dan melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir kami yaitu LAWALATA IPB. Kami sampai di Kampus IPB pukul 19.00, sudah disiapkannya makan malam untuk kami. Hingga satu persatu dari tim kami pulang untuk beristirahat, selesai.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*