lawalataipb/ May 8, 2000/ Opini/ 3 comments

Sebagai mahasiswa TPB IPB tahun 1977 saya harus memilih kegiatan ekstra kurikuler. Pilihannya cukup beragam. Ada kegiatan otot seperti aneka olahraga individu atau kelompok. Ada kegiatan otak seperti catur dan kelompok percakapan bahasa Inggris. Ada juga kegiatan yang memperkaya conscience misalnya kegiatan bakti sosial yang antara lain mengorganisir kegiatan donor darah dan penyantunan bagi anak putus sekolah. Saya perlu kegiatan otot sebagai pengimbang aktivitas kurikuler TPB yang amat sangat berat buat otak sederhana saya. Tetapi saya juga ingin selalu memperkaya otak dengan pengetahuan dan pengalaman baru. Dan di saat yang sama saya ingin melakukan kegiatan yang memberi semacam do good feeling. Saya memilih Unit Kegiatan Cinta Alam karena harapan bahwa kegiatan-kegiatannya mengarah pada otot, otak dan conscience secara bersamaan.

Lawalata IPB dan Makna Cinta Alam
Tahun 1970an di Indonesia antara lain dicirikan dengan tumbuhnya berbagai kelompok pencinta alam di lingkungan sekolah dan universitas maupun kalangan remaja umumnya Di Jakarta dan sekitarnya, pencinta alam identik dengan naik gunung, atau bahkan lebih sempit lagi identik dengan trekking malam hari ke puncak Gunung Gede atau Pangrango. Kelompok seperti Mapala UI atau Wanadri memberi arti yang lebih khusus lewat pendakian tebing dan ekspedisi ke rimba dan puncak-puncak gunung tertentu. Tetapi secara umum citra tentang pencinta alam berkisar pada kegiatan orienteering atau sebangsanya sementara peralatan baku dalam kosa kata pencinta alam di samping tenda adalah ransel dengan bingkai sandang, snap ring, tali panjat dan kantong tidur.
Salah satu andil L-IPB bagi dunia pencinta alam barangkali adalah dalam memperkenalkan sisi kegiatan pencinta alam yang beda dari yang dipopulerkan Wanadri atau Mapala atau ratusan kelompok pencinta alam yang lain. L-IPB mempromosikan “lingkungan” (environment) dan bukan sekedar alam (nature). Boleh dibilang, L-IPB mendomestikasi kegiatan dari yang semula berhubungan hanya dengan ke alam terbuka, menjadi juga berhubungan dengan sesama warga dan lingkungan pemukiman.
Pada pertengahan Oktober 1979, misalnya, Lawalata IPB dalam rangka lustrum mengorganisir suatu lokakarya untuk merumuskan peran pencinta alam dalam meningkatkan kesadaran lingkungan. Saat itu Kementerian Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup baru berusia sekitar setahun. Menteri Emil Salim sedang giat melancarkan berbagai upaya penyadaran. Pengertian umum tentang “lingkungan” misalnya mencampur aduk antara environment dan neighbourhood, sehingga perlu diluruskan lewat kegiatan dan keterlibatan konkrit. Secara umum wawasan kepentingan individu masih amat terbatas pada diri, keluarga dan sisi dalam pagar rumahnya. Dimensi keterkaitan individu pada lingkungannya harus digali dan ditekankan. Sampah dan limbah misalnya hanya dipedulikan sejauh pagar rumah; di luar itu orang (atau perusahaan) yakin bahwa sampah dan limbah bukan lagi urusannya dan tidak punya dampak pada kehidupannya. (Sayangnya sikap ini masih saja dimiliki banyak orang sampai sekarang).

Pencinta Alam dan Kesadaran Lingkungan
Sejumlah 15 kelompok (34 orang) pencinta alam asal Jakarta, Bogor dan Bandung memenuhi undangan untuk berlokakarya dua hari di Bogor. Semua peserta ditampung di hostel remaja di Tanah Sareal atas biaya panitia. Rektor membuka lokakarya yang diselenggarakan di Aula Agronomi Baranangsiang. Pak Emil Salim yang Menteri PPLH memberi arahan. Direktur PPA (sekarang menjadi Direktorat Jenderal Perlindungan dan Konservasi Alam) dan seorang stafnya memberi uraian panjang lebar tentang kegiatan mereka. Lokakarya kemudian merumuskan bahwa kelompok pencinta alam dengan keragaman latar belakangnya perlu terlibat dalam kegiatan peningkatan kesadaran lingkungan. Lokakarya juga merumuskan tiga bentuk kegiatan: pendidikan (termasuk penyuluhan, lomba karya tulis dan foto serta pameran), pengamatan berkala terhadap kondisi lingkungan hidup, dan kegiatan lain seperti seminar dan diskusi, aksi kebersihan dan penghijauan, serta pencarian obyek wisata.
Saya tidak ingat luar kepala tentang lokakarya ini. Seminggu setelah pelaksanaan lokakarya ini saya terpilih sebagai Ketua Umum dalam Mubes. Salah satu tanggung jawab awal saya adalah menyelesaikan serta mengedarkan laporan lokakarya itu (saya kebetulan menyimpan satu kopi).
Rekomendasi lokakarya ini juga saya gunakan sebagai pijakan untuk menyusun program di masa kepengurusan saya. IPB terkenal mampu mendera mahasiswanya dengan kegiatan akademis. Jadi kami perlu kegiatan-kegiatan yang cukup beragam untuk menampung minat anggota, tetapi cukup sederhana untuk dilaksanakan sebagai kegiatan sampingan yang tidak terlalu menyita waktu. Di saat yang sama, saya juga ingin kegiatan itu baik bagi conscience orang yang menelorkan gagasan maupun yang melaksanakan.
Pak Emil Salim dua minggu kemudian datang lagi ke Bogor atas undangan L-IPB untuk melakukan penanaman pohon di lokasi Perumnas Sukasari. Dalam minggu yang sama, Mapala UI, L-IPB dan Wanadri diundang oleh TVRI (satu-satunya saluran dan stasiun televisi ketika itu) untuk mengisi acara talk show 30 menit tentang pencinta alam. Sekitar 2 minggu kemudian, Direktorat PPA memboyong sejumlah anggota pencinta alam Jakarta Bogor ke Alun-alun Suryakencana untuk diwawancara TVRI di setting yang lebih alami.
Dalam kilas balik, rekomendasi lokakarya Oktober 1979 itu barangkali juga berfungsi sebagai semacam justifikasi pada apa yang telah dikerjakan L-IPB yang berbeda dari kelaziman kegiatan kelompok pencinta alam di masa itu. Bahkan sebelum lokakarya itu, aktivitas utama dalam Jamboree Antar Fakultas dan TPB, misalnya, telah diarahkan pada penyuluhan ke masyarakat tentang penghijauan, pemanfaatan pekarangan dan kesehatan lingkungan. Memang ada kegiatan penjelajahan dan lintas alam, tetapi itu seingat saya lebih merupakan kegiatan hura-hura daripada serius menguji kepiawaian baca peta dan menggunakan kompas.
Butir terakhir rekomendasi yaitu mencari lokasi wisata telah pula dikerjakan oleh sebagian Anggota Muda dalam rangka penulisan karya ilmiah (atau apa yang diakui sebagai karya ilmiah) sebagai syarat untuk menjadi Anggota Biasa. Wisata alam atau ekowisata di tahun 1978-79 itu belum lagi memiliki bentuk. Sementara pencinta alam terkenal senang menyelusup kesana kemari dan “menemukan” lokasi eksotik. Tetapi pengetahuan tentang lokasi dan keunikannya itu umumnya tidak dokumentasi dengan baik; informasinya sekedar disebar verbal antar teman dan kenalan sesama pencinta alam. Media massapun sangat terbatas. Ada upaya untuk bekerjasama dengan tabloid Mutiara dalam mempromosikan lokasi wisata alam, tetapi prakarsa ini tidak bergaung luas di luar kalangan pencinta alam masa itu.

Awal Lima Tahun yang Kedua Lawalata-IPB
Rekomendasi Oktober 1979 itu kemudian berusaha diterjemahkan dalam kegiatan L-IPB. Kebetulan Prof. Soeratno Partoatmodjo almarhum yang saat itu menjabat Kepala Pusat Studi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan IPB, sangat mendukung dengan dana dan peralatan. Dan Mas Bowo yang saat itu sudah mulai bekerja sebagai pegawai PSL menjadi penghubung yang sangat membantu. Akses yang telah dibuka oleh Pengurus periode sebelumnya ke Direktorat PPA, WWF dan Kementrian Negara PPLH juga amat membantu L-IPB menentukan sikap dan bentuk kegiatan karena tidak tergantung mutlak pada dana dari IPB dan Pembantu Rektor urusan Kemahasiswaan seperti banyak Unit Kegiatan dan organisasi ekstra kurikular lain di lingkungan IPB.
Di lingkungan kampus, Lawalata-IPB membuat kampanye dengan membuat dan memasang papan amar dan tong sampah. Juga ada lomba penulisan puisi lingkungan. Rektor mendukung prakarsa untuk meng”hidup”kan Taman Koleksi di sisi selatan lapangan depan kampus Baranang Siang yang tadinya dikurung pagar dan onak. Warga IPB juga antusias ikut serta pada urban trekking bulanan untuk warga kampus dan masyarakat peminat umum. Dalam acara Jalan Pagi Sehat itu peserta diajak jalan bersama masuk keluar desa di sekitar Baranang Siang. Tujuannya bukan saja berolahraga tetapi juga untuk melihat “halaman belakang” rumah dengan harapan tiap peserta menjadi lebih memperhatikan kebersihan dan keasrian lingkungan. Sayangnya hampir semua trek itu saat ini sudah berubah menjadi pemukiman seperti Danau Bogor Raya.
Rektor juga mendukung lomba kebersihan yang diselenggarakan L-IPB antar sekolah dasar di kota Bogor. Lomba kebersihan itu sendiri kami maksudkan sebagai bagian paket penyuluhan penanganan sampah kota. Dengan bantuan dana dan pengarahan metodologis dari PSL IPB, Lawalata membuat suatu kajian tentang pengelolaan sampah padat di Bogor, dan memberi rekomendasi ke walikota untuk penanganannya.

Prakarsa-prakarsa Inovatif
Semua prakarsa ini bukan tanpa risiko alienasi dari pencinta alam yang lain. Di suatu acara kumpul-kumpul pencinta alam di Cibodas, misalnya, ada seorang peserta mengeluarkan payung dari ransel sementara yang lain mengeluarkan ponco ketika hujan mulai turun. Komentar yang terdengar adalah “Itu pasti anak Lawalata…” Bukan nada sinis, tetapi tetap mencerminkan kesan bahwa L-IPB lebih karib dengan studi ilmiah, diskusi, seminar, makalah posisi dan sebangsanya daripada dengan alam bebas. Mungkin kesan itu ada benarnya.
Direktorat PPA misalnya pernah meminta Lawalata terlibat dalam suatu tim kecil untuk membuat rekomendasi tentang lokasi dan kegiatan wisata alam remaja. Tetapi L-IPB juga mengintroduksi gagasan dokumentasi ilmiah sederhana yang dapat dilakukan para remaja ketika melakukan wisata atau perkemahan. Kami harus mensurvei belasan lokasi di Jawa yang kalau diterjemahkan dengan bahasa mahasiswa sebetulnya adalah dibayar untuk hiking dan trekking keliling Jawa. Padahal tanpa dibayarpun kami sudah amat sukacita memperoleh kesempatan seperti itu. Apalagi ada bonus kenalan baru serta film gratis beberapa rol (positif dan negatif hitam/putih). Atas rekomendasi kajian ini, PT Inhutani kemudian mengembangkan lokasi perkemahan untuk wisata remaja di berbagai tempat di Jawa.
Apa yang diusulkan L-IPB sebagi gagasan sampingan wisata alam remaja ini bukanlah penelitian biologi mendalam seperti yang dilakukan teman-teman dengan latar belakang akademis biologi. Kami mengusulkan kajian sederhana untuk sekedar melengkapi deskripsi lokasi yang dikunjungi. Alhasil, inipun dikatakan sebagai bias anak Lawalata untuk tidak pernah melupakan sekolah bahkan selagi bermain.
Istilah pemantauan lingkungan di saat itu belum lagi masuk dalam kosakata umum. Lawalata menggunakan istilah pengamatan berkala pada kondisi lingkungan. Tetapi ini lebih bersifat wishful thinking –angan-angan. Kami tidak memiliki sistem dan peralatan yang memungkinan pengamatan itu dilakukan secara sistematis. Kami bahkan tidak sampai mengulas perlunya semacam kajian untuk menetapkan garis dasar (base line) yang dapat dipakai sebagai acuan untuk mengatakan apakah terjadi kemunduran atau perbaikan kondisi lingkungan.
Daftar sederhana yang diusulkan untuk wisata alam remaja kemudian dibuat lebih serius. Gagasan ini dilontarkan ke kalangan lebih luas pencinta alam di akhir tahun 1980 untuk membekali setiap anggota kelompok pencinta alam dengan semacam daftar sederhana untuk membantu mereka mencatat kondisi lingkungan yang mereka datangi atau lewati. Ada lokakarya dan kelompok kerja, ada pengujian dan percobaan penggunaan daftar ini dalam kesempatan trekking bersama, lalu ada perbaikan lagi, tetapi kemudian menggantung dan mati. Daftarnya telah berubah dari konsep suatu daftar sederhana menjadi acuan pemantauan yang amat pelik. Jika gagasan semula adalah siapa saja dengan latar belakang ilmu apa saja akan dapat mengisi daftar ini, setelah beberapa iterasi penyempurnaan telah menjadi daftar yang harus diisi oleh kandidat doktor multi disiplin. Gagasan ini lalu menggantung tanpa penyelesaian.
Tahun 1980 juga menghadirkan banyak sosok baru di gelanggang lingkungan. Pencinta alam mungkin besar dalam jumlah tetapi tidak signifikan dalam pengaruh. Pembangunan Indonesia di saat yang sama menghadirkan agenda “Membangun Tanpa Merusak” yang mendahului putaran diskusi global pembangunan berkelanjutan (yang kemudian dilaporkan dengan tajuk Our Common Future). Ada harapan baru bahwa pilihan yang bijak akan memungkinkan isu alam dan lingkungan tidak harus berseberangan dengan pembangunan ekonomi. Pembangunan dapat dilakukan dengan tetap memperhatikan kaidah lingkungan. Dan pencinta alam merasa perlu bersuara lantang untuk mengimbangi bising mesin pembangunan. Ada keinginan untuk menggalang semacam koalisi lingkungan.
Pada awal 1980 mulai ada pembicaraan ke arah pembentukan koalisi itu. L-IPB ikut urun rembug dengan pencinta alam lain. Suatu koalisi dianggap akan lebih efektif untuk menyuarakan kepentingan pencinta alam. Karena pengalaman penggalangan massa menjelang Sidang Umum MPR 1978, ada kecurigaan bahwa koalisi ini adalah alat untuk menghimpun dan membungkam kelompok pencinta alam. Tetapi disadari bahwa pencinta alam perlu memperoleh rekognisi untuk duduk sebagai mitra sejajar di satu meja, bahkan jika isu yang dibahas menempatkan para pihak secara berseberangan. Setidaknya, itulah yang memotori peranserta L-IPB dalam diskusi awal ke arah pembentukan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia.

Penutup
Konteks dan prioritas kepentingan tentu saja berkembang sesuai tantangan mutakhir. Tetapi bahwa kelompok pencinta alam memiliki gigi dalam debat kebijaksanaan sekarang bukan lagi hal yang aneh.
Saya berharap tulisan ini memberi gambaran tentang: 1. Apa yang dipahami oleh Lawalata IPB sebagai cerminan cinta alam dalam arti lebih luas; 2. Apa yang dilakukan Lawalata IPB dalam konteks gerakan lingkungan di Indonesia pada akhir 1970an itu; dan 3. Apa yang berusaha dilakukan dengan semangat inovatif untuk memilih kegiatan sederhana yang dapat dikerjakan mahasiswa dalam waktu luang, tetapi yang kontekstual dengan kebutuhan pencagaran lingkungan dan sumberdaya alam dalam arti yang luas
Pada bulan Januari 1981, Musyawarah Besar anggota yang diadakan di arena JAFT di Gunung Bunder, Ciampea, memilih saudara Roy sebagai Ketua Umum yang baru. Saya dan Sekretaris Umum Yoyo (L-046; Dr. Dwi Listyo Rahayu, peneliti krustasea LIPI) rasanya membuat memorandum akhir jabatan, tetapi entah apa isi lengkapnya karena saya sendiri ternyata tidak menyimpan kopinya.
Apakah keterlibatan saya di Unit Kegiatan Cinta Alam dan kemudian Lawalata IPB memenuhi harapan saya untuk memperoleh kegiatan otot dan otak yang baik bagi conscience? Tentu saja. Lagipula, pekerjaan serta karir saya boleh dikata berpijak pada apa yang saya petik selama di IPB lewat Unit Kegiatan Cinta Alam dan kemudian lewat Lawalata IPB. Beberapa minggu setelah serah terima jabatan Ketua Umum L-IPB, saya memperoleh tawaran pekerjaan. Dan itu terutama karena latar belakang dan keterlibatan saya di Lawalata IPB.

Palu, 8 Mei 2000
Titayanto Pieter (L-078)

3 Comments

  1. Lawalata … Jawaaa …. hehehe!!

  2. Wah … saya jadi bisa belajar sejarah lawalata secara lengkap dari artikelnya bang Pieter … terus terang jadi sangat bangga karena saya pernah bergabung di Lawalata-IPB waktu kuliah; dan networking yang dibangun di Lawalata sungguh menolong banyak dalam membentuk karir dan sekolah saya selanjutnya. Terima kasih bang Pieter … Lawalata Jayaaa..

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*