lawalataipb/ June 4, 2011/ Ekspedisi Lawalata/ 0 comments

        Sengatan matahari siang itu di kota Makassar membakar kulit tangan saya, namun hal itu tidak meyurutkan keingintahuan saya akan pesona Karst di Kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. Setelah puas menjelajahi air terjun dan keluarga kupu-kupu Bantimurung, kini langkah saya beralih ke kawasan Goa-Goa Purbakala di kabupaten Pangkep, Desa Belae. Diperlukan waktu satu jam untuk menuju Belae dari terminal Maros. Hawanya sangat panas kendatipun pegunungan karst menjulang tinggi di sebelah kiri dan kanan, diselimuti pepohonan hijau yang menutupi punggungannya. Sebutan Tower Karst memang pantas disandang oleh Kawasan Karst Bantimurung-Bulusaraung. Bebatuan gampingnya tegak berdiri menyerupai Tower, saling merangkai disepanjang kompleks Goa Purbakala, bentuknya mirip dengan Tower Karst Halong Bay, Vietnam. Pegunungan karst  tersebut menyimpan puluhan hingga ratusan lubang goa, namun yang dikenal dan sering dimasuki hanya beberapa. Saya menaiki Bentor, alat transportasi umum berupa motor yang dibentuk menjadi becak, saya memulai penelusuran goa pertama. Masyarakat lokal menyebutnya Leang; dalam artian bahasa Indonesia adalah lubang.
Menyisir kearah kiri, melintasi jalan setapak pematang sawah penduduk desa, disitulah Leang Ponro mengumpat dibelakang batu-batu gamping. Goa ini kecil, didalamnya terdapat dua makam tua dari orang terdahulu yang bersembunyi dari tentara Belanda dan mati didalam Goa ini. Langit goa tidak luas, sehingga saya harus berjongkok untuk melihat makamnya lebih jelas. Didepan kuburan ini terjaga dua lilin kecil untuk penerangan. Masyarakat lokal percaya makam ini keramat, seringkali mereka menaruh sesajen di sekitar makam. Beralih ke goa lainnya, Leang Kajuara, Leang Kassi dan Leang Lompoa memperlihatkan cave painting atau lukisan goa berupa cap-cap tangan manusia jaman purbakala. Stalagtit dan stalagnit bergantungan dengan berbagai warna dan berkilau putih bak berlian. Ditepian  mulut goa, saya bisa merasakan terapi ikan kandea di riak sungai kecil yang mengalir. Rasanya geli namun menyenangkan.
 
            Keesokan harinya memasuki Leang yang paling cantik dari leang-leang yang sudah saya datangi sebelumnya. Kalibongaloa, itulah namanya, goa alam yang jarang terjamah. Saya memanjat tebing setinggi 10 meteruntuk  sampai ke mulut goanya. Tapi usaha itu terbayar oleh rasa kagum yang muncul ketika menatap keindahan ornamen bak batu pualam seputih susu didalam Kalibongaloa. Langit-langit goa ditopang oleh tiang berbatu putih menyerupai singgasana. Di pojok sebelah kanan, ornamen goa lainnya bentuknya bak air terjun susu yang membeku, dingin dialiri air dan berkilauan menggoda mata. Satu hari tak akan cukup untuk mengenali Goa Kalibongaloa lebih dalam. Goa ini cocok bagi para penggiat penelusuran Goa, namun harus berbekal seperangkat peralatan pengamanan dan SRT (Single Rope Tehnique).
Raisya Maharani U.L / L-305

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*