lawalataipb/ January 7, 2012/ Studi Lapangan Anggota/ 3 comments

Kemeriahan acara Yosim Pancar

Yosim Pancar, atau yang biasa disingkat dengan Yospan adalah sebuah kegiatan berupa menari atau berjoget  yang menjadi tradisi di Biak.  Yosim adalah gerakan lari-lari langkah kaki kecil dengan tangan di ayun dan Pancar adalah gerakan kombinasi kaki dan tangan yang disesuaikan dengan irama musik. Semakin cepat irama musik yang dimainkan, semakin terasa rumit gerakan yang dilakukan.

                Bukan rahasia umum, jika orang Biak suka dengan Yospan. Malam itu hari terakhir tim di Kampung Sansundi. Masyarakat berkumpul baik anak-anak, pemuda pemudi, bapak ibu bahkan kakek dan nenek yang  bersiap untuk berjoget.  Bangku panjang dari kayu  berjumlah 4 buah diletakkan berdekatan hampir membentuk persegi.  Sebuah alat musik bernama Selo berukuran besar terbuat dari kayu, yang bersenarkan 2 nylon, berada di tengah kursi dengan posisi terlentang di tanah.  Pemuda yang memainkan Selo harus berjongkok.  Terdapat beberapa orang duduk di kursi bersiap menyanyikan lagu-lagu  asli biak.  Terdapat 4 buah gitar yang siap mengiringi kami berjoget.

    Yospan dapat disebut juga  “Tari Pergaulan”, tari yang dapat dilakukan kapan pun yang penting pada malam hari. Menurut Bapak Mikha, “Tari pergaulan dapat menambah keakraban tim dengan masyarakat Sansundi”. Tentu saja karena walaupun tidak kenal dengan pasangan joget kita yang penting kita bergerak dengan gerakan sama sehingga terlihat kompak. Tawa senang ketika berjoget terpancar dari setiap orang yang ikut berjoget sehingga menambah suasana akrab. “Tari pergaulan juga baik untuk kesehatan, berjoget cukup menguras keringat karena peserta terus mengelilingi bangku sampai musik selesai,” lanjut Bapak Mikha.

Berjoget bersama masyarakat Sansundi

 Bagi yang mau berjoget membentuk 2 barisan memanjang ke belakang.  Tim berbaris di belakang karena gerakan tari mengikuti orang yang paling depan. Bila pergantian lagu maka gerakan yang dilakukan ialah Yosim, dan bila lagu dimainkan maka gerakan berkombinasi antara kaki dan tangan dilakukan, ini disebut Pancar. Berjoget seringnya 2 sampai 3 lagu. Setelah itu berhenti sejenak untuk istirahat, sambil menikmati makanan hasil masak dengan “Barapen”.  Barapen adalah sebuah cara memasak adat biak, kayu disusun kemudian dibakar lalu meletakkan batu karang di atas kayu sampai batu memerah.  Umbi-umbian seperti keladi, singkong, diletakkan di atas batu dan ditutup dengan daun lebar seperti daun keladi dan sapiae.

                Tim selalu berjoget jika lagu sedang dinyanyikan.  Walaupun kami tidak mengetahui arti lagu tersebut, asalkan dapat bergoyang mengikuti irama kaki, pancaran senyum terpancar dari kami.  Sesekali aku melihat anjing yang melintas di sekitar halaman.  Memang anjing dan babi merupakan hewan piaran mayoritas di Sansundi.  “Pus.. pus..” panggilan umum untuk seekor kucing, dan untuk memanggil babi kita dapat mengatakan “Bola… bola” maka babi akan berhenti dan berusaha mencari suara tersebut.

                Sesekali aku mencium aroma anggur ketika aku ikut menari.  Tidak ada pemaksaan untuk setiap orang meminum minuman tersebut.  Waktu menunjukkan pukul 12 malam.  Pergantian hari ini merupakan hari yang ditunggu oleh salah satu anggota tim, Lehi karena hari kelahirannya yang jatuh tanggal  23 juli.  Banjuran air sebagai ucapan selamat dari kami membuatnya basah kuyup.  Bapak Mikha menghadiahkan Lehi sebuah piring dan mangkuk putih bercorak biru.

                Berbicara mengenai piring dan mangkuk, benda ini sangat bernilai bagi masyarakat Sansundi bahkan di Biak.  Piring dan mangkuk berlaku sebagai seserahan pada acara pernikahan.  Bagi pemuda yang ingin menikah, harus menyiapkan dana yang cukup besar.  Uang senilai jutaan rupiah, piring dan mangkuk 100 buah, mas kawin berupa gelang perak yang jumlahnya ditentukan oleh pihak wanita.  Ditambah lagi dengan resepsi pernikahan yang ditanggung oleh pihak laki-laki.  Ini adalah tradisi adat yang harus dilaksanakan.  Menurut Bapak Mikha budaya ini menghambat seseorang untuk menikah.  Cara untuk mengantisipasi mahalnya biaya pernikahan adalah “Kawin Lari”.  Namun pelaksana kawin lari akan dikenakan denda senilai 10 juta.  Kawin lari tidak sah secara adat.  Bila pelaku kawin lari meninggalkan desa maka keluarganya yang akan dikenakan denda.  Oleh karena itu penduduk berpikir ulang untuk melakukan kawin lari.

                Pernikahan tidak boleh terjadi sesama marga.  Bila terjadi maka dipercaya akan terkena kutukan selama 7 turunan, seperti sakit atau kejadian buruk lainnya.  Anak hasil pernikahan mengikuti marga bapaknya.  Di Sansundi terdapat 3 dusun dengan marga yang berbeda di masing-masing dusun.  Sub marga Maninemwarba di dusun 1, Pombos di dusun 2, dan Boseren di dusun 3.  Lokasi dusun 1 dan 2 cukup dekat, namun jarak antara dusun 2 dan 3 jauh sehingga akan ada pemekaran wilayah untuk dusun 3 menjadi sebuah desa.

oleh : Dafid Kurniawan / L317

3 Comments

  1. Ternyata,, menari adalah suatu kegemaran bagi insan manusia… bergoyang dapat menghilangkan penat dan membuat hati menjadi senang,,,, Let’s go dancing////

    1. ya betul sekali lets dancing bro

  2. Asiiikkk,,, ada Ambar,, ayo let’s dancing,,, hehe

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*