lawalataipb/ January 7, 2012/ Studi Lapangan Anggota/ 1 comments

Hutan Cagar Alam Biak Utara di Sansundi

Menurut kepala Kampung Sansundi Bapak Mikha Pombos, Gerbang pintu masuk utama menuju Hutan yang berada di Cagar Alam Biak Utara adalah Goa yang dijadikan lokasi upacara masuk hutan. Goa terletak di belakang rumah kepala kampung. Di dalam Goa yang tidak bernama tersebut banyak terdapat sisa mangkuk dan piring yang menandakan bahwa upacara untuk masuk hutan sering dilaksanakan. 

 

Bagi masyarakat Sansundi, hutan merupakan ‘Ibu’ yang harus dirawat dan dilestarikan.  Mereka percaya, arwah nenek moyang akan menjaga hutan sehingga diperlukan suatu ritual atau upacara khusus ketika hendak berkegiatan di hutan. Upacara wajib dilaksanakan oleh pendatang yang baru pertama kali hendak memasuki hutan.  “Upacara juga dilakukan ketika ada pembangunan di kampung seperti pembangunan gedung baru dan perbaikan jalan raya. Selain itu, upacara dilaksanakan bila terjadi sesuatu hal yang terasa janggal yang dipercaya karena nenek moyang mereka sedang marah,” ungkap Mikha Pombos.

Upacara ini memiliki langkah-langkah dan persyaratan yang harus dipenuhi. Pertama, kami  berkumpul di rumah bapak Kepala Kampung menyampaikan maksud tujuan yaitu untuk melakukan upacara kepada bapak David Pombos  selaku orang yang dituakan di kampung Sansundi. Kemudian tim mengumpulkan bahan-bahan yang dibutuhkan dalam upacara berupa koin receh 100 rupiah sebanyak 50 buah, seekor ayam jantan putih, sebuah piring putih polos yang berisi pinang, kapur, sirih, kopi, rokok. Setelah semua bahan-bahan yang dibutuhkan tersebut tersedia, semua anggota tim beserta bapak David, bapak Kepala Kampung, sekretaris desa, pemuda kampung  dan beberapa anak kecil  menuju lokasi upacara yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 5 menit.

Prosesi upacara diawali dengan setiap peserta upacara memegang 2 buah koin receh. Sesaat kemudian Pak David membacakan dengan bahasa Biak. Kami hanya diam mendengarkan secara khidmat karena kami tidak mengetahui pasti apa yang diucapkan oleh Bapak David. Namun kami mengetahui maksud dan tujuan berdasarkan keterangan yang diberikan Bapak Mikha Pombos setelah  upacara, bahwa mantra-mantra yang dibacakan bermaksud untuk mengundang roh nenek moyang yang berada di sekitar alam (hutan). Pembacaan mantra ini dengan tujuan untuk menyampaikan maksud dari kedatangan tim di Kampung Sansundi serta memohon izin kepada roh nenek moyang bahwa kedatangan tim adalah untuk melakukan kegiatan di Cagar Alam Biak Utara khususnya di Kampung Sansundi. Terakhir yaitu memohon restu dari roh nenek moyang agar tim dapat melakukan kegiatan dengan lancar dan selamat hingga selesai kegiatan.

Penyembelihan ayam jago putih pada upacara adat masuk hutan

Prosesi selanjutnya yaitu penyerahan bahan-bahan yang telah dikumpulkan. Diawali dengan pemotongan ayam secara perlahan-lahan dan hati-hati hingga kepalanya putus, kemudian darahnya yang terus mengalir deras ditampung ke dalam mangkuk  yang berisi bahan-bahan magis tadi hingga tidak ada darah yang keluar. Kepala ayam yang telah putus dimasukkan ke dalam piring bersama bahan-bahan lainnya dan ditambah uang koin yang telah dipegang oleh masing-masing peserta upacara. Semua bahan-bahan persembahan ini dimasukkan ke dalam goa yang memiliki mulut  sempit oleh kak Lukas (seorang pemuda kampung Sansundi), sebagai bentuk pemberian dan penghormatan kepada roh nenek moyang yang menguasai alam.


Dengan diletakkannya persembahan tadi di mulut goa berarti tim sudah diizinkan untuk memasuki kawasan hutan. Untuk menutup kegiatan upacara yang cukup sakral ini tim diminta untuk mengambil sebotol air di dalam goa yang terdapat di sebelah mulut goa tempat upacara dilakukan. Di dalam goa ini memang terdapat sebuah mata air yang tidak pernah mengering yang biasa dikonsumsi masyarakat untuk minum dan untuk keperluan lainnya sebelum adanya sumur serta bak penampung air hujan yang terdapat di belakang rumah warga. Sumber mata air yang menggenang sangat jernih. Menurut masyarakat sekitar, sumber mata air ini berhubungan langsung dengan laut namun setelah tim coba untuk meminum air itu rasanya tawar. Pengambilan air diwakili oleh salah seorang anggota tim yaitu Habib yang bertindak sebagai ketua tim ekspedisi.

Goa dengan terdapat sumber mata air

 Konon katanya, saat Perang Dunia II terjadi, ada seseorang berkebangsaan Jepang sedang duduk di pinggir mulut gua dan kemudian tertembak mati oleh musuh. Mendengar hal tersebut, banyak masyarakat yang takut untuk mengambil air di gua itu dan ada satu orang pertama yang berani mengambil air di gua itu, beliau adalah Pak David yang menjadi salah satu narasumber saat tim berkegiatan. Beliau yang mengusulkan air gua tersebut ke sumur-sumur warga yang sampai saat ini masih digunakan oleh masyarakat untuk keperluan MCK.

Oleh Dafid Kurniawan/ L317

1 Comment

  1. Persembahan untuk arwah leluhur,,, jadi ingat halimun,,,,

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*