lawalataipb/ April 16, 2014/ Aksi/ 1 comments

Ohh yang kemarin rame-rame bersihin danau itu ya? Bagus itu kegiatannya

Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut Ibu Mince setelah saya memperkenalkan diri berasal dari organisasi Lawalata IPB. Nampaknya ibu penjual soto mie ini sudah mengenal Lawalata IPB. Untung rasanya karena akan lebih mudah bagi saya untuk menjelaskan maksud kedatangan saya di siang hari tersebut.

Mince, begitu biasanya ibu berusia 34 tahun itu dipanggil. Beliau merupakan salah satu pedagang di Kantin Makjan. Mahasiswa IPB pastinya tidak asing lagi dengan Kantin Makjan. Kantin ini memiliki daya tarik tersendiri karena lokasinya yang tepat berada di atas Situ Leutik IPB atau lebih dikenal dengan Danau LSI. Kestrategisan tempat itu pun diakui oleh Ibu Mince. “Iya enak di sini tempatnya, strategis, terus yang dateng ga sekedar makan aja tapi bisa sambil refreshing juga lihat-lihat pemandangan di danau, terus denger kicauan burung juga, lebih asik kan tuh makannya”, tuturnya sambil tertawa kecil. Selain memberikan nilai estetika, Danau LSI juga menjadi sarana bermain oleh mahasiswa. Kegiatan latihan dayung, bermain perahu, serta flying fox kerap dijumpai oleh Ibu Mince. Bahkan beliau pernah turut serta bermain bersama. Danau LSI juga menjadi spot andalan bagi para pemancing.

Ibu Mince-Informan dari Kantin Makjan

Ibu Mince-Informan dari Kantin Makjan

Hampir 10 tahun berdagang di Kantin Makjan, rasanya membuat Ibu Mince sudah sangat akrab dengan Danau LSI. Menurutnya, banyak perbedaan yang dirasakan antara Danau LSI saat dulu dan sekarang, “Enak waktu dulu neng, bersih, enakeun deh”. Danau LSI saat ini kotor karena jarang dibersihkan. Estetikanya ternodai oleh kumpulan kayu, ranting, dan dedaunan yang jatuh dari pohon. Belum lagi rumput-rumput liar yang tumbuh di pinggir danau. Ditambah sampah yang berasal dari pemancing yang kurang bertanggung jawab. Botol plastik bekas umpan atau wadah bekas kopi ditinggalkan begitu saja.

Tidak hanya itu. Bahkan pernah dijumpai ada sisa-sisa kardus makanan yang mengapung di Danau LSI. “Itu bukan dari kantin, kita takut disalahin tapi memang itu bukan dari kantin”, sanggah Ibu Mince ketika diklarifikasi sumber kardus makanan tersebut. Menurut penuturan Ibu Mince, sisa sampah dari kantin diangkut setiap hari oleh petugas kebersihan kampus. Sedangkan untuk limbah cair dari kantin dibuang ke septictank tersendiri. Tidak dibuang langsung ke Danau LSI.

Kondisi Danau LSI yang kini memprihatinkan diakui Ibu Mince berdampak pada jumlah pengunjung, “iya bekurang, mungkin karena sekarang kotor”. Solusi yang diajukan oleh Ibu Mince adalah digalakkan kembali kegiatan mahasiswa untuk bersih-bersih di lingkungan Danau LSI. “Coba atuh dijalanin lagi kaya dulu. Mahasiswa turun bersihin danau, rame-rame, penuh, kalo perlu biar kelihatan kaya demo”. Ibu Mince mengakui bahwa inisiatif dan rasa peduli mahasiswa terhadap keberlangsungan ekosistem Danau LSI sangat diperlukan. Jangan hanya berharap pada pihak kampus karena rasanya akan lama responnya, “Mungkin kan mereka juga banyak yang diurus”.

Terkait dengan kegiatan SOS (Save Our Situ) yang akan diselenggarakan oleh Lawalata IPB, Ibu Mince sangat mendukung. Beliau pun menyarankan agar aksi bersih Danau LSI tidak hanya dilakukan setahun sekali, tetapi alangkah baiknya dilakukan sebulan sekali. Tentang kesediaan beliau terlibat di SOS? Jangan ditanya lagi, “Pasti lah saya siap turun juga”, ujarnya antusias. Yuuk dukung acara SOS ! Ibu Mince aja ikut SOS, masa kamu enggak? 😉

Oleh: Dini Novita/Sleti AM

1 Comment

  1. Ketika kemarin saya sempat jalan2 di danau bawah,saya lihat ada pipa aliran limbah kantin yang langsung menuju danau. mungkin bisa diselidiki lagi tentang hal ini. 🙂

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*