lawalataipb/ June 15, 2015/ Lain lain/ 0 comments

Jika pohon terakhir sudah ditebang, jika mata air terakhir berhenti mengalir, barulah manusia sadar bahwa uang dan kekayaan tak berharga lagi. Sebuah pepatah ringan namun mempunyai makna yang mendalam tentang betapa berharganya pohon dan air yang merupakan bagian dari ekosistem. Pohon mengeluarkan oksigen (O2) dan berfungsi menyerap karbon dioksida (CO2)yang dikeluarkan oleh manusia. Bayangkan ketika pohon terakhir yang ada di bumi sudah ditebang, alangkah sulitnya bagi kita untuk mendapatkan oksigen.

Tidak hanya tentang permasalahan mendapatkan oksigen dan penyerapan karbon dioksida, tanpa hutan dan pohon kita dihadapkan dengan permasalahan meningkatnya suhu permukaan bumi yang mengakibatkan pemanasan global. Sejak tahun 2009isu tentang pemanasan global menjadi topik hangat tiada henti.

Penyebab pemanasan global diataranya adalah jumlah luas hutan di dunia yang terus berkurang, baik karena kebakaran hutan maupun konversi lahan.Kebakaran hutan tahun 2014 yang terjadi di Riaudengan luas lahan yang terbakar sebesar 2.398 hektar dan menimbulkan dampak yang sangat luar biasa, negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura terkena asap dari hasil kebakaran tersebut sedangkandari segi ekonomi kerugian yang ditanggung negara sebesar Rp 20 Triliun, (Mongabay.co.id).

Selain emisi dari kebakaran hutan,emisi dari pabrik dan kendaraan juga merupakan penyebab meningkatnya suhu permukaan bumi. Menurut Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI 2014), bahwa suhu permukaan bumi meningkat 0,8 derajat celcius dalam satu abad terakhir. Peningkatan suhu sebesar itu akan mengakibatkan dampak terhadap perubahan cuaca dan iklim lokal.

Disamping pohon, dalam peredaran siklus kehidupan, air memiliki peranan yang sangat penting dalam tubuh. Kita sering mendengar orang mengucapkan “lebih baik tidak makan dari pada tidak minum”. Sebuah kalimat yang membuktikan betapa besarnya fungsi air dalam keberlanjutan hidup.

Manusia, pohon, dan air merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Ketika satu telah musnah maka lainnya pun akan ikut musnah. Air dan Hutan akan hilang diakibatkan ulah manusia, jika manusia mampu berjalan selaras dengan alam, maka alam akan mendukung keberlanjutan hidup hingga anak cucu nanti. Tidak hanya manusia,satwa lainnya pundapat merasakan manfaat yanga ada.  Oleh karena itu dibutuhkan ekosistem seimbang yang dapat menjaga kelestarian alam. Contoh kecil ekosistem seimbang di kampus IPB Darmaga adalah Danau LSI (Perpustakaan).

Pemandangan danau LSI saat sore hari (Pict by: Jihad)

Pemandangan danau LSI saat sore hari (Pict by: Jihad)

Danau LSI merupakan danau kecil dengan panjang dari timur ke barat sebesar 60-63 m dan mempunyai lebar 18-20 m.Danau LSI terdiri atas dua situ, yaitu Situ Leutik dan Situ Perikanan. Kedua situ ini terletak berdekatan dan hanya dipisahkan oleh sebuah beton dibawah jembatan. Jembatan tersebut menghubungkan gedung LSI dan gedung Pascasarjana IPB. Lokasi Situ Leutik dikelilingi oleh gedung LSI, gedung perkuliahan pascasarjana, pohon, perdu, dan semak. Kedalaman situ Leutik sebesar 0-3 m. Sedangkan Situ Perikanan, sesuai dengan namanya yaitu pada bagian ujung  baratnya berbatasan langsung dengan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) dengan kedalaman lebih dangkal dibandingkan dengan Situ Leutik, yaitu sebesar 0-1 m.

Baik Situ Leutik maupun Situ Perikanan mempunyai peranan yang besar dalam penampungan air hujan. Hujan yang deras mengguyur Bogor jika tidak ada sanitasi yang baik dan tidak adanya tempat penampungan air, maka akan mengakibatkan beberapa tempat di IPB akan banjir. Misalnya air hujan yang membanjiri daerah dekat pascasarjana dialirkan menuju danau LSI. begitu juga dengan daerah di dekat Fakultas Ekonomi Menejemen (FEM) dan Fakultas Ekologi Manusia (FEMA), air yang berlebihan akan dialirkan ke situ jika selokan tidak mampu menampung air

Sebagai sekosistem yang seimbang, Situ LSI merupakan tempat tinggal bagi para satwa atau mahluk hidup lainnya. Berdasarkan (Catatan Kudeta 2014)jenis satwa yang mendiami Situ LSI diantaranya adalah berbagai jenis ikan, burung kowak, serangga air, koreo, dan beberapa hewan herpetofauna, seperti ular pucuk hijau, bunglon, katak, kadal dan masih banyak lagi. Semua komponen yang ada di dalamnya berinteraksi satu sama lain, sehingga kehidupan yang ada di situ LSI berjalan harmonis. Adanya air di danau LSI memberikan kehidupan bagi mahluk hidup. Ikan dapat hidup dan berenang dengan limpahan air di sana, tumbuhan air dapat bertebaran karena air sebagai medianya, burung berkicau dan bertengger di pohon karena tidak ada yang mengganggu mereka, dan manusia dapat menikmati pekikan burung, pepohonan yang rindang serta gemercikan air. Laksana siklus yang terus berjalan dan bersahutan satu sama lain. Danau LSI merupakan habitat bagi para satwa dan tumbuhan. Tempat tinggal yang nyaman dan tenang untuk menjalankan roda kehidupan di setiap detik pergantian waktu.

Burung kowak terlihat sedang beristirahat pada dahan pohon yang berada di danau LSI

Burung kowak terlihat sedang beristirahat pada dahan pohon yang berada di danau LSI

Ketika Situ LSI rusak dan terganggu, maka yang akan merasakan dampaknya tidak hanya satwa yang ada di sana, namun dampak tersebut dirasakan oleh semua mahluk hidup yang begantung pada Situ LSI. Tumbuhan air, pohon, beberapa burung dan ikan akan kehilangan tempat tinggal, semua akan musnah jika keseimbangan ekosistem tersebut terganggu, disamping itu mansia juga mengalami kerugian, yaitu berkurangnya oksigen (O2) yang dapat dihirup manusia serta meningkatnya karbondioksida (CO2) akibat kerusakan lingkungan. Rusaknya lingkungan mengakibatkan kerugian yang sangat besar. Sehingga dibutuhkan dana yang tidak sedikit jika kita ingin mengembalikannya seperti sedia kala.

Oleh karena itu keberadaan Situ LSI harus dipertahankan dan dipelihara agar dapat menyelamatkan semua mahluk hidup yang bergantung pada situ. Karena ketika situ sudah rusak, yang terjadi adalah rintihan satwa dan tumbuhan bahkan manusia. Wajar, jika beberapa organisasi pencinta lingkungan sangat memperhatikan Situ LSI, seperti UKM Lawalata. UKM Lawalata sebagai UKM yang fokus menjaga kelestarian Situ LSI setiap tahunnya selalu mengadakan kegiatan aksi bersih Situ LSI dan terangkum dalam kegiatan SOS “ Save Our Situ”.

Hal yang dilakukan oleh UKM Lawalata merupakan contoh yang harus ditiru oleh semua elemen yang terkait dalam situ ini, karena manfaat yang akan dirasakan tidak hanya oleh para anggota Lawalata, namun dampak positifnya akan menyebar kepada semua manusia yang terkait bahkan mahluk hidup yang ada di sana. Dengan penyelamatan Situ LSI, maka secara tidak langsung kita telah melakukan penyelamatan nyawa berantai, nyawa mahluk hidup yang bersimbiosis mutualisme antara satu sama lain.

Amanah untuk merawat bumi, bukan tugas satu atau sebagian kecil manusia, tapi amanah itu diembankan kepada pundak kita semua. Satu langkah kecil yang kita lakukan akan berdampak besar jika diikuti oleh semua orang. Langkah untuk kehidupan kita sekarang agar dapat dinikmati oleh anak cucu kita nanti. Bukan lembaran cerita atau dendangan dongeng yang mereka dapatkan, tapi sebuah fakta tentang alam nyata yang akan mereka terima.

Oleh :Suli Hendra (Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan)

Sumber :

DNPI dan Pemprov Kalteng. 2014. Creating Low Carbon. [diakses tanggal 14 Mei 2015] . Tersedia pada : http://dnpi.go.id/DMS.

Catatan Kudeta. 2014. Ekosistem Perairan di Jantung Kampus IPB. [diakses tanggal 12 Mei 2015].

Mongabay. 2014. Kebakaran Hutan Menimbulkan Kerugian Ekonomi Terparah. [diakses pada 14 mei 2015]. Tersedia pada : www.mongabay.co.id/2014/05/03/kebarakan-hutan-menimbulkan-kerugian-ekonomi-terparah0.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*