lawalataipb/ February 20, 2016/ Aksi, Lain lain/ 0 comments

Kawasan batu gamping di Indonesia, memiliki luas sekiar 154.000 kilometer persegi, atau 0,08% dari total luas wilayah Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Di Pulau Jawa, luasan batugamping mencapai 11.124,18 km2. Dari luasan Batu gamping tersebut diperkirakan mencapai 90% yang telah mengalami proses pelarutan menjadi karst dan membentuk bentang alam eksokarst dan endokarst dan menjadi incaran industri ekstraktif seperti pabrik semen.

Pabrik Semen di Indonesia, separuh lebih berada di Pulau Jawa dengan kapasitas produksi dari tiga perusahan besar di Jawa mencapai 11.084,01 juta ton, sedangkan cadangan yang dimiliki dari tiga industri semen ini sebesar 13.930,60 juta ton. Kebutuhan untuk semen dengan asumsi pertumbuhan kebutuhan semen tiap tahunnya 10 %, tahun 2015-2025 diperkirakan mencapai 1.259,8 juta ton, sehingga cadangan dan produksi yang ada sudah melebihi kebutuhan semen untuk 10 tahun ke depan.

Saat ini, di Karst Gombong direncanakan akan berdiri pabrik semen PT. Semen Gombong. Berdasarkan status, Karst Gombong sudah ditetapkan sebagai Kawasan benatang Alam Karst Gombong berdasar Kepmen ESDM 3873K/40/MEM/2014 dengan luas 40,98 km2. Namun demikian, penetapan KBAK Gombong tidak menjamin dan tidak memperhatikan perlindungan terhadap ekosistem esensial karst sebagai penyangga kehidupan di sekitar kawasan karst. Beberapa mata air dan gua yang penting tidak termasuk dalam KBAK Gombong sehingga tidak ada jaminan kelangsungan karst Gombong.

Rencana pendirian pabrik semen dan penambangan batu gamping mengancam keberadaan mata air yang sangat penting untuk masyarakat seperti Banyumudal dan Kali Sirah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, menunjukan sistem sungai bawah tanah dari Gua Pucung ke Gua Candi dan berakhir di Kali Sirah mengalir di dalam kawasan IUP PT. Semen Gembong. Meskipun mulut Gua Pucung berada di luar IUP namun sungai bawah tanah berada di luar KBAK Gombong yang semestinya dimasukkan dalam kawasan lindung geologi sesuai dengan kriteria Permen ESDM 17/2012 dan tidak dimanfaatkan untuk kawasan pertambangan.

 

Sumber :  http://caves.or.id/arsip/2244

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*