lawalataipb/ February 21, 2016/ Kasepuhan Adat Ciptagelar/ 0 comments

Pertunjukan Wayang Golek yang dipertampilkan dalam upacara syukuran tanam padi terakhir di Kasepuhan Ciptagelar

Pertunjukan Wayang Golek yang dipertampilkan dalam upacara syukuran tanam padi terakhir di Kasepuhan Ciptagelar – Gambar oleh M. Taufik Wahab (L-189)

Kasepuhan Ciptagelar memiliki beragam kesenian yang ditampilkan dalam setiap perayaan syukur. Rasa syukur atas potong padi, makan padi pertama, hingga panen padi dipersembahkan melalui pertunjukan seni. Pertunjukan seni biasanya diadakan setiap bulan saat bulan purnama dengan ujud tertentu seperti penanaman hingga panen padi. Sebelum pertunjukan, acara dimulai dengan syukuran terlebih dahulu. Pada malam itu, ujud rasa syukurnya ada tutup nyambut padi.

Kesenian yang pertama adalah wayang. Di panggung depan Imah Gede wayang dimainkan dengan diiringi oleh beberapa gamelan. Selanjutnya adalah jipeng dan topeng yang saat itu tidak dipertunjukkan karena sedang pemainnya sedang berada di luar daerah. Ada lagi ronggeng bersamaan dengan angklung, oge dangdut, dan gamar. Kesenian gamar yaitu setara dengan pemutaran film dengan layar terbuka (layar tancap).

Wayang yang dipertunjukkan saat ini adalah wayang golek. Kondisi wayangnya baik dan hiasan-hiasan mulai diperbarui dan siap dipertunjukkan. Cerita wayang berkisah tentang “Narayana Ngadep Raja”.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memainkan wayang. Pertama adalah ada sekitar 120 buah wayang yang harus dimainkan oleh dalang. Setiap lakon memiliki suara yang berbeda. Dalang harus mampu membentuk 120 suara untuk setiap wayang. Yang kedua adalah posisi wayang. Lakon wayang yang unggul (memiliki posisi tinggi) berada di tangan kanan dalang, sedangkan yang memiliki posisi rendah ada di sebelah kiri. Selanjutnya adalah pembawaan. Seorang dalang biasanya sudah mengetahui alur cerita, dan memainkan wayang dengan ditambah dengan improvisasi pribadi. Yang terakhir adalah pertunjukan wayang selalu diiringi dengan musik gamelan.

Ada beberapa larangan dalam memainkan wayang. Alat kesenian (wayang, angklung, gamelan) tidak boleh dibawakan oleh oranglain tanpa seizin orang yang dipercayai oleh Abah secara turun temurun untuk memainkan peran itu. Di Ciptagelar yang berhak memainkan semua alat kesenian adalah dipegang oleh satu keluarga secara turun-temurun. Jika ada orang lain yang ingin melakukannya, orang tersebut harus izin ke salah satu keturunannya. Kedua, alat-alat kesenian dilarang dimainkan di waktu yang tidak tepat atau tidak pada waktu ada pertunjukan. Pelanggaran tersebut bersifat pamali.

Beata LYLA/AM

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*