lawalataipb/ March 3, 2016/ Catatan Kajian/ 1 comments

Menilik masa lalu untuk inspirasi masa depan

Jelas sekali saya ingat hutan-hutan yang disana berhiaskan hiau abadi, beribu bunga yang harumnya tak pernah pudar. Telinga batin saya mendengar desir angin laut menerpa rumpun pisang dan puncak-puncak nyiur. Saya rasakan gemuruh air terun tercurah dari ketinggian di jantung negeri itu, seakan-akan saya sedang menghirup udara pagi yang sejuk. Seakan-akan saya sedang beralan-jalan di depan rumah-rumah orang Jawa yang ramah, ketika keusnyian berat masih menghuni hutan-hutan primer sekeliling saya. Tinggi di udara di atas saya sekelompok kalong mengepakan sayap terbang pulang ketempat kediaman siang hari mereka. Perlahan-lahan kehidupan dan gerak mulai terjaga dalam kanopi hutan. Burung merak berteriak nyaring, kera melanjutkan permainan mereka yang penuh gerak dan mengawali gema pegunungan dengan seruan pagi mereka, beribu burung mulai berkicau. Dan bahkan sebelum matahari mewarnai ufuk timur, puncak gunung yang megah nun jauh di sana telah berpendar dalam warna keemasan dan nila, dari ketinggiannya bagaikan menatap saya seperti seorang kawan lama. Rasa rindu saya menggumpal dan dengan penuh damba saya nantikan datangnya hari saat saya dapat kembali berkata : Salam bagimu, wahai gunung-gunung! Junghun 1851

 

Menurut keterangan C. G. G. J. van Steenis, eksplorasi flora di Jawa dimulai pada abad ke 17 tepatnya tahun 1777, seorang pecinta alam sekaligus dokter ahli bedah bernama Carl Behr Thunberg berkelana Jawa khususnya di pegunungan dan gunung-gunung di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat (Stenis 1972). Terlepas dari apapun tujuan Carl Thunberg sebenarnya, Steenis menyebutkan bahwa kegiatan yang dilakukan oleh Carl Behr Thunberg merupakan kegiatan utusan dari Eropa guna mengumpulkan data flora yang ada di Jawa.

Masih ada puluhan ahli Botani Eropa yang berdatangan ke Jawa untuk mengeksplorasi flora pegununungan setelah Carl Behr Thunberg hingga abad ke 19, seperti Caspar Georg Carl Reinwardt yang berkontribusi dalam pendirian Kebun Raya Bogor (sekarang Lembaga Biologi Nasional), Henrich Kuhl dan Coenraad van Hasselt yang mengeksplorasi flora pegunungan khusus wilayah Jawa Barat dan nama mereka diabadikan dalam salah satu marga anggrek yakni Kuhlhasseltia, Carl Ludwig Blume yang menyumbang pertelaahan tentang vegetasi pegunungan Jawa dan merupakan penyempurna dari pertelaahan botanis sebelumnya hingga waktu yang sangat lama, Franz Wilhelm Junghuhn yang berkontribusi dalam pertelaan fisiognomi vegetasi dengan lanskapnya sekaligus membuat zonasi hutan menurut ketinggiannya (Stenis 1972). Dan masih banyak lagi ahli botani dari penjuru dunia lainnya.

Jika ditilik dari kondisi iklim yang sangat berbeda dengan kondisi iklim di Eropa, tentunya membawa konsekuensi hambatan tersendiri bagi para ahli botanis Eropa, bahkan tak sedikit yang meninggal karena kegiatan tersebut. Namun mengapa para ahli botani tersebut masih terus melakukan pendataan? Apapun dari tujuan mereka, secara awam kita bisa mengatakan bahwa potensi flora yang kita miliki mengandung nilai penting bagi orang-orang di Eropa waktu itu.

Tak berhenti di abad 19 saja, sekarang di abad 21 pun Indonesia dan pulau jawa khususnya masih menjadi laboratorium alam yang menarik ilmuan dari segala penjuru dunia. Lalu dimana posisi kita (pemuda pribumi) dalam kegiatan semacam ini ?

Berbagai informasi disiplin ilmu pengetahuan telah mudah untuk diakses, dan telah ada banyak ahli dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang bisa diajak diskusi untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan. Bahan untuk dijadikan obyek eksplorasi pun sudah kita miliki dari awal berkembangnya kehidupan manusia di bumi Nusantara. Tidak lagi berbicara mengenai “kemungkinan” apakah kita bisa menjadi pioneer seperti halnya para ahli botani diatas, namun sudah berbicara mengenai “kaharusan” kita untuk memulai mengenal, memanfaatkan, dan melestarikan apa yang kita.

Penemuan kembali tumbuhan langka.

Sebuah penemuan besar terjadi di tahun 1990, yakni penemuan Rafflesia rochussenii spesies parasit telah diyakini punah di Gunung Salak selama hampir 50 tahun oleh Lawalata IPB. Publikasi terakhir tahun 1941 oleh Van Stenis (http://www.rafflesia.site88.net/). Setelah penemuan tersebut peneliti dari IPB berusaha mencari tumbuhan tersebut namun tidak ditemukan lagi hingga saat ini. Pencarian terakhir dilakukan pada tahun 2011 oleh Lawalata IPB di seluruh jalur pendakian Gunung Salak 1 dan Gunung Salak 2.

Berangkat dari semangat penemuan tumbuhan langka tahun 1990 tersebut, eksplorasi terus dilakukan. Puncaknya terjadi di tahun 2012 dengan ditemukannya spesies Balanophora fungosa ssp. indica Var. globosa oleh Lawalata IPB. Terakhir kali spesies tersebut didokumentasikan oleh Bartel Hansen pada tahun 1972, hampir 40 tahun setelah penemuan terakhir di Gunung Salak.

Balanophora fungosa ssp indica var. globosa

Balanophora fungosa ssp indica var. globosa merupakan spesies dari keluarga Balanophoraceae yang hidup parasit pada jenis-jenis pohon tertentu, dan berhabitat di hutan pegunungan. Spesies ini sangat jarang ditemukan di Gunung Salak. Kembali ditemukan pada tahun 2012 di ketinggian 1880 mdpl di kiri jalur pendakian Gunung Salak 2 dari arah Curug Nangka. Saat itu hanya ditemukan satu tuber ( umbi ) dengan satu bunga yang telah mekar berukuran sekitar 4 cm dan panjang akar sekitar 6 cm.

Tiga tahun kemudian tepatnya pada akhir bulan November 2015 kami melaksanakan perajalanan menuju puncak Gunung Salak 2 sekaligus eksplorasi spesies-spesies Balanophora yang mungkin kami temui di jalur yang sama, yakni jalur pendakian Gunung Salak 2 lewat Curug Nangka, Bogor. Selama perjalanan ke puncak keberadaan Balanophora fungosa ssp indica Var. globosa mulai kami jumpai selepas pos 6, atau sekitar ketinggian 1700 mdpl. Sesuai dengan keterangan Hansen, spesies ini hidup di elevasi 1500-2000 mdpl dan hanya berada di Pulau Jawa.

Perjumpaan yang menggembirakan tersebut terjadi ditengah keputusasaan kami dalam pencarian spesies Balanophora, karena medan jalur pendakian yang sulit dan menguras tenaga sehingga konsentrasi kami terpecah. Namun tiba-tiba salah seorang rekan berteriak dan mengatakan bahwa dia menemukan satu Individu yakni jenis Balanophora fungosa ssp indica Var. Globosa. Inilah perjumpaan pertama kami selama eksplorasi di jalur ini.

Temuan pertama berjarak sekitar 15 menit perjalanan dari pos 6 menuju ke puncak. Posisi spesies tersebut berada di kanan jalur berarak sekitar satu meter dari alur. Jika tidak teliti, bisa jadi kami melewatkannya begitu saja, karena bunga yang terlihat setengah bagiannya tertutup oleh tanah.

Pengamatan terhadap temuan pertama ini segera kami lakukan, setelah tanah di gali, ditemukan ada dua bunga lain yang tumbuh dibawah permukaan tanah, dan ada 12 tunas (calon bunga) yang belum tumbuh. Diameter masing-masing bunga yakni 4,95 cm; 4 cm; 5,5 cm. Sementara diameter akar tempat parasit ini tumbuh yakni 1,6 cm, diameter pohon inang 5,5 cm, jenis pohon inang belum teridentifikasi.

Tidak jauh dari lokasi pertama ditemukan, kami menemukan kembali jenis yang sama dan individu tersebut adalah individu dilokasi yang sama dengan yang ditemukan di tahun 2012 lalu.

Kami belum bisa memastikan apakah individu tersebut sama dengan individu yang ditemukan tiga tahun yang lalu. Tuber Balanophora fungosa ssp indica var. globosa yang kami temukan memiliki dua bunga yang telah mekar, sementara individu yang ditemukan tiga tahun lalu hanya ada satu bunga yang mekar. Kami meyakini lokasi tersebut adalah sama dengan yang tiga tahun lalu karena masih ada tanda yang kami pasang dan masih dalam kondisi baik, tanda tersebut berupa batang pohon kecil (tingkat pertumbuhan tiang) yang disusun membentuk pagar kerucut. Mungkin saja individu yang ditemukan tiga tahun lalu sudah mati dan tumbuh tunas baru lagi dari tuber yang sama.

Balanophora fungosa ssp indica var. globosa yang kami temukan masing-masing berukuran 4,5 dan 5,4 cm. Sementara tiga tahun lalu bunga yang ditemukan berukuran 4 cm, memang masih ada kemungkinan bahwa salah satu bunga merupakan bunga yang sama karena ukurannya yang tidak menyusut, namun jika dilihat dari ukuran bunga yang lain yang beda 0,9 cm sangat kecil kemungkinan adalah bunga yang sama. Karena kalau yang kami temukan adalah bunga yang sama, maka laju pertumbuhan bunga yang baru sangat cepat dan bunga yang lama tidak mengalami pertumbuhan yang signifikan.

Gambar diatas merupakan temuan pertama spesies Balanophora fungosa ssp indica Var. globosa. Dalam frame terlihat bunga yang telah mekar serta kondisi tuber (akar umbi) yang hampir dipenuhi oleh tunas.

Gambar diatas merupakan temuan pertama spesies Balanophora fungosa ssp indica Var. globosa. Dalam frame terlihat bunga yang telah mekar serta kondisi tuber (akar umbi) yang hampir dipenuhi oleh tunas.

Gambar sebelah kanan merupakan Balanophora fungosa ssp indica var. globosa yang ditemukan tahun 2012 terlihat hanya ada satu bunga yang tumbuh. Gambar sebelah kiri merupakan Balanophora fungosa ssp indica var. globosa yang ditemukan dilokasi yang sama, terlihat ada dua bunga yang tumbuh.

Gambar sebelah kanan merupakan Balanophora fungosa ssp indica var. globosa yang ditemukan tahun 2012 terlihat hanya ada satu bunga yang tumbuh. Gambar sebelah kiri merupakan Balanophora fungosa ssp indica var. globosa yang ditemukan dilokasi yang sama, terlihat ada dua bunga yang tumbuh.

Parasit ini ( keluarga Balanophoraceae ) telah dimanfaatkan oleh masyarakat tradisional sejak lama, di China parasit ini disebut She-ghu yang mempunyai khasiat menghentikan pendarahan pada luka luar, di Thailand parasit ini disebut Hoh-ra-tao-su-nak yang berkhasiat untuk mengatasi gangguan pada kulit, di Sunda Jawa Barat parasit ini disebut juga dengan perud, dahulu saat aman susah parasit ini direbus kemudian diambil lilinnya untuk digunakan sebagai penerangan.

Penelitian yang dilakukan oleh China, menemukan bahwa parasit dari marga Balanophoraceae khususnya spesies Balanophora fungosa subs. indica mempunyai kandungan antioksidan yang kuat dan sedang dikembangkan untuk mengatasi kangker, diabetes, beberapa penyakit gangguan hati. Dalam majalah The Malaysian Naturalist edisi bulan Juni 2010 dituliskan Balanophora elongata Blume mempunyai senyawa khusus yang bisa mencegah virus HIV-1.

Pentingnya melakukan eksplorasi dan inventarisasi keanekaragaman hayati

Balanophora bagi kebanyakan orang tidak semenarik Rafflesia spp dengan kelopak bunganya yang indah dan status kelangkaannya, namun pentingnya melakukan eksplorasi dan inventarisasi adalah untuk aset kita dimasa depan. Penelitian lebih lanjut harus tetap dilakukan untuk mengetahui peranannya secara ekologi dan manfaatnya bagi manusia.

Jika ditilik dari letaknya Indonesia memiliki banyak potensi keanekaragaman hayati karena berada di daerah tropis dan keberadaan gunung vulkanis. Tentu hal ini tidak hanya menyimpan keanekaragaman hayati yang tinggi namun juga tantangan dalam segi tingkat kesulitan medan daerah eksplorasi. Segala tantangan yang tersebut harus dihadapi karena potensi keanekaragaman hayati kita sudah menadi incaran banyak bangsa sejak abad 17 bahkan sampai sekarang.

Kalau bukan kita yang mengelola, maka bangsa lain.

 

Bahrul Septian Dwi Cahyo/L 339

1 Comment

  1. sama-sama!! semangat terus mengeksplorasi! salam lestarii

Leave a Reply to lawalataipb Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*