lawalataipb/ March 20, 2016/ Kasepuhan Adat Ciptagelar/ 0 comments

Aki Karma adalah salah seorang baris kolot di Kasepuhan Ciptagelar. Baris kolot adalah sebutan bagi orang dewasa yang memiliki umur lebih dari 60 tahun di Kasepuhan Ciptagelar. Kasepuhan Ciptagelar sendiri adalah sebuah kampung adat yang masih memegang kuat tradisi dikeseluruhan masyarakatnya. Salah satu tradisi disana adalah adat masyarakat dalam bidang pertanian yaitu memfilosofikan bumi sebagai ibu. Ibu, tidak pernah melahirkan anak dua kali dalam satu tahun. Begitu pula mereka tidak akan memanen padi yang tumbuh diatas bumi ibu sebanyak lebih dari satu kali dalam satu tahun. Hal itu juga dipercaya untuk keseimbangan bumi dan lingkungan.

Aki karma memiliki seoran istri dan tiga orang anak. Istri Ki Karma bernama Mamah. Mamah adalah seorang istri sekaligus ibu yang sangat baik bagiku. Hal itu terbukti ketika beliau mau membuka tangan menerima keberadaanku dirumah mereka selama dua hari. Meskipun interaksi kami terkendala bahasa, namun hal itu tidak mengurangi sikap baik beliau terhadapku. Aki karma juga memiliki seorang putra dan dua orang putri. Mereka adalah Kang Idang, Teh Supinah, dan Supanah. Kang Idang dan Teh Supinah sudah memiliki keluarga dan rumah sendiri. Tinggallah Supanah, anak bungsu mereka, yang masih tinggal bersama mereka.

Di Kasepuhan Aki memiliki beberapa tugas. Salah satunya tugas Aki adalah sebagai kepala pengurus pekakas (pusaka) milik Abah. Abah adalah sebutan bagi kepala atau tetua di Kasepuhan Ciptagelar. Aki Karma memiliki sekitar 200 anak buah untuk mengurus pusaka Abah, hal itu dikarenakan Abah memiliki banyak sekali pusaka hingga ratusan jumlahnya. Sebagai kepala, Aki biasanya yang mengurusi segala kegiatan yang berhubungan dengan pusaka. Meskipun tidak turun tangan secara langsung, namun Aki bertanggung jawab dalam hal penjagaan, pemandian, dan penyimpanan pusaka. Pusaka milik Abah ada yang berupa golok, keris, pedang, dan kujang.

Menurut Aki, benda pusaka itu adalah peninggalan dari para leluhur Abah yang dipercaya membawa keselamatan bagi Abah dan seluruh masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar. Proses pemandian pusaka itu sendiri biasanya dilakukan satu kali setiap tahunnya, tepatnya setiap Mulud bulan purnama minggu ke empat belas. Sebelum dan sesudah pemandian pusaka dilakukan acara syukuran. Syukuran sebelum pemandian pusaka biasanya berupa makan nasi tumpeng bersama, dan acara syukuran setelahnya adalah makan bubur. Pada waktu pemandian, setiap anak buah Aki Karma akan memegang satu hingga tiga pusaka milik Abah. Untuk penyimpanannya sendiri sudah disediakan kamar khusus untuk menampung semua pusaka milik Abah.

 

Lestari/AM

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*