lawalataipb/ March 26, 2016/ Kasepuhan Adat Ciptagelar/ 0 comments

Ketika pertama kali sampai di Kasepuhan Ciptagelar hal yang pertama melintas di kepalaku adalah betapa indahnya bentang alam yang terlihat di depan mataku dan betapa menyenangkannya jika aku bisa berlama-lama tinggal disana. Seketika rasa lelah dan pegal langsung menghilang, terbayar dengan pemandangan di depan mata. Rumah-rumah berjejer rapi tanpa meninggalkan kesan sesak, hal itu terasa membingungkan karena melihat banyaknya keluarga yang tinggal disana. Saat itu juga kumantapkan dalam hati, suatu saat nanti akan membangun rumah tinggal di tempat seperti ini, yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan dan terkesan sangat Indonesia.

 

Aku dan ke delapan temanku kemudian ditempatkan di rumah-rumah yang berbeda, untuk mencoba menggali lebih dalam tentang kehidupan masyarakat adat Desa Ciptagelar. Aku mendapat tugas di bidang permasakkan, seharusnya aku dititipkan di rumah Mak Uwok. Mak Uwok adalah orang penting di dapur Ciptagelar. Malam itu Mak Uwok sedang sibuk dan tidak bisa sampai di rumah tepat waktu sehingga aku dititipkan bersama Lestari.

Pagi itu sekitar pukul 7 pagi aku pergi ke rumah Ibu Sukarsah atau yang biasa dipanggil dengan sebutan Mak Uwok. Mak Uwok adalah seorang juru masak di dapur khusus Kasepuhan Ciptagelar. Mak Uwok tinggal berdua dengan suaminya yang bernama Abah Duhot, anak-anak mereka sudah tinggal terpisah dari mereka namun masih menetap di sekitaran Ciptagelar. Mereka berdua memiliki empat orang anak, namun karena suatu musibah dua orang anaknya meninggal dan kini mereka hanya memiliki dua orang anak, satu anak laki-laki yang bernama Kang Sukendi dan satu anak perempuan bernama Teh Turwati.

Meskipun Mak Uwok sudah berusia 64 tahun, ia tetap berdedikasi tinggi kepada Dapur Ciptagelar. Beliau tidak pernah absen meskipun hanya sehari, beliau menjalankan tugasnya dengan sukarela. Mak Uwok memiliki jabatan sebagai Kepala Dapur di Kasepuhan Ciptagelar, selain itu Mak Uwok pernah menjabat sebagai Paraji atau Dukun Beranak. Saat ini Mak Uwok memiliki tugas untuk memasak nasi di dapur khusus. Suatu saat nanti ketika beliau sudah tidak sanggup untuk menjalankan tugasnya lagi, jabatan itu akan diturunkan kepada anak perempuannya, yaitu Teh Turwati. Jabatan turun-menurun itu sudah berlangsung sejak lama dan sudah menjadi tradisi.

Mak Uwok mengajakku terjun langsung ke lapangan atau dapur imah gede lebih tepatnya. Dapur Imah Gede berukuran sangat luas dan sangat tradisional, terlihat dari banyaknya kayu bakar dan tungku kayu yang ada di sekeliling dapur. Ini adalah pertama kalinya aku melihat orang memasak menggunakan tungku kayu. Ini adalah satu dari banyak hal yang membuatku takjub akan ke-orisinal-an Kasepuhan Ciptagelar. Dapur dipenuhi oleh wanita. Kebudayaan disini mengajarkan wanita untuk terjun ke dapur. Ketika anak perempuan beranjak remaja, mereka diarahkan ke dapur. Itu sudah menjadi tradisi yang masih terjaga sampai saat ini.

Pekerjaanku disana sangatlah ringan, hanya mengantarkan makanan atau minuman kepada tamu, serta membantu yang lain di dapur. Tidak banyak yang kuketahui tentang masak-memasak. Namun, ketika merasakan makanan berwarna kuning bernama dodol jagung, aku tahu aku jatuh cinta pada keaslian rasa dodol tersebut. Rasa yang tidak akan pernah aku lupa seumur hidup. Manis, meleleh di mulut dan sangat lezat. Dodol jagung adalah salah satu alasan aku ingin kembali lagi kesana, ke Kasepuhan Ciptagelar.

Mak Uwok sangat sibuk, aku hanya berjumpa dengan beliau 5-10 menit. Mak Uwok bilang ini adalah rutinitas yang biasa dijalani oleh wanita-wanita di dapur. Setiap orang memiliki tugas masing-masing, seperti ada yang bertugas membuat lauk, memasak nasi, menyiapkan bahan makanan, mencuci piring, dan lain-lain. Semua terpetakan dengan baik. Semua mendapat tugas yang setara. Semua orang dapat bekerjasama dan menyiptakan harmoni yang indah.

Banyak hal yang aku dapat disini, salah satunya adalah pentingnya kerjasama dan arti dari keikhlasan. Karena Kasepuhan Ciptagelar tidak akan tetap ada hingga saat ini jika masyarakatnya tidak dapat bekerjasama dan tulus dalam menjalankan tugasnya masing-masing. Banyak hal yang membuatku enggan meninggalkan desa ini terlalu cepat dan aku berharap suatu saat nanti akan bertemu lagi dengan keindahan Kasepuhan ini. See ya, Ciptagelar!

 

 Succi Febriastari /AM

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*