lawalataipb/ June 20, 2016/ Aksi, Berita Utama/ 3 comments

Ciampea – Sabtu, 18 Juni 2016 | Tepat di hari ke-13 Ramadhan 1437 H. Hujan turun di pagi hari dengan derasnya membawa kesejukan. Setiap tetesannya bagai air surga yang diturunkan ke bumi untuk para penunggunya yang kehausan. Aku menengok ke jendela, langit cerah tapi air turun dari atas sana. Kaki sudah tak sabar ingin segera melangkah keluar menyebarkan senyum kebahagiaan untuk khalifah di bumi ini yang sedang bergembira dan ikhlas beribadah kepada Allah SWT. Rasanya ingin ku tembus basahnya di luar, tapi gamang, niatku bukan untuk bermain hujan.

Memasuki pertengahan bulan puasa membuat umat-Nya semakin taat, semakin kokoh niat untuk berpuasa, semakin pula rajin shalat demi menunaikan kewajibannya. Tak terkecuali bagi mereka yang ‘mampu’ untuk berkeinginan untuk menebar kebaikan seperti berbagi kepada mereka (yang lain) yang kurang beruntung. Mereka yang melakukannya dengan penuh kesadaran karena berbagi itu indah. Apalah artinya menjadi kaya, baik secara harta maupun ilmu, jika hanya disimpan sendiri.  

Persiapan untuk bakti sosial di Ciampea dan sekitar kediaman Pak Otang, Jumat 17 Juni 2016. Para dewi beraksi.

Persiapan untuk bakti sosial di Ciampea dan sekitar kediaman Pak Otang, Jumat 17 Juni 2016. Para dewi beraksi.

pembakaran

Asap dari pembakaran kapur yang terletak begitu dengan dengan pemukiman warga

Mentari mulai mengintip malu-malu menyelipkan cahayanya ke celah jendela kamarku di siang hari membawa kehangatan. Kami (anggota Lawalata IPB) bersama-sama mencoba melangkahkan kaki ke sebuah kampung, tepatnya RT 2 RW 2 RW 1 Kampung Mekar Jaya, Kecamatan Ciampea. Di situlah kami seringkali melakukan kegiatan panjat tebing maupun susur gua. Ciampea terkenal dengan bukit karstnya yang menyimpan banyak kekayaan alam. Keragaman biota dan keindahan pemandangan di dalam gua yang ada di bukit kars tersebut, serta tebing yang terlalu seksi, menarik untuk dipanjat. Ciampea secara umum menjadi tempat favorit kami untuk berkegiatan karena letaknya yang dekat dengan kampus dan banyak hal menarik di sana, dengan itu kami merasa berada di kampung sendiri ketika berada di Ciampea. Namun yang paling menakutkan adalah adanya beberapa titik pengeboman pertambangan kapur yang setiap saat dilakukan. Menjadi ancaman keberadaan kekayaan alam yang telah disebutkan tadi. Rasanya setiap saat kami mendengar jeritan biota gua yang merasa terganggu dengan perbuatan manusia itu, pun pohon-pohon yang memohon untuk dilindungi.

Hal yang lebih miris adalah mengetahui bahwa eksploitasi tersebut tidak dilakukan sendiri oleh warga setempat. “Orang dari luar yang menjadi bosnya neng,, kami hanya menjadi buruh lepas yang pendapatannya tak seberapa.”, ucap Pak Herman mantan ketua RT RT 2 RW 2 RW 1 . Maka dari itu sebagian warga RT RT 2 RW 2 RW 1  dapat dikatakan kurang mampu.

Hal tersebut yang mendasari Lawalata IPB sebagai perkumpulan mahasiswa pecinta alam yang sudah merasakan Ciampea menjadi kampung sendiri untuk melakukan bakti sosial di sana. Kegiatan kali ini bertema “Lawalata IPB Berbagi Kasih Ramadhan 1437 H”, dilakukan pada tanggal 18 Juni 2016 tepat di RT RT 2 RW 2 RW 1 . Bakti sosial ini merupakan penyaluran bantuan yang dihimpun dari uluran tangan anggota Lawalata IPB yang terkoordinir dengan baik. Bantuan tersebut berwujud sembako bagi para lansia dan janda, serta uang tunai bagi para yatim piatu. Pemilihan penerima bantuan tersebut dibantu oleh Pak Herman, karena kami rasa beliau mengetahui dengan pasti kondisi warganya siapa yang patut mendapatkan bantuan tersebut. Karena beliau telah menjabat sebagai ketua RT sebanyak 5 periode. Dari kurang lebih 130 Kepala Keluarga di RT tersebut, dipilih sejumlah 15 lansia, 9 janda, serta 8 yatim piatu yang dirasa membutuhkan bantuan.

Hari masih cerah, mentari semakin menghangatkan badan kami. Setelah berbincang sedikit dengan Pak Herman, kami langsung memulai pembagian sembako ke rumah-rumah yang sudah ditentukan. Kami dibantu

Salah seorang penerima bingkisan kami, bahagianya melihat orang lain bahagia.

Salah seorang penerima bingkisan kami, bahagianya melihat orang lain bahagia.

oleh Pak Herman yang bersedia mengantarkan kami ke satu persatu ke rumah calon penerima. Secara bergantian anggota Lawalata IPB yang ikut dalam kegiatan ini membagikan paket yang telah disiapkan. Selain membagikan, anggota yang berkontribusi juga dibagi untuk melakukan pendataan penerima, dokumentasi, dan pembawa paket. Kami menelusuri RT RT 2 RW 2 RW 1  melewati bebatuan, tanah merah yang licin di pinggiran sungai, dan menyebrangi sungai dengan jembatan bambu seadanya yang telah dibuat warga. Sejauh kaki melangkah, mata kami disuguhi pemadangan karst yang terhampar, indah namun mengkhawatirkan. Karena selain indah, pandangan kami juga dihiasi oleh kepulan asap hitam yang berasal dari tungku-tungku raksasa pembakar kapur dalam proses produksinya. Kami membayangkan begitu sulitnya kami jika harus hidup menetap di sana. Mungkin kami akan keluar masuk rumah sakit karena ISPA maupun gangguan kulit. Tapi mereka begitu kuat, terbiasa dengan kondisi yang sewajarnya tidak demikian.

Satu per satu paket sampai di tangan mereka yang layak mendapatkannya. Beberapa penerima kami temui di kediamannya sedang beristirahat di rumah menunggu adzan Maghrib tiba untuk berbuka bersama dengan keluarga. Beberapa sedang bersih-bersih demi mendapatkan kenyamanan dalam rumahnya. Sedangkan sebagian besar penerima (yatim piatu) sedang bermain dengan teman sebayanya. Kami lega melihat senyum mereka yang begitu ikhlas. Itulah kasih yang benar ingin kami bagikan kepada mereka. Membuat kami semakin bersyukur atas jalan hidup kami saat ini. Bukan kami rindu pujian dan ucapan terimakasih dari mereka, kami hanya sedang melakukan yoga untuk ketenangan jiwa, membuat kami merasa sedikit menjadi manusia bermanfaat di saat yang tepat, yaitu bulan Ramadhan.

Tapos – Minggu, 19 Juni 2016 | Kegiatan ini belum berakhir sampai disini. Esok harinya, Minggu 19 Juni 2016, kami kembali melangkahkan kaki ke daerah yang kami sering sebut Tapos. Siang itu, saat cuaca masih sama mendukung seperti hari sebelumnya. Kami merapat ke tempat bermain kami yang lainnya. Tapos, lokasi ini sering kami gunakan untuk camping, pendidikan, praktik survival, ataupun mengawali perjalanan kami menuju puncak Gn. Salak.

Tepatnya kami menuju ke kediaman Bapak Otang. Pak Otang adalah Anggota Kehormatan LAWALATA IPB. Beliau tinggal di daerah kaki Gunung Salak, dan beliau telah menemani kami berkegiatan di daerah Gn. Salak. Begitu banyaknya jasa Pak Otang dan keluarga untuk LAWALATA IPB, beliaupun akhirnya diangkat menjadi Anggota Kehormatan L-IPB. Siang itu, kami rindu sekali untuk bersilahturahmi dengan beliau, terutama Anggota Luar Biasa kita yang telah lama tidak bersua dengannya.

Kami dan keluarga Pak Otang di halaman depan kediaman beliau.

Kami dan keluarga Pak Otang di halaman depan kediaman beliau.

Senja mulai turun, langit sore ikut tersenyum menampakkan jingganya pada seluruh mahkluk di bumi ini. Saat itulah kegiatan selesai, kami tutup dengan berdoa agar kegiatan yang telah terselenggara dapat menjadi nilai tambahan bagi kami semua. Kegiatan “Lawalata IPB Berbagi Kasih Ramadhan 1437 H” selesai sudah. Namun bukan berarti kita selesai juga untuk berbagi kebaikan. Semoga di Bulan yang penuh berkah ini kembali mempererat tali silaturahmi diantara kami. Semoga kasih yang kami bagikan dapat menular kepada kalian juga.

Salam

Venyong /L-356 dan S.K /L-355

3 Comments

  1. Semoga kegiatan seperti ini dapat berlanjut untuk kedepannya. LAWALATA Jaya!!!

    1. terimakasih kakaa, senang juga kakak-kakak ALB masih aktif berkontribusi di LAWALATA. Sukses selalu kak uni

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*