lawalataipb/ June 21, 2016/ Berita Utama, Ekspedisi Lawalata/ 0 comments

Caves Expedition of Indonesia

Caves Expedition of Indonesia

Tahun ini LAWALATA IPB kembali hadir dengan ekspedisi caving atau penelusuran gua yang menjadi Program Kerja dari Kepengurusan L-IPB tahun 2015-2016.

Ekspedisi ini berjudul Caves Expedition of Indonesia dengan tajuk “Menelusuri potensi kekayaan gua-gua di Indonesia sebagai langkah awal mempopulerkan Scientific Adventure”. 

Ekspedisi ini akan mengambil tempat di dua lokasi, yaitu Karst Gombong Selatan, Jawa Tengah dan Kepulauan Aru, Maluku. Kedua lokasi ini dipilih karena keduanya memiliki keunikan dan hal-hal menariknya masing-masing.

Karst Gombong Selatan kini sedang ramai diperbincangkan. Awalnya Karst Gombong direncanakan akan berdiri pabrik semen PT. Semen Gombong. Berdasarkan status, Karst Gombong sudah ditetapkan sebagai Kawasan benatang Alam Karst Gombong berdasar Kepmen ESDM 3873K/40/MEM/2014 dengan luas 40,98 km2. Namun demikian, penetapan KBAK Gombong tidak menjamin dan tidak memperhatikan perlindungan terhadap ekosistem esensial karst sebagai penyangga kehidupan di sekitar kawasan karst. Beberapa mata air dan gua yang penting tidak termasuk dalam KBAK Gombong sehingga tidak ada jaminan kelangsungan karst Gombong.

Rencana pendirian pabrik semen dan penambangan batu gamping mengancam keberadaan mata air yang sangat penting untuk masyarakat seperti Banyumudal dan Kali Sirah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, menunjukan sistem sungai bawah tanah dari Gua Pucung ke Gua Candi dan berakhir di Kali Sirah mengalir di dalam kawasan IUP PT. Semen Gembong. Meskipun mulut Gua Pucung berada di luar IUP namun sungai bawah tanah berada di luar KBAK Gombong yang semestinya dimasukkan dalam kawasan lindung geologi sesuai dengan kriteria Permen ESDM 17/2012 dan tidak dimanfaatkan untuk kawasan pertambangan. (Sumber: caves.or.id )

Nilai penting yang dimiliki oleh Karst Gombong Selatan ini membuat LAWALATA IPB, sebagai salah satu penggiat caving di Indonesia ingin ikut terlibat dalam penyelamatnnya. Ekspedisi ini diharapkan dapat memberikan informasi lebih banyak mengenai pentingnya kawasan ini.

Kepulauan Aru atau yang juga disebut JARGARIA oleh masyarakat lokal adalah daratan ekologi papua yang secara administrasi berada di Provinsi Maluku. Wilayah ini terdiri dari 187 pulau-pulau kecil dengan lima pulau yang relatif lebih besar yaitu Trangan, Kobror, Wokam, Maikor, dan Kola. Berdasarkan UU No. 27 tahun 2007, hanya satu pulau yaitu Pulau Trangan dengan luas 2300 km persegi yang termasuk dalam katerogi pulau besar, sisanya dikategorikan sebagai pulau-pulau kecil.

Kepulauan Aru bukanlah satu hamparan daratan utuh seperti halnya terlihat dalam peta. Faktanya wilayah tersebut terdiri dari pulau-pulau kecil yang dipisahkan oleh ratusan selat-selat kecil. Selat-selat kecil ini yang banyak disalahtafsirkan sebagai sungai, sehingga penataan ruang di wilayah tersebut mengabaikan kelestarian bentang geografis pulau.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Australian Univeristy menyebutkan bahwa hanya sebagian kecil dari Kepulauan Aru yang merupakan bentang alam karst. Kenyataannya, berdasarkan peta sebaran batu gamping di Provinsi Maluku, lebih dari 80% Kepulauan Aru adalah bentang alam karst.

Daratan Kepulauan Aru terbentuk dan muncul kepermukaan dari batuan karst berusia ribuan atau bahkan jutaan tahun lalu. 83% daratan di Kepulauan Aru masih merupakan hutan alam sebagai wilayah eksokarst. Hutan ini menjadi habitat bagi burung cendrawasih (bird of paradise) yang dikenal karena kecantikan dan keindahan tariannya. Burung ini banyak dijumpai di tanah Papua, namun faktanya dapat ditemukan di Kepulauan Aru.

Kepulauan Aru menyimpan bukti-bukti kehidupan peninggalan masa lampau. Benda-benda peninggalan prasejarah, masa kerajaan, dan masa peperangan dapat ditemukan di Kepulauan ini. Hal lain yang menarik ialah nilai-nilai kearifan yang masih dijaga masyarakat dalam mengelola sumberdaya alam. Kearifan lokal masyarakat Aru dalam menjaga hutan tercermin dari terjaganya kelestarian hutan disana.

Kepulauan Aru memiliki banyak potensi lainnya yang menunggu untuk dieksplorasi. Semakin banyak kita mengetahui fakta-fakta mengenai Kepulauan Aru, semakin kita mengetahui pentingnya melindungi dan menjaga kelestariannya. Salah satunya adalah memetakan potensi yang dimiliki oleh Kepulauan Aru, khususnya memetakan potensi karst.

Belum banyak individu, LSM, lembaga penelitian, ataupun universitas yang sudah melakukan penelitian atau program di Kepulauan Aru.

Tidak adanya peneliti muda yang pernah melakukan ekspedisi khususnya terkait ekosistem endokarst membuat LAWALATA IPB menjadi peneliti muda pertama yang akan mengeksplorasi keindahan bawah tanah di Kepulauan Aru.

Hal ini juga menjadi penting karena tidak adanya informasi yang mampu menceritakan kondisi ekosistem endokarst di wilayah kepulauan tersebut.

Baca fakta menarik tentang Kepulauan Aru disini.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*