Up-Grading Kelompok Minat Caving LAWALATA IPB

lawalataipb/ March 20, 2017/ Berita Utama, Cerita Anggota, Desa Ciampea, Kelompok Minat, Lain lain/ 0 comments

Pemandangan dari Bukit roti beberapa saat sebelum matahari terbit

Akhir pekan lalu (5/03/17), Lawalata IPB melakukan beberapa kegiatan untuk meng-upgrade kemampuan kelompok minat masing-masing anggota. Salah satu diantaranya kegiatan arung jeram merupakan pengenalan kelompok minat Tirta Lawalata IPB kepada Anggota muda. Kegiatan lainnya berupa pendalaman masing-masing divisi kelompok minat seperti Penelusuran gua (Caving) dan panjat tebing (Climbing).

Kegiatan penelusuran gua (caving) dilakukan oleh 5 anggota Lawalata IPB di gua Sitilu dan Sipanjang, karst Ciampea, Bogor. Gua Sitilu dan Sipanjang merupakan gua dengan lorong vertikal. Pemilihan lokasi didasari atas substansi materi yang akan dipraktekan kali ini yaitu Rigging (Membuat lintasan di gua vertikal) dan Speleofotografi. Sehingga diharapkan, setelah mengikuti kegiatan ini, Anggota Lawalata IPB memahami kemampuan tersebut.

Kegiatan caving terbagi menjadi beberapa tahap yaitu persiapan, kegiatan dan pasca kegiatan. Sebelum terjun ke lapangan, Tim melakukan beberapa persiapan. Dimulai dari persiapan materi, alat dan makanan. Alat yang disiapkan meliputi peralatan penelusuran gua vertikal, peralatan dokumentasi dan peralatan camp. Peralatan penelusuran gua vertikal diantaranya ialah coverall (baju werpak), sepatu boots, helmet, headlamp, tali kernmantel, seat harness, chest harness, webbing serta logam-logam seperti carabiner, croll, mailon rapid, ascender, descender dan lain-lain untuk melakukan rigging. Sedangkan, Peralatan dokumentasi yang disiapkan meliputi kamera DSLR, tripod, flash eksternal. Semua peralatan dikelompokan kemudian di packing. Setelah semua persiapan terpenuhi, Tim melanjutkan untuk berangkat ke lapangan.

Perjalanan menuju lokasi dimulai pukul 02.00 WIB minggu pagi dari sekretariat menuju bukit kapur/ karst Ciampea. Mempertimbangkan setelah sampai disana tim dapat berisitrahat terlebih dahulu. Tim berangkat menggunakan sepeda motor, karena jarak antara kampus dengan Bukit Kapur hanya ditempuh sekitar 15 menit. Setibannya di lokasi, tim harus berjalan sekitar 15 menit untuk sampai puncak bukit Kapur. Bukit kapur adalah lokasi yang akan tim pakai untuk beristirahat. Pemandangan yang cukup indah dari atas bukit kapur, menyuguhkan kelap-kelip lampu kota bogor terlihat begitu jelas karena langit sedang cerah.

Sekitar pukul 07.00 WIB tim baru mulai berjalan menuju gua Sitilu. Dalam perjalanan tim sering melihat monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Karst Ciampea merupakan habitat monyet ekor panjang. Keberadaannya dianggap unik, karena ekosistem bukit kapur Ciampea berupa bukit tunggal yang sekitarnya tidak ada dataran yang tinggi lainnya.

Pemasangan Anchor (Tambatan)

Gua Sitilu dalam bahasa Indonesia berarti tiga, nama tersebut diberi karena gua Sitilu memiliki tiga mulut gua. Perjalanan menuju gua sitilu melewati beberapa mulut gua seperti gua Sigajah, Sipanjang, dan Siwulung. Sampai di mulut gua, tim mempersiapkan alat untuk melakukan rigging dan memasang shelter. Pemasangan anchor/tambatan pertama dilakukan oleh Aziz dan Rendra. Dalam membuat lintasan (Rigging) dan pemasangan tambatan (anchor), ada beberapa poin yang perlu diperhatikan. seperti :

  1. Aman
  2. Bisa dilewati oleh semua anggota tim
  3. Tidak merusak peralatan
  4. Siap digunakan untuk emergence

Kemudian dalam menentukan tambatan atau lintasan gua vertikal perlu memperhatikan :

  1. Observasi mulut gua untuk menentukan lintasan yang akan dibuat
  2. Rigging man (orang yang membuat lintasan) harus sudah siap dengan semua alat yang dibutuhkan untuk membuat lintasan dan selalu melakukan body check.
  3. Setelah ditentukan lintasan yang akan dibuat, kemudian bersihkan lokasinya.
  4. Pembuatan anchor mempertimbangkan kondisi mulut gua. 

Rigging di Gua Situlu

Gua Sitilu merupakan gua yang memiliki karakteristik mulut gua vertikal dann multi pitch. Kedalaman gua sekitar 20 meter. Tinggi pitch pertama sekitar 15 m kemudian terdapat lorong horizontal sekitar 10 meter dan pitch selanjutnya dengan kedalaman 5 meter. Gua Sitilu memiliki 3 mulut gua. Pancaran sinar mata hari yang menembus mulut gua, menghasilkan pemandangan yang indah. tidak banyak ornamen yang ditemukan di gua Sitilu, seperti stalaktit, stalakmit gourdam, dan bacon.

Gambar 1. Peta gua Sitilu (Grade 1A BCRA). Dok. L

Pemasangan lintasan pada gua Sitilu dilakukan menggunakan teknik intermediate. Intermediate adalah teknik membuat anchor tambahan pada titik yang menyebabkan friksi atau titik lain yang lebih tinggi yang menjauhi titik friksi. Mempertimbangkan atas karakteristik mulut gua yang berbentuk sumur dan terdapat slove yang akan membuat friksi tali. Anchor dibuat dari tambatan alami yaitu menggunakan batang pohon yang tumbuh di sekitar mulut gua. Terdapat 2 anchor yang berfungsi sebagai back up atau pengaman tambahan.

Gambar 2. Ilustrasi lintasan intermediate di gua Sitilu. Dok L

Belajar Speleophotography

Speleophotography merupakan seni dalam fotografi yang dilakukan di dalam gua. Tujuannya mendokumentasikan/ menggambarkan kondisi gua menggunakan kamera. Praktek speleophotography dilakukan di gua Sipanjang. Gua Sipanjang merupakan gua dengan karakteristik campuran antara lorong vertikal dengan horizontal. Pemilihan gua Sipanjang sebagai tempat praktek adalah lorong dan ornamennya yang beragam.

Teknik yang dipraktekan dalam pengambilan gambar di gua menggunakan single dan double flash. teknik single flash mendokumentasikan bentukan gua menggunakan satu cahaya. Cahaya tersebut dapat di setting tergantung keinginan Fotografer seperti dari samping kiri/kanan, depan dan backlight. Sedangkan teknik double flash mendokumentasikan gua menggunakan lebih dari satu flash. memungkinkan Fotografer untuk mendokumentasikan banyak sudut cahaya yang akan diambil.

Pengambilan foto didalam ini gua dibantu oleh flashman (orang yang menyalakan cahaya flash) dan model. Membutuhkan setting kamera dan peralatan foto yang memadai. Idealnya membutuhkan tripod supaya mendapatkan hasil yang maksimal. Tim bergantian dalam pengambil gambar, flashman, maupun model. Dengan begitu setidaknya Tim dapat mengerti sedikit demi sedikit dalam mengambil gambar di gua.

Kegiatan caving selesai pukul 16.00 WIB. Tim memilih makan terlebih dahulu sebelum packing dan pulang. Pasca kegiatan yang akan dilakukan adalah membersihkan alat sampai kembali rapih dan membuat luaran seperti halnya tulisan ini. Meskipun lelah, berkegiatan di Lawalata itu seru, menantang adrenalin, banyak belajar hal baru dan memiliki teman jalan yang asyik.

Hasil Foto dalam Gua

Authored by Dina S Saifuddin/L-364

Co-authored by Aziz Fardhani Jaya/L-352

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*