FINISH DI DEPAN MATA, NAMUN MENANG MASIH TERTUNDA.

lawalataipb/ March 29, 2017/ Catatan Perjalanan, Cerita Anggota/ 2 comments

Bagi penggiat kegiatan alam, orienteering bukanlah sesuatu hal yang baru lagi. Kegiatan yang mengandalkan kekuatan fisik dan mental ini memang sudah mulai dikenal secara umum di Indonesia. Tapi mungkin masih banyak di antara orang awam yang masih belum begitu paham dan ingin mengenal orienteering lebih jauh.

Merbabu National Orienteering Championship (MNOC) merupakan lomba yang digalang oleh Taman Nasional Gunung Merbabu, lomba dimulai pada hari sabtu (25/03/2017),  bertempat di jalur pendakian Thekelan di Kopeng, Salatiga. Setelah melakukan persiapan – persiapan mulai dari jogging keliling IPB, Try Out di Gunung Kapur Ciampea, dan briefing persiapan sebelum lomba akhirnya tim terbagi menjadi dua, ada yang berangkat terlebih dahulu pada Jumat (24/03/2017) pukul 13.00 WIB untuk mengejar Technical Meeting lomba pada sabtu sore besok dan Tim yang berikutnya berangkat pada pukul 19.00 WIB.

Sabtu (25/03/2017) pukul 21.00 tim berkumpul di titik pertemuan yaitu di Pasar Sapi, kita sepakat untuk menginap langsung di Dusun Thekelan agar besok pagi mudah melakukan mobilisasi dan persiapan lomba. Keesokan harinya dinginya dusun Thekelan membangunkan kita dari tidur, tak lama setelah bangun kita dihampiri oleh panitia yang mengatakan bahwa lomba akan dimulai pada jam 6.30 pagi dan peserta akan dikumpulkan didepan basecamp pendakian dusun Thekelan, tak pikir panjang tim langsung bangun, sarapan dan mempersiapkan peralatan seperti Kompas Sylva, Alat Tulis, Protaktor.

Peserta Lomba MNOC berkumpul didepan Basecamp, Dusun Thekelan

Setelah melakukan persiapan tim langsung berangkat menuju base camp untuk mobilisasi ke lokasi lomba dan melakukan apel pagi. Apel pagi dilakukan untuk membuka secara resmi perlombaan MNOC ini. Namun cuaca tak bersahabat, hujan dan angin yang besar membuat apel pagi ini tidak sesuai rencana, banyak peserta apel yang akhirnya lari ketempat teduh karena merasa kedinginan tak tahan akan angin dan hujan yang kencang. Akhirnya apel dipercepat dan peserta berhamburan lari ketempat teduh yang dekat dengan lapangan apel. Sampai pukul 09.00 cuaca tak kunjung mereda, terdengar kabar bahwa waktu Start lomba akan diundur dan diganti lokasi menjadi di dusun Thekelan. Rupanya benar saja pukul 09.10 peserta dimobilisasi oleh panitia kembali ke dusun Thekelan. Setelah pukul 09.30 cuaca baru membaik namun hujan belum sepenuhnya reda.

Pada kali ini LAWALATA IPB mengirimkan delegasi sebanyak tiga tim yang semuanya kategori UMUM PUTRA, tim pertama ada saya sendiri ( Fikrunnia Adi ) dan Syavin, tim berikutnya ada Raycel dan Ridwan, tim terakhir ada anggota muda yaitu Ahmad Juang dan Iqbal. Kita semua terbagi di kloter yang sama yaitu kloter 4 yang melakukan start pada pukul 9.45 WIB. Sesuai pada tehnical meeting peta dibagikan 3 menit sebelum lomba. Setelah bel tanda dimulai langkah pertama yang saya dan syavin lakukan adalah Resection dan mengatur strategi ketitik mana terlebih dahulu kita pergi. Lomba orienteering pada kali ini bukan dari ketepatan urutan yang kita ambil, namun jumlah point yang kita dapatkan pada tiap pos. tiap pos memiliki jumlah point yang berbeda tergantung dari kesulitan medan yang dilalui untuk sampai ke pos tersebut.

Delegasi Lawalata IPB (Ki-Ka) Raycel-Syavin-Iqbal-Adi-Juang-Ridwan

Saya dan Syavin memutuskan untuk mengambil titik-titik dengan medan yang sulit terlebih dahulu, hal ini kita ambil karena mempertimbangkan fisik yang masih prima. Namun medan dilapangan berkata lain, perbedaan ketinggian yang hampir 700 mdpl setiap pos mengurungkan niat kami untuk mengambil pos point terbanyak tersebut. Setelah hampir 25 menit hanya berlari lari tak mendapatkan point, tim memutuskan untuk memutar arah menuju pos yang kearah kebawah yaitu Pos 8, setelah dari pos 8 tim lancar dalam melakukan pengambilan point dari tiap-tiap pos. Saya juga merasakan perbedaan dengan kelompok lain yaitu jalur yang kita ambil adalah cukup ideal karna dari atas kebawah yang menandakan kontur yang kita lalui adalah menurun, saya melihat banyak kelompok yang malah terjebak oleh dekatnya pos dengan start dan membuat mereka berlari dari bawah keatas dengan kontur yang menanjak.

Strategi dalam menentukan pos mana yang akan diambil adalah kunci penting dalam lomba MNOC ini, selain itu skill membaca peta dan memproyeksikan medan sebenarnya juga tak kalah penting. Setelah hampir 3,5 jam saya dan syavin berlari kami hanya mampu mengumpulkan 13 titik pos yang kalau dikalkulasikan kedalam jumlah point adalah 2025. 30 menit terakhir adalah penentuan bahwa kita akan finish lalu juara atau tidak. Setelah berunding selama 30 detik saya dan syavin memutuskan untuk segera ke finish saja dan mengambil point di pos 20, dan finish dengan catatan waktu kurang dari 4 jam dan mengumpulkan point sejumlah 2075.

Namun terlalu terburu-buru sehingga kami pun melakukan kesalahan fatal pada 30 menit terakhir, salah memilih jalur membuat kami salah arah dan terpaut jauh dengan finish. Kami baru menyadari setelah hampir 20 menit berjalan namun desa yang kita tuju tak terlihat juga, setelah sampai desa baru kita menyadari bahwa jalur yang kita ambil adalah jalur yang salah dan hampir terpaut 4km jauhnya dari garis finish. Saya sangat menyesali hal tersebut dan memaksa Syavin agar terus berlari mengejar waktu yang tinggal 10 menit melewati jarak 4km dengan jalur yang menanjak. Namun tuhan tak mengizinkan kami rupanya, syavin terjatuh dan mengaku kaki dia sangat keram dan tak bisa melanjutkan perjalanan. Kondisi yang sangat dilema kemudian saya alami, dengan ambisi saya memaksa syavin untuk terus berlari namun kondisi dia sangat kesakitan dan benar benar tidak bisa melanjutkan perjalanan, terbesit dalam pikiran saya untuk menggendongnya dan saya langsung lakukan namun usaha itu sia sia. Akhirnya kita duduk bersama dipinggir jalan mengenang 3,5 jam berlari tanpa melakukan kesalahan dan pada akhirnya setelah hampir finish kita melakukan kesalahan yang membuat kacaunya strategi yang sudah dibangun.

Ibarat tim sepak bola, kemenangan bersama adalah tujuan utama.

Rasa kecewa yang mendalam setelah kita melihat hasil akhir tim saya dan syavin berada pada tim yang Didiskualifikasi, dan tim yang juara berhasil finish diurutan posisi 3 pointnya adalah 2025, andaikan kesalahan tersebut tidak terjadi mungkin kami sudah berhasil membawa piala itu kesekretariat LAWALATA IPB. Namun pengalaman ini mengajarkan saya arti dari sebuah kerja sama dalam tim. Ibarat tim sepak bola, kemenangan bersama adalah tujuan utama.

Fikrunnia Adi P/L-371

2 Comments

  1. Pengalaman yang luar biasa. Kegagalan merupakan suatu kemenangan yang tertunda, jadi semangat terus tim lawalata, kedepan semakin jaya.
    Saya mahasiswa dr agb 52, waktu saya SMA saya selalu ikut kegiatan orienteering, sewaktu saya sudah kuliah saya mencari tim orienteering tidak pernah dapat. Alhamdulillah saya baca cerita dr lawalata ternyata aktif ikut orienteering. Selama ini saya selalu cari2 info lomba orienteering, namun ujungnya selalu tidak bisa krna beberapa kendala seperti waktu atau tim yg kurang krna hanya saya sendiri. Kedepan jika ada lomba2 orienteering seperti ini bolehkah saya join?
    Saya memamng bukanlah anggota lawalata, namun pada kegiatan orienteering saya sangat berminat berdasarkan dr pengalaman yg saya dapatkan. Saya juga pernah menjuarai di peringkat 1 orienteering di UNS 2014, dan peringkat 4 di BIG ISOC UGM 2014.
    Terimakasih.
    Salam O.

    1. Wah boleh sekali. Silakan main ke sekret lawalata dan latihan orienteering bareng. Kamu tunggu loh 🙂

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*