Ada Hal Menarik di Kampung Ciwaluh : Apakah itu?

lawalataipb/ April 25, 2017/ Cerita Anggota, Opini/ 1 comments

Foto Tim pada saat perjalanan menuju kampung (Dok. Lawalata IPB, 2017)

Tidak hanya kegiatan bersifat petualangan alam bebas seperti Mendaki Gunung (Hiking), Arung Jeram (Rafting), Panjat Tebing (Climbing) dan penelusuran Gua (Caving). Sabtu, 11 Maret 2017, Pecinta Alam Lawalata IPB melakukan kajian sosial dan ekonomi masyarakat yang termasuk dalam divisi Manusia dan Lingkungan.

Kepedulian terhadap sesama manusia dan lingkungan seyogianya menjadi bagian dari aktivitas seorang pecinta alam. Soe Hok Gie seorang Pecinta Alam dalam buku berjudul Catatan Seorang Demonstran pernah menyatakan bahwa “…Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hiprokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat…”

Tim menginap satu malam dalam kegiatan ‘living in’ dengan masyarakat di Kampung Ciwaluh, Desa Wates Jaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor. Ciwaluh merupakan kampung yang berada paling ujung terletak di kaki bukit Gunung Gede Pangrango. Jalur masuk menuju Ciwaluh melalui kawasan resort Lido dan Sekolah Polisi Negara (SPN) terletak di perbatasan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi.

Ruang lingkup kajian meliputi potensi hasil alam, kondisi sosial (pendidikan dan kesehatan masyarakat) dan potensi konflik yang ada di masyarakat. Tim menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang terangkum menjadi panduan wawancara dan kuisioner. Temuan lapangan menjadi dasar kajian selanjutnya yang lebih mendalam.

Metode pengambilan responden dilakukan secara acak (random sampeling) dengan syarat responden adalah orang yang berdomisili di Ciwaluh. Teknik yang digunakan yaitu observasi lapangan dan wawancara dengan kuisioner. Selain kuisioner, setiap orang dalam tim mencari satu tema yang menarik sesuai observasinya di lapangan dan menuliskannya dalam bentuk penulisan populer.

Sosial dan Ekonomi Ciwaluh

Hamparan sawah, bukit-bukit hijau, dan air sungai yang jernih merupakan tanda masih terawat keasrian alam Ciwaluh. Sungai yang jernih ini dijadikan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Menurut profil Desa Wates Jaya (2014), mayoritas mata pencaharian penduduk Desa Wates Jaya adalah petani (74.21%) dan buruh indutri (11.89%).

Kampung yang diapit oleh 2 gunung (Gede Pangrango dan Salak) ini memiliki obyek wisata alam yang menarik diantaranya Bumi Perkemahan dan Air Terjun Ciawitali, Air Terjun Cisadane, dan Air Terjun Cikaweni.

Kelompok Tali Bambu adalah kelompok yang berisikan pemuda kampung Ciwaluh yang bertugas mengelola air terjun Ciawitali. Nama Tali Bambu diambil dari Ciawitali yang artinya sumber air dari serapan pohon bambu dan bisa digunakan untuk apa saja. Pengelolaan air terjun ini mencakup tiket masuk, keamanan parkir, dan fasilitas pendukung wisata. Ismat, anggota Kelompok Tali Bambu menyampaikan “Hasil dari penerimaan tiket masuk dan parkir, diberikan merata kepada para pekerja dan sisanya masuk ke dalam kas kampung.”

Selain padi, Ciwaluh menghasilkan produk perkebunan, yang utama adalah tanaman kumis kucing dan kapulaga. Kumis kucing bermanfaat mengobati kencing manis, rematik, asam urat dan dapat dijadikan minuman sehari-hari. Sedangkan kapulaga berkhasiat menghangatkan tubuh, dijadikan minyak angin, atau dicampur dalam masakan untuk membuat hangat tubuh.

Budidaya kumis kucing dan kapulaga dilakukan oleh masyarakat Ciwaluh. Namun, setelah panen, masyarakat mengumpulkan hasil kumis kucing dan kapulaga kering ke penadah. Setelah itu penadah menjualnya ke perusahaan untuk diolah. Masyarakat tidak mampu mengolah kumis kucing kering menjadi sebuat produk karena alat yang kurang memadai.

Aspek pendidikan, masih banyak anak-anak Ciwaluh yang putus sekolah. Hasil survei dari 32 responden menunjukan sebanyak 31% masyarakat hanya tamat SD, 19% tamat SMP, 19% tamat SMA, 6% tamat SMK dan 25% belum sekolah. Penyebab putus sekolah diantaranya karena masalah biaya dan akses sekolah yang jauh. Menurut Risma (17), hanya sedikit dari teman-teman sekolahnya yang mendapatkan bantuan pendidikan dari Pemerintah. Proses pengajuan bantuan dipersulit, ada juga yang telah mengajukan namun tak kunjung datang. Bahkan terjadi dana yang diterima oleh masyarakat tidak sesuai dengan yang dijanjikan.

Terkait kesehatan masayarakat, jarak rumah sakit dari Ciwaluh cukup jauh. Meskipun ada Posyandu dan Puskesmas, hal ini tidak membantu masyarakat bila kondisi darurat. Masyarakat yang kurang mampu mendapatkan bantuan BPJS dari pemerintah, namun belum bisa dimanfaatkan. Amas (45) mengatakan ”Manfaat biaya gratis BPJS hanya diperoleh bila pasien dirawat inap, sedangkan untuk berobat saya masih harus mengeluarkan biaya pribadi.”

Tim sedang disebar ke rumah warga untuk melakukan kegiatan ‘living in’ (Dok. Lawalata IPB, 2017)

Potensi Konflik Masyarakat Ciwaluh

Ciwaluh berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Batas wilayah Taman Nasional dan perkampungan masyarakat belum jelas sehingga menimbulkan potensi konflik antara pihak Taman Nasional dengan masyarakat Ciwaluh. Menurut Jaja mantan ketua RT Ciwaluh “Lahan di Ciwaluh adalah pemberian dari tentara yang dibantu oleh masyarakat ketika bersembunyi di dalam hutan, namun pemberian lahan tersebut hanya secara lisan jadi tidak ada bukti konkrit yang dapat menguatkan bahwa lahan tersebut milik masyarakat”.

Selain itu, Ciwaluh juga berbatasan dengan kawasan Lido Resort yang akan membuat Disney Land. Proyek ini diprakarsai oleh Media Nusantara Citra Grup, bekerjasama dengan beberapa pihak diantaranya presiden Amerika terpilih Donald Trump. Namun rencana proyek seluas 2.000 hektar (terbesar di Asia) ini menimbulkan polemik yaitu potensi konflik lahan dengan masyarakat Ciwaluh.

“Dulunya tanah Lido itu punya keluarga Pak Harto, lalu dibeli oleh Bakrie, yang sekarang milik MNC. Kabar mau bangun disney land itu baru sekarang-sekarang aja” ujar Ncep (35) masyarakat Ciwaluh. Sekarang ini, mereka memperluas wilayah proyek tersebut dengan membeli lahan masyarakat.

Banyak petani Ciwaluh yang terpaksa menjual sawah dan ladangnya ke pihak MNC karena faktor desakan ekonomi. “Jadi bila ada masyarakat yang mau jual sawahnya, nanti ada ‘orang dalam’ yang memberi tahu pihak MNC, lalu pihak MNC datang ke sini melihat dan mengukur luas sawah” tambah Ncep. Harga tanah di Ciwaluh relatif murah, senilai Rp100.000 per meter. Untuk menandai kepemilikan, pihak MNC meletakan plang di lahan tersebut.

Berdasarkan hasil temuan lapangan ini, tim merefleksikan sesungguhnya banyak potensi sumber daya alam yang dapat menjadi penghidupan masyarakat Ciwaluh. Agar hasil lebih maksimal dibutuhkan pendampingan kepada masyarakat dalam pengelolaannya. Namun, potensi konflik yang ada dapat menjadi permasalahan serius yang merugikan masyarakat pada waktu mendatang. Maka dibutuhkan kajian mendalam lebih lanjut dengan melibatkan pemangku kepentingan untuk menjawab permasalahan ini.

Foto Tim tiba di Kampung Ciwaluh (Dok. Lawalata IPB, 2017)

Keindahan panorama Kampung Ciwaluh. Terlihat hamparan Pohon Pinus yang sudah berstatus lahan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango mengapit kampung (Dok. Lawalata IPB, 2017)

Keindahan panorama Kampung Ciwaluh. Terlihat hamparan Pohon Pinus yang sudah berstatus lahan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango mengapit kampung (Dok. Lawalata IPB, 2017)

Ahmad Juang Setiawan / AM  

1 Comment

  1. I have noticed you don’t monetize your website, don’t waste your traffic, you can earn additional cash every
    month because you’ve got hi quality content.
    If you want to know how to make extra money, search for:
    Mrdalekjd methods for $$$

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*