Gie dan Pudarnya Semangat Pembebasan

lawalataipb/ September 25, 2017/ Uncategorized/ 0 comments

“Hanya ada dua pilihan: menjadi apatis atau mengikuti arus. Tapi, aku memilih untuk jadi manusia merdeka.” -Soe Hok Gie

Bisa jadi mahasiswa saat ini tidak begitu mengenal sosok Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa era 1960-an yang menjadi salah satu tokoh gerakan mahasiswa dan salah satu pendiri organisasi pecinta alam di salah satu kampus terkemuka di Indonesia. Padahal, Gie (begitu ia biasa dipanggil) telah mengambil peran kunci dalam gerakan kepecinta-alaman di tanah air sebagai sebuah gerakan pembebasan, baik pembebasan jiwa kreativitas-kritis mahasiswa maupun pembebasan manusia atas penindasan manusia lainnya.

Keberadaan “kampus” (Perguruan Tinggi) di mata Gie merupakan sebuah wadah dimana kesadaran intelektual mahasiswa dibangun, idealisme dan cita-cita luhur dipupuk agar tumbuh subur guna meneruskan cita-cita perjuangan kebangsaan. Namun ketika Gie masuk menjadi mahasiswa, ia menemukan suasana tidak sehat dimana kampus menjadi ruang pertempuran kekuasaan antara organisasi-organisasi ekstra-kampus (GMNI, CGMI, HMI, PMKRI, GMKI, dan lain sebagainya) yang hampir semuanya merupakan afiliasi dari partai politik yang ada saat itu. Gerakan mahasiswa tidak menyentuh persoalan mendasar rakyat karena hanya berkutat pada perebutan kursi Senat Mahasiswa (semacam BEM pada saat ini) dan posisi kekuasaan lain semacamnya. Padahal, krisis moneter dan krisis politik yang melanda negeri di masa itu telah melahirkan situasi yang membuat rakyat Indonesia menderita.

Hal ini kemudian membuat mahasiswa terpecah-belah, saling mencurigai satu sama lain karena terkotak-kotak dalam ruang-ruang kepentingan dan terjebak politik identitas. Di tengah situasi semacam ini, Gie dan teman-temannya menggagas berdirinya sebuah organisasi pecinta alam dimana ia bisa menyalurkan hobinya mendaki gunung dan menikmati kehidupan di alam bebas. Selain itu, dengan kegiatan mendaki bersama dalam suasana canda ria dan kebersamaan di lapang dapat mempererat pertemanan dan rasa persaudaraan antar mahasiswa yang saat itu mulai terkikis. Bahkan lebih dari itu, ia bisa memberikan ruang pembebasan dari situasi kampus yang saat itu justru mereproduksi belenggu-belenggu yang berpotensi mengkerdilkan jiwa kritis mahasiswa.

“… bidang seorang sarjana adalah berpikir dan mencipta yang baru. Mereka harus bisa bebas di segala arus-arus masyarakat yang kacau, tetapi mereka tidak bisa lepas dari fungsi sosialnya, yakni bertindak demi tanggung jawab sosialnya apabila keadaan telah mendesak. Kaum intelegensia yang terus berdiam di dalam keadaan yang mendesak telah melunturkan semua kemanusiaannya.” -Soe Hok Gie

Gerakan pembebasan yang dilakukan Gie dan kawan-kawan melalui organisasi pecinta alam tidak hanya menyentuh di dalam kampus. Melalui ekspedisi-ekspedisi pendakian yang dilakukan, organisasi tersebut telah menjelma menjadi media untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air yang rasional melalui pengalaman empiris bertemu dengan rakyat Indonesia di pedesaan, lengkap dengan permasalahan yang dihadapinya.

“Kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”-Soe Hok Gie

Bagi Gie dan kawan-kawan, mendaki dan bergiat di alam bebas bukanlah bertujuan untuk unjuk kekuatan atau simbol “kegagahan”, melainkan sebagai sarana untuk mengasah hati nurani, rasa kemanusiaan dan mempertajam rasa empati terhadap sesama. Seorang mahasiswa bisa jadi benarbenar diuji kedalaman jiwa kritis dan kepekaan sosialnya ketika berada di alam bebas, menjumpai beragam hal-hal baru yang menjadi realitas kehidupan.

Namun, lambat laun semangat yang digagas oleh Gie saat ini nampaknya mulai memudar. Ketika beragam kegiatan olahraga maupun rekreasi alam bebas mulai bermunculan dan menjadi trend generasi saat ini, justru pada saat yang bersamaan kepekaan sosial dan nurani kemanusiaan semakin hilang. Mulai dari pendakian yang lebih berorientasi “kegagahan” melalui selfie/wefie, hingga pengabaian ruang hidup masyarakat dan perusakan alam demi memfasilitasi libido rekreasi alam (misal: pembangunan hotel /villa yang merusak sistem tata-air, jalur pendakian yang merusak habitat, dlsb). Kegiatan alam bebas bukan lagi sebuah sarana untuk memupuk nasionalisme dan patriotisme, tetapi sebaliknya justru menjadi sarana penindasan baru bagi manusia dan alam.

Lawalata-IPB dan gerakan scientific adventure

“Mengapa harus bergabung dengan Lawalata-IPB?”

Tentu pertanyaan ini menjadi dasar pemikiran segenap kawan-kawan yang hadir saat ini, jika saja memang kawan-kawan memiliki dasar pemikiran yang rasional. Penulis katakan, tidak ada sebuah “keharusan” dalam mengambil sebuah ruang pilihan. Apapun pilihan yang diambil, bukan karena sebuah keterpaksaan melainkan karena sebuah pertimbangan rasional atas kebebasan berpikir. Dengan demikian, apapun pilihannya akan dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan kedewasaan bersikap.

Lawalata-IPB didirikan pada tanggal 21 September 1974 yang diprakarsai oleh Suryo Adiwibowo dan kawan-kawan. Organisasi ini merupakan “wadah bagi mahasiswa IPB dan alumni Lawalata untuk tidak sendirian dalam mengekspresikan jiwa yang bebas merdeka, alamiah, spontan, dan jujur, yang selalu bertindak mengikuti nurani serta terus menerus mencari jalan untuk mengalahkan diri sendiri dengan prinsip tidak akan menyakiti alam beserta isinya serta berusaha mempertahankan perbedaan karakter tiap anggota dengan menyadari bahwa setiap makhluk hidup memiliki keunikan” (Lawalata-IPB).

Tidak berbeda dengan organisasi pecinta alam yang digagas oleh Gie, Lawalata-IPB mengemban semangat “pembebasan” dengan karakter scientific melalui kegiatan adventural yang berbasis ilmu pengetahuan (scientific adventure). Semangat pembebasan ini dapat dilihat dari peran anggota Lawalata-IPB dalam dinamika kemahasiswaan di dalam kampus. Pada saat rezim militer orde baru berkuasa dengan otoritariannya memaksa mahasiswa “berdiam di kandang” dan dibatasi ruang geraknya. Suryo Adiwibowo dan kawan-kawan turut menginisiasi gerakan pembebasan di kampus ketika puncak represif aparat di kisaran 1974. Setelah lulus dari kampus pun, anggota-anggota Lawalata tetap mengemban nilai-nilai dan kepribadian sebagai agent of freedom (agen pembebasan). Pasca reformasi 98’ banyak dari anggota Lawalata menginisasi gerakan pembebasan dalam bingkai isu “lingkungan” guna membongkar permasalahan kerusakan lingkungan dan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh rezim orde baru, berikut dengan upaya-upaya perbaikannya. Bahkan hingga saat ini, gerakan-gerakan itu masih berjalan dan terus mewarnai perjuangan “pembebasan” di tanah air.

“Selalu ada orang-orang terbaik di bumi ini, yang berjuang dengan dedikasi tinggi, komitmen yang luar biasa, tulus, tetap semangat, berani berkorban dan tak kenal lelah merintis perjalanan yang terjal dan sulit” – Dwi Rahmad Muhtaman/ L-154

Oleh karenanya, jika kemudian memilih untuk bergabung dengan Lawalata-IPB tentunya harus diikuti dengan sebuah komitmen dan tanggung jawab untuk mengemban tugas sebagai agen “pembebasan”, dengan karakter scientific adventure yang didasari oleh nilai-nilai luhur dan dedikasi tinggi, serta komitmen yang kuat untuk menghadapi segala tantangan.

Bergas Chahyo Baskoro/ L-289

***

Pustaka Acuan

Gie, SH. 1983. Catatan Seorang Demonstran. Jakarta: Pustaka Penerbit LP3ES.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*