Selamat jalan kawan ku, guru ku, Arbi Valentinus

lawalataipb/ October 2, 2017/ Cerita Anggota/ 0 comments

  • Arbi Valentinus

Dia yang selalu ramah menyapa. Rasional dalam berpikir dan bertindak. Sambil tertawa mengajak kita untuk melakukan sebuah analisa yang mendalam. Selalu bersemangat dalam melakukan segala hal. Tetap optimis dan berpandangan positif dalam menilai sesuatu.

Dia-lah yang mengajarkan saya untuk berani mengangkat kasus-kasus kejahatan kehutanan. Ia turun langsung melakukan investigasi illegal loging antara tahun 1999 s.d sekitar tahun 2008. Mengajarkan bagaimana pentingnya sebuah audio visual dari lapangan sebagai bukti yang tak terbantahkan dalam mengungkap sebuah kasus kejahatan lingkungan. Namanya menjadi viral di para mafia kayu ketika ia memutuskan menjadi juru kampanye sekaligus menjadi juru bicara dalam membongkar penyelundupan kayu log merbau dari hasil illegal loging di Papua awal tahun 2005. Bagaimana puluhan ribu meter kubik ini keluar dari Papua hingga ke Tiongkok. Presiden SBY kala itu langsung membuat rapat terbatas atas laporan investigasi tersebut dan mengeluarkan Instruksi Presiden untuk perang terhadap illegal loging.

Bahkan ketika melakukan investigasi bagaimana kayu-kayu Indonesia yang masuk ke Malaysia sempat diketahui oleh petugas di Malaysia dan ditangkap. Semua peralatan investigasinya disita. Pernah seseorang menyampaikan “Kok dia beda sekali ya. Orang keturunan Tiongkok bisa menjadi aktivis dan pejuang lingkungan. Beda dari kebanyakan orang-orang seperti dia. Apalagi dia dari Medan. Mereka banyak memilih jadi pengusaha atau pedagang”. Justru dengan kepandaiannya dalam berbahasa mandarin dan bahasa inggris ia bisa membongkar kejahatan kehutanan skala internasional.

Walau sangat sibuk, ia akan selalu mengusahakan hadir untuk kumpul dan nongkrong dengan para sahabat seperjuangan. Walaupun kadang saat itu hanya bertemu dengan juniornya. Tetap mau berbagi informasi dan pengalaman. Kesetiakawanannya tidak perlu diragukan!

Lima belas tahun ternyata tidak terasa dilewati. Awal-awal mengenalmu, kau masih suka bawa sepeda dan membonceng anak laki-lakimu di bangku balita yang dipasang di antara stang dan batangan sepeda. Sangat suka mengikuti kemajuan teknologi. Mengikuti trend laptop dan handphone keluaran terbaru. Urusan gadget pastinya tidak pernah ketinggalan. Tentunya kau membeli dan mencoba barang-barang tersebut. Pernah saya tanya yang lama dikemanain?. “Ada di rumah. Pengen nyobain yang ini” jawabmu enteng.

Hari ini, untuk terakhir kalinya saya menatap wajahmu. Tadi pagi pukul 06.25 di hari Kesaktian Pancasila kau meninggalkan kehidupan di dunia ini. Mendapat kabar duka itu, saya langsung menemuimu di rumah sakit tempatmu dirawat beberapa hari terakhir. Wajahmu sudah kaku dan dingin. Dengan gemetar saya mencoba memegang wajahmu yang sudah tertutup kain kafan. Memori disaat bersamamu kembali berputar. Tak kuasa menahan air mata agar tidak tumpah. Saya ingin menemanimu keluar dari kamar jenazah hingga ke tempat peristirahatan terakhirmu.

Kini kau sudah beristirahat dengan tenang dan damai. Walaupun saya yakin kau pasti masih risau dengan masih maraknya orang-orang yang merusak alam dan hutan Indonesia hanya untuk kepentingan sesaat.

Selamat jalan guruku Arbi Valentinus. Banyak hal yang saya pelajari darimu. Kau mendobrak daya pikir standar saya. Tidak pernah puas dengan jawaban seadanya dan minimal. Harus mampu membuat argumentasi yang kuat. Karena dari sanalah sebuah kebijakan itu bisa dirubah.

Pojok Sukadamai, 1 Oktober 2017

Oleh Een Irawan Putra

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*