lawalataipb/ April 20, 2018/ Catatan Perjalanan, Cerita Anggota, Kelompok Minat/ 0 comments

Panggilan dari gunung turun ke lembah-lembah
Kenapa nadamu murung langkah kaki gelisah
Matamu separuh katup lihat kolam seperti danau
Kau bawa persoalan cerita duka melulu
(Panggilan dari Gunung, Iwan Fals)

Keinginan untuk bisa mendaki gunung di Jawa Tengah akhirnya terlaksana juga. Gunung Sumbing terkenal sekali dengan mitos-mitos menyeramkan, dan merupakan salah satu gunung tertinggi ketiga di Pulau Jawa. Gunung Sumbing sering dipahami sebagai salah satu gunung kembar, saudara kembar dari Gunung Sindoro. Gunung Sumbing terletak di empat kabupaten Temanggung- Wonosobo-Purworejo-Magelang. Salah satu daya tarik dari gunung ini adalah keindahan kawahnya dan puncaknya yang banyak, yaitu puncak Buntu, Kaliangkrik (Sejati), Kawah, dan puncak tertingginya adalah puncak Rajawali.

Untuk menuju puncak Gunung Sumbing sebenarnya terdapat banyak pilihan jalur, yakni Garung, Cepit, Bawongso, Mangli Kaliangkrik, Butuh Kaliangkrik, Lamuk, Sipetung dan yang terbaru adalah Banaran Temanggung. Gunung ini memiliki tantangan dan kesulitan tersendiri karena setiap jalur memiliki ciri khas masing-masing. Hal tersebut yang menjadikan pendakian ini menjadi lebih menantang.

Awal Pendakian

Pendakian dimulai pada tanggal Jumat (13/04/2018). Jalur yang dilalui adalah Banaran Temanggung. Alasan tim memilih jalur ini adalah karena jalur yang baru diresmikan pada Agustus 2016 lalu masih terbilang baru, selain itu belum banyak literatur tentang karakteristik jalur pendakian ini. Setelah melakukan berbagai persiapan seperti manajemen perjalanan dan membuat beberapa rencana, tim akhirnya berangkat pukul 21.30 dari Basecamp Sumbing East Route. Sebelum melakukan perjalanan, ada suatu daya tarik yang membuat kami berdecak kagum yaitu sikap ramah para penduduk yang luar biasa. Keramahan itu juga didukung dengan suguhan segelas teh panas saat datang di base camp dan segelas teh panas saat turun gunung. Oleh karena itu, saya berani menyimpulkan bahwa jalur ini merupakan jalur ter-ramah versi saya. Awal pendakian tim menargetkan untuk sampai di pos 4 agar keesokan harinya bisa langsung melakukan perjalanan menuju puncak Sumbing. Namun kenyataan di lapangan berkata lain, penerangan yang sudah disiapkan tidak bekerja dengan baik sehingga menghambat tim dalam pendakian. Akhirnya tim memutuskan untuk mendirikan camp di pos air (sebelum pos 1), karena pertimbangan fisik dan penerangan yang sangat mengecewakan.

Keesokan harinya tim terbangun oleh terik matahari yang menembus tenda, kami sepakat untuk melanjutkan pendakian setelah makan pagi. Pada akhirnya tim melanjutkan pendakian pada pukul 08.00 pagi dengan target sebelum pukul 14.00 siang sampai di pos 4, dan apabila tidak mencapai target maka tim memutuskan untuk membatalkan rencana pendakian menuju puncak gunung Sumbing. Pendakian dimulai, vegetasi yang terlihat dominan pohon kecil hutan tropis dengan kerapatan yang lumayan tinggi, ditambah kebun di kanan kiri yang dibuat oleh warga. Pendakian menuju pos 4 tidak terdapat kendala sehingga tim dapat sampai di pos 4 pada pukul 14.00, sesuai rencana yang membuat kami memutuskan untuk beristirahat pada hari ini juga seusai makan siang.

Puas istirahat seharian, akhirnya tim melakukan briefing teknis pada Sabtu malam (14/04/2018) untuk memutuskan waktu perjalanan ke puncak esok harinya. Setelah melalui berbagai pertimbangan, diputuskan bahwa Minggu (15/04/2018) pukul 06.00 pagi tim berangkat menuju puncak dengan membawa sedikit snack dan air 3 liter. Pendakian menuju puncak pun dimulai keesokan paginya. Karena stok air habis, tim menyempatkan diri menuju mata air yang tidak jauh dari pos 4. Medan yang curam dan terjal membuat tim berjibaku membantu sama lain untuk melewati bukit-bukit menuju Segara Banjaran. Setelah sampai di jalur, terlihat jelas keindahan sabana Sumbing yang tiada duanya. Medan di kawasan ini cukup terbuka. Pada saat itu yang terpikir oleh saya adalah bagaimana jika terjadi badai sewaktu-waktu, sangat menyeramkan.

Keindahan Sabana

Untungnya cuaca saat itu sedang cerah. Mata selalu dimanjakan oleh keindahan barisan menghijau. Hamparan tebing berpadu dengan hijaunya sabana yang teramat luas. Amazing. Waktu tempuh untuk menuju sabana kawah Sumbing, dari pos 4 menuju pos Segara Banjaran sekitar 1,5-2 jam. Setelah tiba di Segara Banjaran, kami cukup lama menghabiskan waktu untuk menikmati pemandangan.

Berjalan di Sabana Segara Banjaran

Menulis di Segara Banjaran

Ada imajinasi yang muncul ketika diri berada dalam suasana alam yang baru, sebuah fantasi tentang zaman purbakala. Menurut informasi yang didapatkan tim, dari Segara Banjaran kami bisa menuju 3 puncak sekaligus. Ke kiri menuju puncak Sejati, ke kanan menuju puncak Buntu Garung, lurus menuju puncak tertinggi Rajawali. Setelah cukup menikmati imajinasi yang lahir dari suasana yang fantastis ini, kami meneruskan langkah. Kami langsung menuju kawah, dan beristirahat sebelum melakukan perjalanan sesungguhnya yaitu menuju puncak Rajawali. Kami memilih puncak Rajawali karena puncak inilah puncak tertinggi di gunung Sumbing. Hampir kurang lebih kami 30 menit istirahat, setelah dirasa cukup kami memutuskan untuk melanjutkan ke puncak. Jalur yang kami lalui cukup terjal, karena menuju puncak Rajawali tim harus melewati pinggir tebing yang hanya cukup untuk satu orang dan harus bergantian melewatinya. Tidak ada pengaman di pinggir jalur, yang ada hanya akar-akar pohon yang dijadikan pegangan saat melewati jalur tersebut. Dibutuhkan waktu sekitar 30 menit dari kawah menuju puncak Rajawali. Untuk beberapa saat, kami menikmati keindahan alam dari puncak Rajawali ini. Sungguh kami bersyukur atas kesempatan bisa menikmati keindahan karya Tuhan dari ketinggian tertinggi di Gunung Sumbing.

Keindahan Sabana Sumbing

Tepat pukul 10.30 kami turun dari puncak. Sepanjang perjalanan kami disuguhi keindahan alam dengan segala dinamikanya. Kadang kabut turun begitu pekat sampai kami tidak dapat melihat apapun. Setelah kabut menghilang, kami dihadapkan pada bentangan padang rumput menghijau. Hingga tepat pukul 12.30, kami tiba di tenda. Sebelumnya kami sempatkan makan siang dan packing untuk perjalanan turun.

Setiap peristiwa pasti menorehkan makna. Melalui setapak Sumbing via Banaran, kami, khususnya hidup saya beserta saudara angkatan saya semakin dikuatkan dalam mengikatkan hati. Melalui perjalanan, kami semakin dibuka untuk semakin mengerti diri kami masing-masing, sehingga pada akhirnya, kami makin bisa saling menerima, memberi, dan mengisi. Semoga dengan petualangan ini, rasa persaudaraan kami makin kokoh menyatu untuk saling menggiring hidup dan mengisi rangkaian kehidupan perkuliahan yang penuh suka cita, penuh kegembiraan dan kebahagiaan. Terima kasih Sumbing, terima kasih untuk siapapun yang kami jumpai, terima kasih Tuhan atas segala berkat perlindungan-Mu. Semoga kami bisa mengulang petualangan seperti ini lagi. Amin.

Tulisan oleh: Fikrunnia Adi Prasojo (L-371)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*