lawalataipb/ December 31, 2018/ Cerita MPCA/ 0 comments

Pada hari Sabtu, 17 November 2018. Kami anggota MPCA berkumpul di Sekretariat Lawalata IPB pada jam 08.00 WIB.  Setelah kami berkumpul kami langsung naik ke PKM untuk penyampaian materi PPGD yang disampaikan oleh kak Sukro yang memiliki fungsi untuk meningkatkan peluang hidup sesorang yang terlibat dalam kecelakaan. Beliau banyak memberikan materi mengenai PPGD ini, mulai dari Primary Survey, CPR, Secondary Survey, dan pembidaian. Primary Survey merupakan hal pertama yang harus dilakukan saat melakukan PPGD karena dari Primary Survey kita dapat mengetahui kondisi korban seperti nadi dan napasnya, jika saat diperiksa kita tidak bisa merasakan nadi dan napasnya maka kita dapat melakukan tahap pertolongan selanjutnya yakni CPR. CPR dilakukan dalam lima siklus, dimana satu siklus terdiri dari tiga puluh hitungan dan dua napas bantuan. Untuk Secondary Survey ini dilakukan untuk mengetahui kondisi tubuh korban secara fisik apakah terdapat luka, memar, atau luka terbuka. Materi dihentikan sementara sekitar pukul 11.45 WIB untuk ISOMA dan dilanjutkan kembali pukul 13.00 WIB, kemudian beliau melanjutkan memberikan materi mengenai pembidaian.

Lalu kami melakukan praktek PPGD ini yang dibagi menjadi dua kelompok dengan permasalahan yang berbeda-beda. Setelah itu pemeriksaan PJM dan ini merupakan hal pertama mendapat seri sedikit dari PJM yang hanya sepuluh seri saja. Sekitar pukul 18.10 WIB kami berangkat ke Gunung Salak dengan rute perjalanan yaitu dari IPB belok kiri, pertigaan Caringin belok kanan masuk ke daerah Ciherang tembus di Cibinong, Ciomas kemudian dari wilayah tersebut masih lurus terus ke daerah Ciapus, masuk Ciapus ada pertigaan belok ke kanan lalu lurus dan bertemu SD Taman Sari 3. Dari situ, kamipun turun dari angkot dan melanjutkan perjalanan menuju puncak ke daerah sekitaran pendopo. Setelah itu kami disuruh membuat bivak dan melakukan ISHOMA setelah ISHOMA kami dibawa keatas. Sayangnya, 2 teman kami Sinchan dan Deby terkena sakit sehingga tidak mengikuti acara malam itu. Setelah itu kami mau istirahat, namun ternyata bivak kami di tempat yang salah sehingga kami disuruh BPCA untuk memindahkan bivak. Setelah bivak kami pindah berhasil lah kami untuk istirahat.

Pukul 5 pagi, kami sudah bangun untuk masak, merapihkan bivak, dan tas. Untuk makan pagi tersedia makanan berupa nasi, sayur sawi, tempe, dan otak-otak. Pukul 7 pagi kami telah bersiap untuk berkumpul dan berolahraga. Kami juga menciptakan lagu angkatan yang berjudul “Si Ungu”, kami menyanyikannya dan menarikannya. Kemudian, kami sharing dengan kakak anggota luar biasa Lawalata. Beliau menyemangati kita agar terus bertahan di Lawalata, karena hidup kalian tidak akan sia-sia. Dilanjutkan dengan praktik lapang lagi yang dibagi menjadi lima kelompok. Untuk kelompok saya terdiri dari Jugul, Kentang, dan Arkan. Sementara yang menjadi korban adalah Arkan. Kejadiannya si Arkan ini sedang lari-lari, lalu terjatuh yang menyebabkan lututnya terkilir dan pelipisnya sobek. Setelah itu kami menanganinya dengan materi yang telah disampaikan. Setelah melakukan praktik, kami mengevaluasi secara bersama-sama apa yang masih harus diperbaiki. Lalu kami diberi waktu untuk ISOMA dan dilanjutkan kembali dengan praktik secara bersama bukan kelompok. Ditunjuk sebanyak tujuh orang untuk menjadi korban dari bencana tanah longsor dengan kondisi korban terdiri dari sikunya mengalami lebam, kaki mati rasa, asma, lebam pada bagian kaki dan kepala mengalami luka robek, shock berat, betis tertusuk, serta tulang punggung dan tulang leher patah dan jantung tertusuk. Dalam praktik pertama kami gagal dalam menangani korban, kemudian diberi kesempatan lagi untuk menangani korban dan berhasil walaupun terdapat satu orang yang tidak tertolong.

Sore harinya kami diintruksikan untuk turun ke bawah menuju sungai kecil, disana kami membayar seri yang masih tersisa dan berdiskusi mengenai teman kami yang ingin keluar dan memilih ketua anggota yang baru. Lalu kami diintruksikan kembali untuk menuju ke atas untuk sholat dan berganti pakaian. Kami juga diberi tahu sedikit mengenai tanaman yang dapat digunakan untuk bertahan hidup di hutan. Setelah waktu di rasa cukup, ketua pun laporan dan akhirnya kami pulang. Sebelum masuk ke dalam mobil masing-masing kami membagi ubi, susu, roti, dan gula merah untuk dimakan di mobil sebagai penghangat dan ganjalan perut setelah lapang pada hari itu. Selama perjalanan pulang kami tidak bisa mengetahui rute yang dilalui, kami bingung karena dari Pak Supirnya saja bingung harus lewat mana dan juga karena kami merasa lelah, kamipun tidur semua di dalam mobil. Sesampainya di Sekret, ada evaluasi dari kegitan pada hari itu, masih banyak yang harus kami perbaiki dan tingkatkan untuk lapangan berikutnya. Dan kami diperbolehkan untuk pulang ke asrama.

Ditulis oleh: Anggraini Fauziyyah

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*