lawalataipb/ December 31, 2018/ Cerita MPCA/ 0 comments

Pada hari Jumat, 7 Desember 2018 pukul 7 malam, MPCA berkumpul di depan Sekretariat Lawalata untuk memulai praktik lapang yaitu survival kota. Setelah berkumpul kami semua ke PKM untuk memeriksa PJM yang dibawa. Setelah itu, kami berkumpul disuruh melaksanakan tugas kami yaitu membuat tempat materi di depan sekret dan membuat api. Disana kami cerita tentang survival kota yang disampaikan anggota lawalata. Setelah itu, kami membeli makan dan membuat bivak pada pukul 11 malam. Dan kami istirahat untuk mempersiapkan tenaga untuk praktik lapang esoknya.

Sabtu, 8 Desember 2018, pada pukul 2 pagi, MPCA dibangunkan dan berkumpul untuk dibagi kelompok. Saya bersama Oger, Jugul, Deby, OT, Nopan, dan Banyu bersama-sama naik mobil. Kami semua disuruh menutup mata menggunakan syal dan kami pun berkumpul. Lalu kami dibangunkan untuk solat subuh dan lanjut lagi pergi. Kemudian, saya dibangunkan pertama kali dan diturunkan di suatu tempat. Saya disuruh membuka sepatu dan topi lapang dan ditaruh di tas dan tidak dibawa. Kemudian, saya ditinggalkan sendirian. Pertamanya saya bingung tempat ini dimana, lalu saya bertanya ke bapa-bapa kalau disini adalah di Selabintana, Sukabumi dan saya menanyakan untuk ke pusat kota berapa jaraknya, ternyata 6 km jaraknya. Lalu, saya memutuskan mencari sendal terlebih dahulu untuk alas kaki dan akhirnya saya menemukan sendal di rumah warga dan saya meminta izin untuk menggunakannya walau sudah rusak. Akhirnya saya memutuskan untuk berjalan menuju pusat kota. Di perjalanan, saya menemukan minuman ringan tinggal setengah dan saya membawanya untuk energi. Saya juga berusaha mencari uang dengan cara menjaga parkir di minimarket dan mendapat uang 1000. Dan sampailah saya di Alun-alun Sukabumi yang ramai sekali. Saya memutuskan ke Masjid Raya Sukabumi yang deket untuk buang air. Disana saya bertemu OT yang sedang berjualan air mineral dan kami berpisah. Saya kembali ke alun-alun dan saya meminta izin ke tukang parkir untuk membantunya. Saya dikasih uang 16000 dan combro beserta air dari tukang parkir tersebut. Saya kembali lagi ke masjid raya dan saya bertemu dengan Oger, Deby dan Jugul, kemudian OT pun datang. Kami memutuskan untuk patungan modal untuk membeli air mineral dan dijual kembali. Dengan berjualan air tersebut saya mendapat uang sebesar 15000. Setelah zuhur, saya tidur dan bangun kembali setelah ashar dibangunkan satpam. Waktu pukul 4 sore, saya disuruh untuk konfirmasi posisi dan saya meminjam hape satpam tersebut. Sore hari nya, saya berjualan kembali air mineral tersebut hingga isya di sekitar Masjid Raya Sukabumi hingga alun-alun. Saya mendapatkan keuntungan 50.000 dari hasil berjualan itu. Lalu saya pergi ke pasar untuk membeli makanan. Pukul 9 malam, saya disuruh untuk konfirmasi keadaan lagi dan saya meminjam hape driver ojek online. Pukul setengah 11 malam, saya memutuskan untuk tidur di lobby Masjid Raya Sukabumi.

Pada waktu subuh hari Minggu, 9 Desember 2018 saya dibangunkan oleh satpam. Lalu, saya solat subuh. Akhirnya pada pukul 6 pagi saya memutuskan unutuk pulang ke Bogor. Saya menumpang mobil bak hingga ke Cisaat. Lalu saya naik mobil elf menuju Baranangsiang dengan harga 25000. Pukul 8 pagi saya sampai di Baranangsiang dan saya menuju ke Masjid Raya Bogor karena melihat keluarga MPCA yang lain. Lalu, kami patungan untuk membeli sarapan. Setelah bercerita tentang pengalaman yang telah dilalui, lalu kami ke Botani Square untuk menunggu jam 2 siang karena disuruh berkumpul di Taman Koleksia. Pada pukul 2 siang setelah solat, kami berkumpul bersama anggota Lawalata dan bercerita satu-satu. Kami MPCA ditraktir makan dan ngopi oleh anggota luar biasa Lawalata. Sorenya disuruh kembali ke IPB tanpa uang sama sekali. Akhirnya kami mencarter angkot hingga Dramaga. Kami sampai sekret pada waktu magrib dan kami disuruh membuat api dan penutup atap menggunakan ponco. Lalu, kami semua bercerita satu-satu tentang pengalaman seharian dari kemarin, bersama anggota Lawalata. Dan akhirnya kami penutupan pada pukul 9 malam kurang. Dan kami semua kembali ke asrama. Sungguh pengalaman yang tidak bisa dibeli dan tak terlupakan

 

Ditulis oleh: Zufar Fauzan Erimant

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*