lawalataipb/ January 9, 2019/ Cerita MPCA, Opini/ 0 comments

Matahari mulai tenggelam di ufuk Barat, sinarnya bersembunyi di balik bangunan hitam megah yang oleh para civitas akademika IPB dikenal sebagai Common Class Room atau Ruang Kuliah Bersama itu. Aku berhenti sejenak, memastikan bahwa apa yang kucari benar ada di sana. Kubenarkan letak syal ungu muda di bahuku, lalu kembali melanjutkan langkah menuju pintu masuk utama gedung CCR.

Tak sampai melewati bibir pintu, Aku berhenti ketika mendapati dua sosok lelaki berpakaian ala satuan pengaman, lengkap dengan topi dan handy-talky yang kuyakini mereka gunakan sebagai alat komunikasi. Aku menyapa keduanya seraya memperkenalkan diri. Kujelaskan posisiku sebagai anggota Masa Pembinaan Calon Anggota LAWALATA IPB, kemudian maksudku untuk melakukan wawancara. Keduanya menerima, namun masih dengan keadaan siaga.

“Saya nggak tahu banyak, sebenarnya. Tapi kalau bisa, saya jawab.” Begitulah kira-kira yang diucapkan salah seorang diantaranya.

Tak menyerah sampai disana, kuajukan beberapa pertanyaan dan pernyataan pencair suasana, seperti nama, asal daerah, tempat tinggal, juga hal-hal lain yang kuharapkan bisa membuat keduanya merasa seakan berbicara dengan seorang rekan, bukan tengah diwawancarai secara formal oleh seseorang berlabel mahasiswa. Dari percakapan santai itu, kuketahui kedua narasumberku ini bernama Pak Mugi dan Pak Yadi, yang masing-masing telah bekerja selama delapan dan sebelas tahun sebagai satuan pengaman di Kampus IPB Dramaga. Dalam kesempatan tersebut, kutanyakan beberapa hal yang mengganggu benakku sedari tadi. Karena sebagai dua orang yang jauh lebih lama menempati kampus ini, tentu mereka lebih mengetahui seluk-beluk IPB daripada orang lain.

“Mahasiswa sekarang nggak punya etika, Neng. Beda sama yang dulu-dulu.”

Kalimat Pak Mugi tanpa disadari menamparku cukup keras. Bukan tanpa alasan, jawaban itu langsung beliau ucapkan ketika Aku menyinggung perihal perbedaan mahasiswa sekarang dengan mahasiswa generasi sebelumnya, seakan hal tersebut adalah hal yang mutlak. Bahkan tanpa kuminta, beliau melanjutkan ceritanya.

“Kalau dulu, mahasiswa teh akrab sama satpam. Dulu sering tuh, mereka nongkrong di bawah ngobrol-ngobrol sama saya,” beliau menjelaskan. “Kalau sekarang mah, ditegur aja buang muka, Neng. Apalagi yang perempuan, malah kadang saya diledekin. Yang laki-laki juga nggak beda jauh.”

Kucerna cerita itu dengan seksama. Sedih, malu, marah, semuanya menjadi satu. Dalam hati, Aku mengutuk oknum-oknum yang membuat image mahasiswa jadi kian terkesan buruk.

“Padahal mah istilahnya mahasiswa kan berpendidikan, kok etikanya nggak ada sopan-sopannya sama satpam,” beliau menambahkan seraya tertawa. “Kami bukannya minta dihormati, tapi setidaknya ya dihargai lah, Neng. Kalau mereka menghargai kami, kami pasti lebih-lebih menghargai. Kan gaji kami dari uang kuliah mahasiswa juga.”

Aku terdiam, “kalau boleh tahu, gajinya berapa, Pak?” tanyaku hati-hati.

“Gaji pokok satu koma delapan, totalnya sekitar dua juta lebih, lah.” Jawab Pak Yadi. “Disini status kita masih honorer, jadi gajinya belum sampai UMR. Padahal kerja udah sebelas tahun lebih.”

“Cukup, Pak?” Aku bertanya lagi.

“Ya gimana ya, Neng. Dicukup-cukupin, lah,” beliau tertawa. “Dulu gaji satpam lima ratus ribu, sekarang ya udah Alhamdulillah. Tapi kalau bisa sih, sampai UMR.”

Di sela-sela wawancara itu, Pak Mugi dan Pak Yadi kuberi kesempatan untuk bercerita tentang keluarganya. Kebetulan, keduanya tinggal di daerah Dramaga, sehingga dapat bertemu keluarga tiap hari. Pak Mugi di sekitar kawasan Pasar Dramaga, sementara Pak Yadi di jalan Babakan Lio. Keduanya bercerita tentang anak masing-masing, tentang perkembangan dan kemajuan yang sudah ditampakkannya.

“Harapan Bapak untuk IPB sendiri gimana, Pak?” Aku bertanya, mengingat kedua sosok ini adalah saksi hidup pembangunan yang terjadi di IPB. Mulai dari kawasan hutan yang disulap menjadi gedung kuliah, sampai dengan pembuatan taman dimana-mana. IPB sibuk berbenah, mempersiapkan diri menjadi Perguruan Tinggi yang berkelas dan diakui di dunia Internasional.

Pak Mugi menyeruput teh yang sudah tersedia di atas meja. Beliau menyampaikan harapannya agar manajemen di IPB khususnya di bagian UKK menjadi lebih transparan lagi, juga berharap dapat diangkat menjadi PNS secepatnya. Harapan Pak Yadi pun kurang-lebih sama. Aku akhirnya mengaamiinkan harapan-harapan itu. Barangkali doaku sampai dan dikabulkan oleh Allah suatu hari nanti.

Matahari semakin tenggelam, aku segera pamit untuk kembali ke sekretariat Lawalata IPB. Aku mengucapkan terimakasih, lalu kusalami tangan keduanya satu per satu. “Terimakasih sudah menjaga keamanan di lingkungan IPB ya, Pak,”  kataku. Pak Mugi dan Pak Yadi tersenyum, nampak jelas raut wajah bahagia karena merasa keberadaan mereka dihargai.

Di tengah pembangunan besar-besaran yang dilakukan IPB, ternyata masih banyak yang harus dibenahi. Salah satunya tentang nasib para satuan pengaman kampus yang jasa dan setianya tak perlu dipertanyakan lagi. Sudah seharusnya pihak kampus lebih memperhatikan keluh kesahnya, menampung harapan-harapan dan menjamin kesejahteraan mereka.

Ditulis oleh: Chairunnisa Afrianti

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*