lawalataipb/ January 29, 2019/ Catatan Perjalanan, Cerita Anggota, Penanggulangan Bencana, Press Release/ 0 comments

Dramaga Bogor, 13 Januari 2019
Malam itu, sebuah obrolan whatsapp antara saya dan Bang Gokong (Mapar) menjadi titik awal perjalanan ini. Berawal dari obrolan singkat tentang kejadian longsor di Sukabumi yang kemudian berlanjut pada sebuah pertanyaan dari Bang Gokong, “Lawalata gak ada yang ke Banten apa? Poskodal Mapala se-Indonesia sedang butuh bantuan SDM!”. Mendengar saudara-saudara mapala membutuhkan bantuan, langsung saja, tanpa berfikir panjang, saya memutuskan berangkat ke Labuan. Karena teman-teman Lawalata sedang sibuk Studi Lapangan Kecil (SLK) untuk Masa Pembinaan Calon Anggota (MPCA), akhirnya saya memutuskan berangkat sendiri. Saya izin ke ketum, bahwa saya akan berangkat ke Labuan dan kemungkinan besar tidak bisa ikut SLK. Saya berencana berangkat tanggal 16 januari 2019. Saya rencananya berangkat dengan motor pribadi. Jika melihat shareloc yang dikirim oleh Bang Gokong, saya akan menempuh jarak 133 km. Mungkin ini terbilang nekat dan beresiko. Yang penting, kondisi kendaraan sedang baik dan berdo’a sebelum dan ketika berkendara, inshaa Allah saya yakin bisa sampai tujuan.

Labuan Banten, 16 Januari 2019
Pukul 07.00 WIB saya sudah siap untuk berangkat. Untuk mempercepat perjalanan, saya menghafalkan urutan daerah yang akan saya lewati, yaitu dari Ciampea-Leuwiliang-Leuwisadeng-Jasinga-Rangkasbitung-Pandeglang-Labuhan. Estimasi waktu 3 jam 30 menit (berdasarkan google maps). Selama perjalanan sedikit terkena macet di daerah ciampea-leuwiliang, dan perjalanan lancar dan cukup sepi ketika melewati Jasinga-Labuhan. Selama perjalanan saya berhenti hanya ketika di percabangan jalan, untuk memastikan jalan mana yang harus saya ambil dengan melihat maps. Sepanjang perjalanan, saya sering mengamati sekeliling, dan rumah-rumah warga. Saya melihat gundukan pasir di samping kanan dan kiri jalan di daerah pandeglang. Awalnya saya kira sisa tsunami, tapi kenyataanya masih jauh dari pantai. Mungkin itu karena luapan sungai. Memasuki daerah Labuhan, saya semakin penasaran dengan kondisi disana setelah tsunami.

Pukul 11.00 WIB saya sudah sampai di Labuhan, saya kembali melihat maps untuk mencari lokasi posko. Alhamdulillah, saya menemukannya. Kurang lebih saya menghabiskan 4 jam perjalanan (cukup membuat kaki saya pegal-pegal semalaman). Saya mengamati sekeliling, saya melihat aktivitas warga sekitar posko sudah mulai normal, bangunan-bangunan di sekitar posko tidak terlalu mengalami kerusakan, karena lokasinya sedikit lebih jauh dari bibir pantai. Anak-anak sudah ramai masuk sekolah seperti biasanya. Dan pasar pun sudah ramai seperti biasanya.

Posko kami merupakan bangunan bekas gudang rokok. Kondisinya sebenarnya cukup memprihatinkan dan alakadarnya, dimana atapnya banyak yang bocor dan banyak agas ketika malam hari. Kata teman-teman, sudah banyak kejadian mistis selama disini, Hmm, tapi saya sendiri nggak pernah merasa hal-hal aneh. Ketika sampai di depan pintu, saya langsung di sambut oleh Bang Gokong yang kala itu sedang sibuk menata logistik untuk di sumbangkan. Lalu saya berkenalan dengan teman-teman mapala yang ada di posko. Ada Bang Pongo dari Himala selaku koordinator, Bang Evo dan Mbak Syifa dari Mapalaska Karawang, Bang Jamu dari UBK,  Bang Kibon, Bang Jalin dari Jaksel, Bang Zebra, Bang Raincoat dan Bang Anchor dari Mapala Palopo Sulawesi Selatan. Dengan datangnya saya, total orang yang ada di posko ada 11 orang, terdiri dari 2 perempuan dan 9 laki-laki. Kendaran pun bertambah menjadi 3 sepeda motor, yaitu motor Bang Pongo, motor Bang Kibon dan motor saya. Untuk mobil, kami masih menyewa ketika akan menge-drop logistik.

Awalnya saya ingin langsung membantu menata logistik, “Mbak istirahat dulu saja, minum dulu atau makan dulu” Kata Bang Jalin. Tapi karena semua terlihat sangat sibuk, saya tidak enak hati untuk terlalu lama beristirahat. Akhirnya saya memutuskan membantu Mbak Syifa memasak di dapur dan pergi ke pasar. Hari ini menunya cumi krispi saus pedas manis dan sayur bayam. Setelah selesai memasak, saya tidur sore. Dan ketika bangun, saya beremu dengan Bang Evo yang paling bawel se posko haha. Saya di ajukan banyak pertanyaan, padahal saya masih baru banget bangun tidur. Malam harinya, dilanjut dengan evaluasi, dan saya mendapatkan tugas di bagian dapur umum. Evaluasi selesai sekitar jam 23.00 WIB. Rencananya, tim gudang akan menyiapkan logistik untuk di dorlog besok. Tim gudang terdiri dari Bang Gokong dan Bang Jalin, mereka yang selalu begadang sampai pagi untuk menyiapkan logistik. “Kamu tidur dulu mbak, nanti sekitar jam 01.00 WIB dibangunin, buat nyiapin logistik”. Tentu aku mengiyakan ajakan tersebut. karena SDM kami yang sangat sedikit, kami harus lebih bekerja keras untuk saling memback up. Aku sedikit tidak bisa tidur, karena baru pertama kali tidur disini.

Labuan Banten, 17 Januari 2019

Namun, tiba-tiba sudah subuh saja. Saya melihat semua barang sudah selesai di packing, dan saya melihat Bang Gokong dan Bang Jalin masih terjaga. Ternyata mereka hanya berdua saja menyelesakan itu semua. Saya pun bertanya-tanya, “Bang, udah selesai? Kok unay ga dibangunin?”, “Gapapa mbak, kita udah biasa begadang.” Kata Bang Jalin. Mungkin mereka gak tega membangunkan saya. Setelah itu saya langsung mengerjakan tugas saya, mencuci piring dan memasak nasi. Menu hari ini adalah soto ayam dan untuk sarapan kami beli bubur ayam di pasar. Sejujurnya saya tidak terlalu pandai memasak, mungkin cuma bisa memasak nasi. Untungnya ada Mbak Syifa yang mau membantu. Kita sama-sama masih belajar tutorial resep di google. Setelah nasi masak, kami berdua berangkat ke pasar terdekat. Mungkin ini salah satu kegunaan saya membawa motor pribadi, bisa digunakan untuk belanja ke pasar dan menambah transportasi di posko. Pagi ini, kami kehujanan di pasar, entah kenapa langit hujan tidak secerah kemarin ketika saya baru sampai di posko. Untuk hari ini, soto ayam hasilnya cukup memuaskan hehe, tapi nasinya terlalu lembek hihihi. Oke tak masalah, besok bisa dikurangi takaran airnya. Sore harinya, saya berkesempatan ikut tim dorlog ke daerah Ciawi untuk menyalurkan bantuan logistik. Kali ini kami beruntung, karena ketika cuaca terus hujan, kami mendapatkan pinjaman mobil. Kami berkunjung ke rumah seorang bapak yang dulunya anggota Mapala UPI. Lalu kami dijamu dengan makanan dan kue, lalu kami melakukan serah terima bantuan logistik dan berfoto bersama.    

Waktu sudah menunjukan pukul 17.00 WIB. Setelah dorlog kami bergegas ke pantai untuk melihat sunset. Pantai yang kami kunjungi masih terlihat banyak bangunan rusak dan puing-puing bangunan sisa tsunami yang berserakan. kami mngambil beberapa foto untuk kenang-kenangan.

Matahari sudah tenggelam, kami bergegas pulang ke posko. Sepanjang perjalanan, kami saling berbagi cerita. Hal itu yang membuat kami semakin akrab dan mengenal satu sama lain. Bercanda dan melepaskan penat bersama. Sesampainya di posko, saya bertemu teman baru lagi yang baru datang. Namanya Mbak Puyuh dari Tapak Giri Bekasi. Dia datang seorang diri pula, tapi di diantar rombongan teman-teman BEM-nya. Lalu sebelum tidur, kami melakukan evaluasi. Mbak puyuh ditugaskan menjadi tim dapur bersama saya. Kami berdua yang akan menyiapkan masakan besok. Setelah evaluasi selesai, saya dan mbak puyuh membuat RAB untuk belanja konsumsi besok. Kami berdua memutuskan, besok menu kita adalah sop ayam dan bergedel kentang. Karena besok pagi tim dorlog pagi-pagi berangkat. Akhirnya kami memutuskan untuk sarapan kita beli lontong sayur saja. Sop ayam untuk siang dan malam hari aja. Oke, saatnya kita tidur.

Labuan Banten, 18 Januari 2019

Selamat pagii, saya dan Mbak Puyuh pagi-pagi sekali sudah siap cuci piring dan memasak nasi. Eh, ternyata ada teman baru yang datang. Namanya Mbak Badriah, atau di panggil Mbak Bad. Dia sebelumnya adalah bendahara di posko, tapi karena ada urusan harus pulang dan baru kembali pagi ini. Oke, saya dan Mbak puyuh sudah selesai cuci piring, dan kami sedang menanak nasi. Lalu kami tinggal pergi ke pasar. Seperti hari kemarin, cuaca masih saja mendung dan kadang hujan. Yasudahlah, kami berdua hujan-hujan saja sekalian menyegarkan badan hehe. Kata Mbak puyuh, ketika dia sedang ngobrol dangan abang jual ayam, katanya di pasar gelombang tsunami menjangkau sampai di lapak abang ayam itu. Padahal jika dipikir-pikir, lapak abang jual ayam itu termasuk dekan dengan pintu masuk pasar atau lumayan jauh dari pantai.

Kami selesai belanja mampir ke abang jualan lontong sayur. Sesampinya di posko, tim dorlog sudah berangkat. Seharusnya saya dan mbk puyuh datang lebih cepat, atau membeli sarapan dahulu baru pergi ke pasar. Hmm, yah.. besok kami tim dapur harus lebih cepat lagi menyiapkan sarapan. Baiklah, langsung saja kami tim dapur memasak sop ayamnya. Kami harus menyiapkan menu yang 4 sehat 5 sempurna, dan tentunya enak. Untuk menjaga kesehatan seluruh tim dan amunisi hehehe. Walaupun di posko banyak sekali mie instan, tapi itu untuk pengganjal saja ketika malam hari lapar. Kami memasak dari pagi sekali sampai malam, ketika lauk dan nasi mau habis, kami harus segera memasak kembali, sesekali kami beristirahat untuk mandi, makan dan tidur siang.

Bang Pongo, Bang Gokong, dan Mbak Bad sedang pergi naik mobil (entah kemana aku lupa hehe). Sekitar pukul 17.00 WIB. Kami ber 4 saya, Mabk Puyuh, Bang Jamu, dan Bang Evo pergi ke pantai carita untuk melihat sunset. Yey, aku senang sekali, main ke pantai lagi. Setidaknya untuk hiburan tim dapur karena seharian hanya berkutik di dapur. Saya di bonceng Bang Evo naik motor saya, dan Mbak Puyuh di bonceng Bang Jamu naik motornya Bang Pongo. Kami sampai di pantai carita. Disana kondisinya masih banyak sampah yang berserakan (sisa tsunami) dan beberapa puing-puing bangunan. Kami menikmati udara pantai sambil berfoto untuk kenang-kenangan.

Pas sekali, kami sampai posko, teman-teman sedang membuka durian. Kami langsung menyerbu. Duriannya tebal-tebal dan enak hehehe, beberapa ada yang berasa pait karena kandungan tuaknya yang tinggi (cukup membuat perutku terasa panas malam itu). Malam itu, saya minta izin ke bang pongo untuk besok pagi pergi ke pantai cisaar menghadiri pelantikan Anggota Muda (AM). Setelah mengobrol, saya akhirnya tidak di izinkan pergi, karena jaraknya terlalu jauh sekitar 180 km (dari google maps) dan jalanannya melewati hutan dan perkebunan yang sepi. Terlalu beresiko jika dipaksakan pergi. Dan akhirnya saya nurut saja hahaha (sedih). Lalu seperti biasanya kami melakukan evaluasi dan briefing. Tim dapur besok menyusun RAB untuk memasak menu balado telur dan untuk sarapan kami membuat nasi goreng, telur goreng dan bakwan. Kami dengar kalo besok pagi ada 7 orang dari kapal baja yang akan datang. Kita sudah tidak sabar menanti mereka. Malam pula bang gokong pamit pulang besok subuh, karena harus ngarung bersama adek-adeknya. Rada sedih sih L . dan Bang Jalin pun siang ini juga sudah pulang, tanpa pamit.. anggota kita berkurang 2 orang jadi 10 orang yang ada di posko.

Labuan Banten, 19 Januari 2019

Pagiii, aku baru membuka mataku, dan Bang Gokong sudah rapi dan siyap pulang ke Bogor. Agak drama-drama gitu, hahaha lebay. Kan Bang Gokong hari Senin sudah balik lagi ke posko, jadi its okay. Bang Gokong balik ke Bogor naik transportasi umum. Saat Bang Pongo mengantar Bang Gokong ke terminal, semua orang di posko sedang tidur, tiba-tiba ada seorang bapak menyelinap masuk dan gelagatnya terlihat ingin mengambil HP yg sedang di charge. Untung saja Mbak Bad terbangun dan mempergokinya. Tapi bapak itu, pandai sekali ber akting, dia pura-pura bertanya soal sembako lalu pergi. kami hampir saja kecurian, kami memutuskan besok nya kita harus ada yang begadang. Oke, Seperti biasanya, aku dan mbak puyuh habis subuh mencuci piring dan memasak nasi. Kali ini cuaca hujan deras dari pagi. Akhirnya kami berdua hari ini sama sekali tidak pergi ke pasar. Kita memasak bahan-bahan yang ada. Sekitar jam 8 pagi, teman-teman dari kapal baja Bekasi sudah sampai. Sayangnya mereka datang di hari sabtu, padahal hari sabtu sekolah sedang libur. Akhirnya mereka harus menginap di posko dan melakukan trauma healing di sekoah besok Senin. Ketika baru datang kami belum terlalu akrab satu sama lain. Kami seolah-olah terpisah menjadi dua kubu, yaitu tim lama di posko dan tim kapal baja hahaha, tapi itu tidak berlangsung lama kok, wajar saja. Siang hari, kami semua ingin perawatan bersama. Mbak Bad kebetulan membawa masker spirulina banyak. Yah, kami semua saling mengoleskan masker ke muka satu sama lain. Lalu kami semua foto bersama, semua orang tersenyum, kecuali Bang Evo yang di foto terlihat Pundung nyender tembok karena gak suka maskernya bau hahaha.

Hari sudah menjelang sore, tentunya kami tak mau terlalu lama kaku dengan teman-teman dari kapal baja. Okey kami mulai mengakrabkan diri satu sama lain, beberapa ada yang membantu memasak di dapur, dan mencuci piring. Sesekali kami mengobrol untuk berbagi cerita tentang mapala masing-masing. Senang sekali, dengan datangnya teman-teman kapal baja, pekerjaan menjadi lebih ringan. Tak terasa sudah malam hari saja, lalu kami evaluasi dan briefing lagi seperti biasanya. Tim dapur besok rencananya ingin masak ikan bumbu kuning dan ikan goreng sambal kecap. Dan karena besok hari minggu, tim assesment yang bekerja mencari sasaran untuk sumbangan, sedangkan dorlog dan gudang saling membantu menyiapkan logistik untuk di dorlog hari senin. Malam ini Bang Zebra, Bang Raincoat dan Bang Anchor pamit pulang ke Sulawesi Selatan. Saya baru mengenal sekitar 4 hari tapi rasanya saya sudah sangat dekat dan sedih ketika mereka pamit pulang.


Setelah briefing kami jalan-jalan ke teluk, kami naik mobil bak terbuka. Kami berangkat jam 22.30 WIB. karena selama 3 hari ini hujan, laut terlihat pasang. Selain itu malam ini sedang bulan purnama. Di teluk ternyata sepi, padahal ini adalah malam minggu, hanya ada beberapa orang saja dan beberapa kambing. Mungkin sebagian orang masih trauma soal laut pasang (asumsiku). Kami disana bercanda dan tertawa bersama. Kami kembali ke posko pukul 23.30 WIB.

Labuan Banten, 20 Januari 2019

Pagi-pagii, sebelum azan subuh. Bang Zebra berulah hahaha. Katanya dia ingin mencetak sejarah. Ketika semua orang sedang tertidur, dia mencoret badan semua orang dengan spidol permanen. Lucu sekali, begini cara mereka pamitnya. Bang Zebra itu orang yang paling usil diantara yang lain. Dan suka nge-prank tayo ke semua orang.

Dan semua orang bangun dengan coretan di kaki tangan dan wajah mereka. Ada yang langsung di bersihkan, dan ada yang malas menggosoknya dan dibiarin gitu aja (saya). Dan begitulah, kami kehilangan 3 teman jauh kami. Kembali ke Sulawesi. Pagi ini cuacanya cerah, aku dan Mbak Puyuh bisa pergi ke pasar untuk belanja ikan segar dan membeli beberapa roti dan pisang untuk sarapan. Kami tidak ada kegiatan dorlog sehingga tidak terburu-buru untuk sarapan pagi. Setelah pulang dari pasar, saya mencuci ikan dibantu Bang Pongo. Saat itu juga, saya pamit ke Bang Pongo, besok subuh saya harus pulang, karena jam 10 pagi saya ada kuliah. Kalo berangkat subuh mungkin saya masih bisa ikut kuliah. Hmm, tidak ada kata iya maupun tidak yang terucap, hanya diam dan kadang membicarakan hal lainnya.

Owkay, kami team assessment sudah berangkat. Tim dorlog dan tim gudang sedang sibuk mengatur logistik. Saya telah selesai memasak dan membantu tim dorlog menata logistik. Kami besok akan menyalurkan sumbangan ke SD berupa tas sekolah, alat tulis, sepatu dan seragam. Jadi hari ini dari pagi sampai sore lumayan sibuk menyiapkan itu. Semua orang bekerja keras. Siang harinya bang pongo dan mbak bad pergi ke pasar Pandeglang untuk membeli kaos kaki dan beberapa buku. Pulangnya mereka membawa duren dan baso. Kami makan sama-sama. Lalu kami melakukan evaluasi dan briefing seperti biasanya. Aku sebenarnya ingin pamit setelah eval dan briefing, namun tidak jadi. Setelah itu kami semua beristirahat. Aku segera beristirahat, karena besok subuh akuharus balik ke Bogor. Sepanjang hari, hampir semua orang bertanya “Mbak Unay mau balik sekarang?”. Aku jawab saja, aku pulang besok pagi, aku harus kuliah besok. Dan yang paling bawel nanyain adalah Bang Evo. Sehari mungkin puluhan kali nanyain, hahaha. Unay mandi bawa tas aja dikira mau balik. Hmm.. saatnya tidur.

Labuhan Banten, 21 Januari 2019

Saya bangun agak terlambat, sekitar jam 5 lebih. Saya segera bergegas untuk cuci muka dan berangkat. Semua orang sedang tertidur, Saya tidak ingin membangunkan mereka. Akhirnya saya pamit dengan membuat surat lalu saya tempelkan di dinding. Saya pun berangkat pulang sekitar pukul 05.20 WIB. Jalanan terlihat begitu gelap karena kurangnya lampu jalan. Saya harus berhati-hati karena jalanan yang berkelok-kelok. Saya terburu-buru karena sebelum jam 10 pagi harus sudah sampai di kampus. Saat sampai di Pandeglang, sekitar jam 7 pagi. Tiba-tiba hujan turun deras, saya nikmati saja. Karena saya sedang buru-buru dan tidak ada waktu untuk berteduh. Hujan terus mengguyur dari Pandeglang sampai kampus IPB. Tentu saja membuat saya kedinginan dan menggigil sepanjang perjalanan. Ketika di Jalan Raya Serang, saya sempat salah jalan selama 1 jam, dan baru sadar ketika masuk wilayah Tanggerang. Kejadian tersebut terjadi karena saya terlalu terburu-buru dan tidak menggunakan maps. Karena saya kira, saya mungkin masih ingat jalanannya. Kejadian tersebut membuat saya tidak mungkin bisa ikut kuliah jam 10. Dan motor saya tiba-tiba rantainya hampir patah dan girnya bermasalah. Setiap saya ngebut, rante motor saya lepas dan saya harus membenarkannya setiap lepas. Saya sempat berhenti di sebuah bengkel namun tidak bisa mengganti gir dan rante motor. Saya rasa sulit mencari bengkel yang bisa di sekitar sini. Lagi pula saya sudah kedinginan, saya harus segera pulang. Saya takut salah jalan lagi, akhirnya rajin-rajin melihat maps. Saya tidak memaksa lagi masuk kuliah hari ini. Ketika di perbatasan Banten dan Jawa Barat, motor saya sempat terpeleset karena jalanan yang licin terguyur hujan. Saya terjatuh, untung tidak mengalami luka, namun motor saya ada beberapa bagian kecil yang patah. Yang penting motor masih bisa jalan, saya harus melanjutkan perjalanan. Pada akhirnya sampai di kampus IPB pukul 11.45 WIB. Perjalanan yang seharusnya saya tempuh 4 jam, pada akhirnya menjadi 6 jam. Saya ada kuliah jam 13.00 WIB tapi saya memutuskan untuk istirahat saja di kostan.

Hal-hal yang aku dapatkan 6 hari ini adalah : Perjalanan yang sangat melelahkan, 5 hari yang sangat berharga bersama teman-teman mapala, pengetahuan baru, teman baru, bagaimana sibuknya menjadi seorang relawan dan banyak lagi. Rasa lelah tidak sebanding dengan pengalaman, teman dan ilmu yang banyak saya dapatkan selama 6 hari ini. Terimakasih

Ditulis oleh: Naily Fitrotun N (Unay L-391)

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*