lawalataipb/ February 21, 2019/ Catatan Perjalanan, Kelompok Minat, Press Release/ 0 comments

Sabtu (16/02) dini hari tepatnya pukul 03.00 WIB, 19 Anggota LAWALATA IPB berangkat menuju Pulau Pari untuk mengikuti kegiatan pengenalan Kelompok Minat Tirta dan Flora Fauna. Perjalanan dimulai dari sekretariat menuju Stasiun Bogor, lalu ke Stasiun Jakarta Kota dan dilanjut dengan jalur air selama dua jam menuju Pulau Pari. Kami tiba di lokasi sekitar  pukul 10.30, sesampainya disana kami melakukan registrasi, mendirikan tenda, dan ishoma. Setelah Istirahat Sholat dan Makan (Ishoma) kami melakukan pengenalan Kelompok Minat Tirta terlebih dahulu. Kegiatan diawali dengan sharing materi tentang ekosistem pesisir. Kemudian, materi dilanjutkan dengan praktek yaitu dengan melihat dan mengamati ekosistem pesisir.

Pengenalan Kelompok Minat Tirta dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama yaitu melakukan pengamatan mangrove dan lamun, dilanjutkan dengan sesi kedua yaitu pengamatan terumbu karang. Pada sesi pertama, kami berpencar untuk mencari dan mengamati mangrove dan lamun yang ada di sekitar pesisir. Setiap kami menemukan mangrove ataupun lamun, kami menggambar dan mencatat ciri-cirinya  di buku lapang yang kami bawa atau mengambil gambar, bahkan  mangrove yang banyak ditemukan di Pulau Pari adalah mangrove jenis bakau. Mangrove jenis bakau biasa hidup di daerah pesisir dengan substrat pasir. Lamun yang kami temukan adalah lamun jenis Cymodocea serrulata, yaitu lamun yang memiliki daun berbentuk panjang dan berserat. Setelah selesai berkeliling daerah pesisir pantai, kami kembali berkumpul. Kami menjelaskan apa saja yang kami temui di sekitar pantai dan mengidentifikasinya bersama-sama jika ada yang belum diketahui.

Pukul 14.00 kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan terumbu karang. Sebelum memulai kegiatan, kami menyiapkan peralatan yang kami butuhkan seperti Alat Dasar Selam (ADS) dan pelampung. Setelah semua alat siap kami berjalan menuju lokasi diantar oleh pemandu. Karena ADS terbatas, kami secara bergantian melakukan snorkeling. Meskipun laut yang kami selami tidak terlalu dalam, kami tetap bisa melihat terumbu karang serta anemon-anemon laut yang berada disana. Berbagai macam bentuk terumbu karang kami lihat, mulai dari yang memiliki berbentuk massive yaitu berbentuk bulat, tidak bercabang, dan berpola. Sub-masssive yaitu memiliki bentuk seperti massive  namun bercabang, branching yaitu bercabang-cabang dan runcing, serta masih banyak lagi. Setelah selesai kegiatan,kami melakukan review materi tentang jenis-jenis terumbu karang serta cara membedakan terumbu karang yang masih hidup dan sudah mati.

Saat melakukan snorkeling kami dihimbau untuk tidak menginjak ataupun menyentuh terumbu karang yang ada disana. Jika terumbu karang terinjak ataupun tersentuh, hal itu akan menyebabkan terumbu karang mati dan membutuhkan waktu lama untuk kembali hidup. Dengan tidak merusak ekosistem pesisir, secara tidak langsung kita menjaga kelestarian dan keseimbangan ekosistem pesisir.

Ditulis oleh: Sylvia Devi Ani (Jugul)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*