lawalataipb/ April 27, 2019/ Berita Utama, Catatan Perjalanan, Cerita Anggota/ 0 comments

Ya! Kenapa harus Merbabu? Sebelum kita memikirkan jawaban atas pertanyaan tersebut, sebaiknya kita mengenal dulu apa itu Merbabu. Kenapa bisa dinamakan Merbabu? Lalu apa artinya?

Merbabu merupakan salah satu gunung berapi di Jawa Tengah, gunung yang melegenda katanya. Saya pribadi tidak mengenal betul gunung ini karena baru pertama kali mendaki gunung tersebut. Gunung ini berada di perbatasan Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kota Salatiga. Menurut etimologi Merbabu berasal dari gabungan “Meru” yang memiliki arti Gunung dan “Abu” yang berarti abu. Nama ini baru muncul pada catatan-catatan Belanda 300 tahun silam. Ada banyak beragam versi yang menceritakan kenapa nama gunung ini Merbabu, tapi kebanyakan yang beredar adalah versi dari Keraton Mataram.

Konon, di bumi telah berdiri beberapa kerajaan yang saling berperang. Salah satunya adalah kerajaan Mamenang yang di pimpin oleh raja Maharaja Kusumawicitra. Pada masa itu Resi Sengkala atau umum menyebutnya Ajisaka, telah memberikan nama-nama gunung di seluruh daratan Jawa. Sebelum datang ke Pulau Jawa, Ajisaka adalah raja yang bertahta di Kerajaan Sumatri. Karena kalah berperang dengan Maharaja Kusumawicitra itu, maka segala sesuatu yang berada di bawah kekuasaannya diganti namanya dan disesuaikan dengan kebudayaan Mamenang. Gunung Candrageni diubah menjadi Gunung Merapi, begitu pula dengan Gunung Candramuka yang diubah menjadi “Gunung Merbabu”. Cerita inilah yang membuat kita tahu dan mengenal Nama Merapi dan Merbabu.

Merbabu sendiri merupakan gunung yang memiliki ketinggian 3142 m dpl (meter di atas permukaan laut). Ada banyak jalur pendakian menuju puncaknya. Kenapa banyak? Karena gunung ini cukup popular di kalangan pendaki sebagai ajang kegiatan pendakian.  Jalur yang dipilih dalam pendakian kali ini adalah Jalur Selo, Boyolali, Jawa Tengah. Jalur Selo merupakan jalur paling panjang dibanding jalur lainnya namun treknya lebih ringan karena banyak jalur landainya selain itu pemandangan di jalur ini sangat indah yaitu berupa sabana serta Gunung Merapi (Pokoknya instagramable! Hehe).

Awalnya pendakian ini dimulai dari wacana di grup Whatsapp angkatan kami (Wasur) yang selalu memimpikan untuk naik gunung bareng lagi. Berhubung 18-20 April 2019 merupakan libur panjang maka di kunci lah tanggal tersebut untuk digunakan mendaki Merbabu. Saya yang saat ini aktif skripsian dan bekerja di salah satu perusahaan Pest Management Multinasional agak bimbang terkait ajakan tersebut, tapi perasaan resah dalam hati dan seakan-akan mendapat panggilan hati untuk kembali menggunung membuat saya memutuskan untuk ikut. Transportasi menuju merbabu cukup mudah, banyak bus dari Jakarta atau Bogor yang menuju terminal Boyolali. Dari terminal tersebut kita dapat menjumpai banyak supir elf dan mobil bak yang menawarkan carteran menuju Selo. Beruntung kami mempunyai Upi (Tangkil) teman kami yang tinggal di Cepogo. Ketika kami sudah mengabari di terminal, ia dan ayahnya langsung bergegas menjemput kami. Tak perlu waktu lama ia dan ayahnya datang menggunakan mobil bak, setelah selesai menata ransel kami langsung tancap gas menuju kediaman Upi (Tangkil). Ketika sampai Cepogo, saya dan teman-teman sudah merasakan dingin yang menusuk dan rasanya ingin sekali bergegas tidur karena rasa lelah hampir seharian duduk di dalam bus. Tak perlu waktu lama, kami semua tertidur lelap di kediaman Upi (Tangkil). Sayup-sayup suara Upi memanggil, ia menyuruh kami semua untuk pergi bergegas untuk sarapan. Kondisi mata yang sangat lelah, sayapun terpaksa bangun. Dalam kondisi belum sepenuhnya sadar saya melihat keluar rumah, sepertinya kondisi masih pagi jadi saya pun melanjutkan tidur. Tapi sayup-sayup suara Upi semakin keras, ia berteriak dengan sangat kencang agar saya bergegas sarapan. Setelah saya liat jam ternyata jam sudah menunjukan jam 10 pagi, sungguh aneh rasanya Cepogo karna jam 10 disana terasa seperti jam 6 pagi di Bogor. Setelah sarapan selesai, untuk yang laki-laki semua bergegas mandi untuk melaksanakan ibadah Sholat Jumat. Sebelum pergi sholat kami briefing sebentar untuk memutuskan berangkat setelah sholat Jumat selesai. Selepas sholat, kami menyempatkan untuk makan siang dimana kami berusaha untuk menyimpan energi yang akan digunakan ekstra dalam mendaki gunung Merbabu. Tepat jam 13.00 akhirnya kami berangkat diantar oleh ayah dari Upi menuju Selo dari Cepogo. Perjalanan menuju Selo sungguh indah karna melewati jalan berkelok, sebelum sampai Selo kita akan disuguhkan pemandangan indah di sekitar patung wayang besar yang ada di pinggir jalan.

Pukul 14.00 kami sampai basecamp dan pintu pendakian Merbabu via Selo, sepanjang jalan sudah ramai lalu lalang pendaki yang turun dan juga ingin naik. Efek libur panjang paskah benar-benar terasa, wisata pendakian gunung sudah menjadi hal lumrah saat ini. Seniorku di Lawalata mengatakan bahwa pendakian gunung sudah bisa dinikmati semua orang, efeknya standar pendakian pun sering diabaikan karna banyak para pendaki tidak memahami standar dan etika pendakian. Setelah melakukan pemanasan, check perlengkapan kamipun memulai pendakian dari basecamp terakhir yaitu bangunan Resort Selo yang ada di kaki Gunung Merbabu. Perjalanan dari Pos 0 menuju Pos 1 memakan waktu 1 jam, di pos 1 kami beristirahat sejenak mengambil snack dan meminum air yang memang sudah kami bawa dari bawah. Kami cukup banyak membawa persediaan air, mengingat jalur Selo merupakan salah satu jalur yang tidak memiliki sumber air minum. Setelah hampir 20 menit beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos 2. Kondisi pos 2 (Pos Pandean) hampir sama dengan pos 1, tertutup rapat oleh vegetasi yang ada disekitarnya. Namun luasan pos 2 tidak seperti pos 1 yang cukup untuk 6-7 tenda ukuran sedang. Lanjut jalan lagi dari Pos 2 menuju Pos 3, vegetasi di jalur ini mulai terbuka dan dijalur ini mesti hati – hati soalnya banyak ditumbuhi tumbuhan berduri. Jalur pun makin menanjak, dengan semangat pantang menyerah kami pun sampai di Pos 3 atau Pos Watu Tulis sekian jam kemudian.

Di Pos Watu Tulis ini kami beristirahat tidak lama dikarenakan angin sangat kencang, kamipun bersikeras untuk tidak mendirikan tenda disini. Kami berasumsi cuaca akan membaik dan jumlah camp di sabana 1 lebih kondusif, maka kami melanjutkan perjalanan menuju sabana 1. Setelah sampai Sabana 1, semua kondisi dan realita sangat berbeda dengan yang diduga. Kondisi sabana 1 sangat ramai sekali dan angin bertiup sangat kencang. Kamipun membagi tugas untuk mendirikan tenda dan memasak, namun rencana tersebut nyatanya tak berjalan. Kami harus menunda untuk memasak dikarenakan angin yang sangat benar-benar kencang. Perlu tenaga ekstra dan kerjasama tim yang baik untuk membuat tenda dalam kondisi tersebut, dari sini aku benar-benar melihat bahwa keakraban kita sangat hangat dimana kerjasama tim dalam proses pembuatan tenda berjalan dengan rapi. Suasana hening dengan sesekali teriakan, membuat semua bekerja pada porsinya seakan-akan tau apa yang harus dikerjakan. Setelah tenda selesai dibuat, kamipun langsung mengeluarkan alat masak dan memasak minuman hangat dan daging olahan sebagai lauk nasi yang sudah di bawa dari bawah. Dengan sigap dan lahap kami memakannya, sambil bercanda gurau kami menikmati hidangan yang sudah dibuatkan oleh tim dapur. Makan malam nan syahdu pun usai, kami berencana tidur dan membagi orang untuk mengisi kedua tenda tersebut. Saya kebagian tenda yang berisikan 3 orang yaitu Saya, Fida dan Upi sedangkan tenda sebelah berisikan 4 orang yaitu Rendra, Kharina, Shofi, dan Syavin.

Duduk Bersama berdiskusi tentang kesibukan yang sudah lalu dan yang akan dijalani

Keesokan harinya kamipun terbangun, dengan mata beler karna malam yang kami lalui dingin sekali membuat saya agak malas untuk bangun di pagi hari tersebut. Namun teriakan – teriakan kecil dari tenda sebelah yang menggambarkan indahnya Merbabu membuat saya penasaran dan pada akhirnya bangun untuk melihat keindahan merapi yang sangat jelas terlihat dari Sabana 1.

Gagahnya Gunung Merapi

Setelah puas berkeliling dan menikmati indahnya sabana 1, pagi itu kami sarapan dengan merasakan nikmatnya mie goreng yang dimasak. Entah mengapa, Mie merupakan makanan wajib di gunung walaupun gizi yang terdapat pada mie tidak sebagus sayuran yang kami bawa namun kami tetap memilih mie sebagai sarapan. Suatu tradisi yang sangat aneh, tapi tetap terus dilakukan haha!. Sarapan mie ditemani matahari pagi di sabana 1 membuat kami bersemangat melanjutkan perjalanan menuju puncak. Setelah briefing sebentar terkait logistik apa saja yang ingin dibawa serta diselingi pemanasan kamipun bergegas menuju untuk menggapai puncak merbabu. Perjalanan menuju puncak dari sabana 1 memakan waktu kurang lebih 2 jam, karna melewati sabana 2 dan tanjakan yang cukup curam menuju puncak Triangulasi. Puncak tersebut merupakan puncak tertinggi di pegunungan Merbabu yang memiliki ketinggian 3412 m dpl. Perjalanan dari sabana 2 menuju puncak disuguhi pemandangan yang apik dari mulai bunga edelweiss yang bertebaran dan pemandangan puncak-puncak gunung disekitar Merbabu yaitu Sindoro, Sumbing, Lawu dan Merapi. Kondisi puncak cukup ramai saat itu. Untuk beberapa saat, kami menikmati keindahan alam dari puncak Triangulasi ini. Sungguh kami bersyukur atas kesempatan bisa menikmati keindahan karya Tuhan dari ketinggian tertinggi di Gunung Merbabu.

Pemandangan Sabana 2 dan Merapi

Tepat pukul 11.00 WIB kami turun dari puncak, sepanjang perjalanan turun saya selalu memikirkan sebuah hal “Kenapa waktu berlalu begitu cepat? Sampai-sampai waktu menggerogoti kebersamaan yang sudah kita jalin selama 5 tahun”. Sebelum turun menuju Sabana 1, kami sengaja singgah di bawah rindang pohon beralaskan padang rumput menghijau, berdiskusi banyak hal tentang masa depan kita rencanakan dan akan kita lalui. Dalam heningnya diskusi diselimuti kabut, saya berdoa dalam hati agar Tuhan selalu melindungi saudara-saudara saya dimanapun ia berada.

Sekali lagi ingin saya katakan, setiap peristiwa pasti menorehkan makna. Melalui setapak Merbabu via Selo, kami, khususnya hidup saya beserta saudara angkatan saya semakin dikuatkan dalam mengikatkan hati. Melalui perjalanan, kami semakin dibuka untuk semakin mengerti diri kami masing-masing, sehingga pada akhirnya, kami makin bisa saling menerima, memberi, dan mengisi. Semoga dengan petualangan ini, rasa persaudaraan kami makin kokoh menyatu untuk saling menggiring hidup dan mengisi rangkaian kehidupan perkuliahan yang penuh suka cita, penuh kegembiraan dan kebahagiaan. Terima kasih Merbabu, terima kasih untuk siapapun yang kami jumpai, terima kasih Tuhan atas segala berkat perlindungan-Mu. Semoga kami bisa mengulang petualangan seperti ini lagi. Amin.

Berfoto bersama sebelum turun dari puncak

Tulisan oleh : Fikrunnia Adi Prasojo (L-371)

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*