lawalataipb/ February 3, 2020/ Catatan Perjalanan, Cerita Anggota/ 0 comments

Sebagai penutup hari di tahun 2019, Kerinci adalah jawaban yang tepat untuk perjalanan ini. Nah, sebelum masuk ke cerita perjalanan untuk menggapai atap tertinggi sumatra, kita perlu tau dulu nih Kerinci tuh apa sih istimewanya dan dimana sih lokasinya? Check this out.

Gunung Kerinci adalah gunung tertinggi di Pulau Sumatra, gunung berapi tertinggi di Indonesia, dan puncak tertinggi di Indonesia di luar Papua. Gunung Kerinci terletak di Provinsi Jambi, di Pegunungan Bukit Barisan, dekat pantai barat, dan terletak sekitar 130 km sebelah selatan Padang Provinsi Sumatra Barat. Puncak Gunung Kerinci berada pada ketinggian 3.805 mdpl (meter diatas permukaan laut), di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, di sini kita dapat melihat di kejauhan membentang pemandangan indah Kota Jambi, Padang, dan Bengkulu. Gunung ini dikelilingi hutan lebat Taman Nasional Kerinci Seblat dan merupakan habitat harimau sumatra dan badak sumatra.

Ada beberpa pilihan jalur pendaki bagi pendaki menuju puncak Gunung Kerinci, diantaranya adalah Jalur Solok Selatan dan Jalur Kersik Tuo. Jalur yang dipilih dalam pendakian ini adalah Jalur Kersik Tuo, Jambi. Jalur Kersik Tuo merupakan jalur yang banyak diminati oleh kalangan pendaki yang ingin ke Gunung Kerinci. Selain jalurnya lebih cepat daripada jalur Solok Selatan, jalur ini juga menyuguhkan keindahan pemandangan yang ditemani jalur becek dan curam yang menantang adrenalin bagi yang melewatinya hehehe.

Perjalanan ini dimulai ketika rutinitas suntuk kuliah di kampus yang membuat kebanyakan mahasiswa membutuhkan suasana yang dapat membuat jiwa tenang. Libur yang cukup ada (ga panjang) kesempatan bagi saya dan teman saya, Fajar, untuk berkesempatan untuk mengunjungi salah satu Seven Summitnya Indonesia di Pulau Sumatra, Kerinci. Dimulai pada tanggal 28 Desember 2019, kami OTW (On The Way) dari Kota hujan tercinta menggunakan bis ALS (Antar Lintas Sumatra) menuju Kota Bangko, Jambi. Sebenarnya perjalanan dapat ditempuh pesawat terbang menuju Padang atau Jambi, namun kami lebih memilih mengunakan bis karena ingin lebih merasakan perjalanannya (Padahal karena budget pas-pasan wkwkw). Sesampainya di Kota Bangko, kami langsung disambut oleh Bang Sydik yang sebelumnya saya memang sudah janjian untuk mendaki bersama dari awal kontak Instagram. Beliau sengaja berangkat sendiri dari Tangerang dan kebetulan kami memiliki waktu yang sama untuk mendaki ke Kerinci. Sesampainya di Bangko pada malam hari, untuk mencari kendaraan ke basecamp pendakian cukup sulit. Beberapa kali kami ditawarkan orang untuk menggunakan kendaraan travel dengan harga yang cukup mahal. Pada pukul 01.30 WIB, akhirnya kami dijemput oleh travel Jambi kenalannya Bang Syidik. Akhirnya kami sampai di pos informasi R10 Taman Nasional Kerinci Seblat pada pukul 07.00 WIB untuk mengurus SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi). Kerennya disana pada saat sebelum melakukan pendakian, setiap sampah yang dibawa oeh pendaki baik berupa kemasan plastik dan lainnya diperiksa dan dicatat satu-satu agar dapat dipertanggung jawabkan saat turun nanti. Pada hari itu, 30 Desember 2019 pendakian di tahan sementara hingga pukul 11.00 WIB, karena ada operasi sampah yang menumpuk oleh Taman Nasional (hufft memang masalah sampah di gunung tidak pernah selesai). Oleh sebab itu, pendaki yang naik  diwajibkan membawa sampah turun kembali yang nanti dapat ditukarkan dengan Kopi khas Kerinci (Uhuuyy). Dengan kondisi yang masih mabuk kendaraan, kami harus memulai perjalanan untuk menuju Atap Sumatra. Lets go!.

Foto bareng dengan pendaki dari berbagai daerah sebelum memulai pendakian

Perjalanan dimulai dari R10 menuju ke Pintu Rimba yang merupakan gerbang pendakian dengan berjalan kaki dengan jarak sekitar 2 km dengan waktu tempuh 45 menit. Medannya berupa perkebunan dan ladang penduduk, dengan kondisi jalan baik (aspal) maupun bebatuan sampai ke batas hutan. Perjalanan dilanjutkan dengan gerimis yang turun dari kabut  dan jalur yang berlumpur menuju Pos 1. Jalur yang masih landai dan tidak begitu jauh hanya memakan waktu 35 menit untuk menuju Pos 1. Sesampainya di Pos 1, kami duduk sebentar dan minum air dan cemilan yang kami bawa dan mengobrol dengan beberapa pendaki yang akan naik juga. Setelah badan cukup kuat, kami langsung melanjutkan perjalanan ke Pos 2. Jalur yang sama seperti ke Pos 1 dan 25 menit kami hingga kami sampai di Pos 2. Pendaki yang naik cukup banyak karena memang sedang musim libur akhir tahun yang mayoritas pendaki dari beberapa daerah diantaranya Padang, Medan, Jambi dan ada juga pendaki dari luar Sumatra seperti Garut, Jakarta maupun Yogyakarta. Lalu, kami melanjutkan ke pos 3 yang jalur nya kali ini cukup menguras tenaga karena jalur sudah mulai curam menanjak. Setelah 40 menit kami berjalalan akhirnya kami sampai di Pos 3 yang sudah ramai pendaki yang sedang beristirahat juga.Tak lama-lama kami bergegas berjalan kembali menuju Shelter 1 yang nanti kami akan makan dan menyeduh kopi disana. Setelah melewati jalan yang lebih sering menanjak selama kurang lebih 1 jam tibalah kami di Shelter 1 yang sudah banyak berdiri tenda-tenda pendaki. Rencananya, kami akan membangun tenda di Shelter 2 bayangan karena selain ada sumber mata air, pemandangan pada saat malam hari sangat cantik. 

Shelter 1 yang dipadati tenda pendaki

Setelah ashar dan perut sudah terisi, kami langsung melanjutkan perjalanan. Rasa capek dan pegal yang sudah mulai terasa karena dihadapkan dengan jalur yang sangat menanjak ditambah beban di pundak harus lah kami rasakan. Namun, selingan candaan dari pendaki lain dan cerita humornya rasa capek lama-kelamaan hilang dengan sendirinya. Sungguh, sesuatu yang tidak didapat di kota. Tepat pukul 18.30 WIB, kami akhirnya sampai di Shelter 2 bayangan. Kami langsung bergegas mendirikan tenda, flysheetdan menyiapkan alat masak untuk kami memasak makanan untuk malam nanti. Melihat pemandangan citylight di kejauhan dan taburan bintang di langit, sebari menikmati Kopi Liong yang sengaja kami bawa dari Bogor memang tidak ada duanya. Tak lama-lama mengobrol, kami harus cepat tidur karena nanti pagi kami akan melanjutkan perjalanan menuju puncak Gunung Kerinci.

Rasa kantuk yang harus susah dilawan dan dingin yang sangat terasa di tubuh, namun pemandangan di luar tenda sangat cantik menambah semangat kami untuk melanjutkan perjalanan . Pukul 02.30 WIB kami memulai summit attackdengan membawa logistik makanan maupun minum yang cukup dibawa ke puncak. Jalur yang terjal dengan tangan pun harus membantu untuk memanjat jalan yang naik. Ketika kami sampai di Shelter 3 pada pukul 04.00 WIB, cuaca yang tadinya bersahabat lama kelamaan berubah. Hujan kabut dan abu vulkanik yang membuat mata sakit tiba-tiba turun sehingga kami harus menumpang untuk berlindung di dalam flysheet pendaki lain di Shelter 3.  Selama 2 jam, kami dan kurang lebih 10 pendaki menahan dingin dan menunggu hujan dan angin berhenti diluar. Matahari mulai keluar dari persembunyiannya, dan kami pun langsung bergegas melanjutkan perjalanan. Kabut yang menutupi dan hujan kembali turun.  Ahh kesalahan besar saya dan Fajar tidak membawa ponco yang kami tinggalkan di tenda karena lupa. Basah kuyup semua pakaian yang kami pakai dan kami mencari tempat berlindung dibawah batu. Semangat kami akhirnya pudar setelah mendengar petir dan kami memutuskan kembali ke tenda dan akan kembali summit attack besok harinya. Namun, setelah kami melewati Shelter3, saya sempat melihat kembali puncak Gunung Kerinci yang sudah tidak dihalangi kabut. Hati saya berbicara “Udah jauh-jauh kesini, masa gini doang nyerah”. Setelah berbicara dengan Fajar, akhirnya kami memutuskan kembali menuju puncak. Hujan kembali turun, tapi semangat kami semakin naik. Setelah sampai Tugu Yuda, puncak Gunung Kerinci semakin terlihat. Kami beberapa bertanya kepada pendaki yang sudah turun apakah puncak masih jauh. Langkah demi langkah kami lewati. 

Puncak Gunung Kerinci terihat dari Tugu Yuda

Pukul 09.00 WIB di ketinggian 3805 mdpl, kami berdiri di Atap Sumatra, Gunung Kerinci. Rasa haru dan bangga bisa sejauh ini melangkah. Kabut yang menutupi kawah dan di lain sisi lautan awan menambah kecantikan pemandangan ini. Tak lama-lama karena kedinginan kami bergegas berfoto. Tak lupa saya keluarkan Syal Kuning Gading kebanggaan untuk mendokumentasikan perjalanan ini. Setelah itu, kami turun dari puncak dengan kedinginan akibat basah kuyup. 

Puncak Gunung Kerinci

Pada saat turun dari puncak, terkadang saya memikirkan ngapain sih naik gunung, capek, ngabisin uang, mending di rumah aja nyaman. Namun, hal tersebut tidak bisa di jelaskan dengan alasan kata. Hasrat yang membuat ingin kembali dan mendaki gunung seolah lebih dari hobi, melainkan kebutuhan manusia yang membuatnya lebih bersyukur atas Tuhan YME yang telah menciptakannya dan alam ini. 

Terimakasih Kerinci. Izinkanlah aku kembali. Nanti

Penulis : Zufar Fauzan E / L-423


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*