lawalataipb/ May 14, 2020/ Berita Utama, Catatan Kajian, Cerita Anggota/ 0 comments

Halo sobat tirta L-IPB! Selamat hari terumbu karang nasional!

Saya mau sedikit berbagi informasi hasil dari mengikuti webinar yang diadakan oleh Divers Clean Action dan berkolaborasi dengan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), juga Kementrian Koordinator Kemaritiman (kemenkomaritim). Webinar ini mengundang banyak narasumber seperti Perkompulan Promoter dan Pendidik Kesehatan Masyarakat Indonesia (PPKMI), LIPI (bagian penelitian oseanografi), Perkumpulan Usaha Wisata Selam Indonesia (PUWSI), bahkan seorang peneliti dari negeri kangguru yang fokus terhadap perubahan perilaku dan sosial masyarakat. Dalam rangka memperingati hari terumbu karang nasional, webinar ini mengusung isu mengenai dampak pandemi terhadap perubahan perilaku, lingkungan, dan sampah laut.

Jadi, cerita sedikit, maaf kalau catatan saya ini kurang mewakili keseluruhan webinar karena saya membagi fokus antara kuliah dan webinar ini, namun insyaallah masih bisa bermanfaat walau hanya sedikit ya.

Pertama yang ingin saya sampaikan adalah isu pandemi dan lingkungan selalu dikaitkan, dimana banyak yang berpendapat bahwa lingkungan akan baik-baik saja atau justru membaik disaat manusia semua bekerja dan berkegiatan dari rumah. Namun demikian, itu tidak sepenuhnya benar, dari sudut pandang mana Anda melihanya. Bagi kota-kota komuter seperti Jakarta, titik timbulan sampah menurun hingga 10% dibanding sebelum pandemi ini terjadi. Bagi kota-kota kecil lainnya seperti Bogor tidak ada penurunan drastis titik-titik timbulan sampah (penurunannya dibawah 1%). Mengapa? Kota seperti Jakarta hampir di setiap sudutnya memiliki aktivitas yang padat, seperti di permukiman, daerah perkantoran, jalanan, dan tempat umum lain yang normalnya banyak memproduksi sampah. Kini tidak lagi padat bahkan nihil aktivitas. Akan tetapi adanya penurunan timbulan sampah bukan berarti permasalahan sampah saat ini sudah tidak ada lagi.

Kedua, masih terkait sampah. Kegiatan #dirumahaja tanpa disadari meningkatkan jumlah konsumsi sampah plastik. Mengapa? Masyarakat besar-besaran melakukan aktivitas serba online, seperti berbelanja, yang mana memerlukan packaging extra plastic dan hal itu hampir tak berhenti bahkan kian meningkat hari demi hari. Itulah yang membuat persentase sampah plastik meningkat dari hasil limbah rumah tangga selain limbah organik yang umumnya dihasilkan dari rumah tangga.

Ketiga, mulai masuk ke inti masalah. Sampah dari daratan, bisa-bisanya sampai ke laut. Apalagi si jahat plastik yang jadi toxic untuk biota laut, terutama terumbu karang. Udah pada tau belum bahwa Indonesia menjadi negara dengan jenis dan persebaran terumbu karang terbesar di dunia? Oleh sebab itu terdapat Perkumpulan Usaha Wisata Selam Indonesia. Sebelum masuk ke sektor wisata, kita harus peka nih, sama isu sampah laut yang gak kunjung beres. Kepoin deh Divers Clean Action yang rutin bersih-bersih laut dan pesisir. Alhamdulilah di Indonesia masih ada yang peka sama lautnya, kita juga ya. LIPI juga udah gerak, semenjak pandemi LIPI melakukan survey daring pesebaran sampah pesisir. Sementara KLHK juga melakukan aksi memasang jaring penghalang sampah di muara-muara sungai. Terus kok masih banyak ya sampah di laut? Alasannya itu, masyarakat kita yang belum banyak berubah. Karena sejatinya perubahan perilaku dilandasi oleh motivasi dan kesadaran sehingga aksi yang dilakukan para stakeholder dapat berdampak nyata (Thiele 2020)

Keempat, sektor pariwisata saat ini mati suri. Menyambung ke PUWSI sebagai organisasi yang fokus pada wisata perselaman Indonesia. Poin penting yang dapat diambil adalah ketika wisata tidak dapat memberi makan masyarakat, maka laut akan selalu jadi ladang uang mereka. Maksud disini adalah, karena ketiadaan wisatawan/pengunjung, sehingga terhentinya aktivitas utama masyarakat selaku penyedia jasa wisata, mengakibatkan menurunnya pemasukan, ini adalah alasan mereka kembali menjadi nelayan. Namun mirisnya, harga ikan sedang turun sedangkan stoknya melimpah, nelayan pun semakin sulit hidupnya. Mungkin ini menjadi penyebab mengapa sekarang dapat terdengar suara bom di Raja Ampat (nelayan illegal fishing) atau ditempat lain yang tidak diketahui kondisi terkininya karena belum dilakukan survei lebih lanjut. Miris bukan? Masih berpikir bahwa lingkungan akan baik-baik saja ditengah krisis seperti ini? Pasti jadi mikir berkali-kali.

Kelima, ini pesan saya yang mungkin sedikit memberi Anda pandangan lain terkait pandemi dan lingkungan. Kita diciptakan dengan dua mata, tidak ideal jika kita melihat suatu fenomena hanya dengan sebelah mata, terlebih fenomena ini jauh dari mata kita yang sekarang hanya menatap layar dan tembok rumah. Jika Anda percaya akan mata-mata lain diluar sana, pastikan akal dan naluri Anda juga, karena sejatinya kita tidak dapat memercayai siapapun kecuali diri Anda sendiri. Selamat hari terumbu karang nasional. Semoga keadaan dapat membaik, semoga laut kita lestari, agar bumi pertiwi tak menangis lagi.

Salam Lestari,

Ziadatunnisa Ilmi (L-405)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*