lawalataipb/ August 13, 2020/ Webinar/ 0 comments

            Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia telah ditetapkan pada tanggal 9 Agustus untuk memperingati pertemuan perdana PPB dalam membahas Masyarakat Adat (Kelompok Kerja PBB) di tahun 1982. Pada 9 Agustus 2020,  Lawalata IPB telah mengadakan “2nd Series Lawalata IPB Webinar” dalam rangka memperingati Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia dengan mengusung tema “Pentingnya Peran Generasi Muda Terhadap Masyarakat Adat dan Upaya Konservasi Berkelanjutan”. Narasumber yang hadir pada seminar daring ini yaitu Dr. Ir Soeryo Adiwibowo, MS (dosen Fakultas Ekologi Manusia IPB University, penasihat senior Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta pendiri Lawalata IPB), kemudian Abdon Nababan (Wakil Ketua Dewan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Nasional), dan Emmanuela Shinta (pendiri Ranu Welum Foundation). Seminar daring ini dimulai dengan penampilan dari Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Agria Swara IPB University dengan membawakan lagu Gayatri asal Bali yang memiliki arti doa, ucapan syukur, pengampunan dosa, dan permintaan berkat dari Sang Pencipta.

            Materi pertama disampaikan oleh Abdon Nababan dengan memperkenalkan AMAN sebagai organisasi masyarakat independen dan keterlibatan generasi muda terhadap masyarakat adat. Selain menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan AMAN Nasional, beliau juga merupakan anggota Lawalata IPB dengan nomor anggota L-199. Beliau menjelaskan cara untuk mengenali Masyarakat Adat yang ada di Indonesia. Dua hal penting yang perlu diketahui untuk mengenali Masyarakat Adat yaitu, pertama Masyarakat Adat dikenali dari keberadaannya sebagai sekelompok manusia yang memiliki perjalanan hidup bersejarah yang membuat mereka merasa memiliki budaya yang sama, kedua yaitu adanya wilayah geografis tertentu yang menopang kehidupan masyarakat secara turun-temurun sehingga menciptakan ikatan batiniah yang kuat dengan wilayah geografis tersebut. Pak Abdon menyampaikan bahwa Indonesia merupakan mega cultural diversity dan mega biological diversity, cara untuk menjaga keanekaragaman hayati di Indonesia adalah melalui menjaga budayanya. Menjaga alam, bagi Masyarakat Adat, merupakan bagian fundamental dari budaya mereka. Pesan Pak Abdon kepada generasi muda yaitu “Pergilah bermain ke alam bebas, bukan hanya untuk melihat alam melainkan berkenalan pula dengan Masyarakat Adat dan manusia yang mengelola alam. Saat ini tantangan bukan lagi seperti pada masa kolonial, melainkan dari kekerasan negara sendiri. Maka dari itu periksalah diri kalian, jika kalian memiliki turunan Masyarakat Adat dan berbanggalah menjadi bagian dari warga adat. Jadilah bagian dari gerakan sosial yang memulihkan jati diri bangsa Indonesia.”

            Materi selanjutnya disampaikan oleh Dr. Ir. Soeryo Adiwibowo, MS. Beliau menjelaskan bahwa terdapat empat elemen penting dari Ekologi Masyarakat Hukum Adat. Pertama, alam dimata Masyarakat Adat merupakan hasil konstruksi sosial. Kedua, alam ditempatkan sebagai kesatuan sistem dimana sosial-kebudayaan, alam, dan spiritualitas dijadikan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Ketiga, sistem pengetahuan telah lahir dan terbentuk melalui tantangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari (trial and error). Keempat, telah terbentuknya rezim tanah ulayat (wilayah) terkait penguasaan sumber-sumber alam baik tanah komunal maupun tanah privat (individu). Melalui studi kasus Masyarakat Adat Talang Mamak, Pak Bowo menjelaskan pandangan Suku Talang Mamak terhadap dunia luar (world view) yang disampaikan melalui syair-syair. Syair-syair tersebut berisi pemahaman Suku Talang Mamak mengenai pentingnya fungsi hutan terhadap kehidupan Suku Talang Mamak. Jika hutan tempat Suku Talang Mamak tinggal dialihfungsikan menjadi lahan lain, maka punahlah Suku Talang Mamak. Pesan Pak Bowo kepada generasi muda yaitu “Masyarakat Hukum Adat adalah tempat untuk mempelajari kembali kearifan, pengetahuan dan tradisi masyarakat Indonesia. Sifat-sifat yang dapat dicontoh dari Masyarakat Adat yaitu kejujuran, ketulusan, keikhlasan, gotong-royong, dan menyatu dengan alam.”

            Materi terakhir disampaikan oleh Emmanuela Shinta. Beliau merupakan orang Suku Dayak Ma’anyan asli, lahir dan tumbuh besar di Kalimantan. Mba Shinta menceritakan pengalamannya ketika datang ke kota lalu menemukan adanya stigma-stigma yang salah dari orang-orang kota mengenai Masyarakat Adat. Melihat adanya pemahaman yang salah dari orang-orang kota mengenai Masyarakat Adat, muncullah gerakan untuk menceritakan seperti apa Masyarakat Adat (dalam hal ini Suku Dayak) dari perspektif Masyarakat Adat Suku Daya melalui video-video yang dibuat oleh Ranu Welum Foundation. Mba Shinta menegaskan bahwa Masyarakat Adat bukan sebuah objek, melainkan subjek utama dari kehidupannya sendiri, Masyarakat Adat tidak akan mengambil sesuatu dari alam secara berlebihan dan alam dilihat sebagai sebuah kehidupan, bukan hanya sumber untuk mencari uang. Pesan Mba Shinta kepada generasi muda yaitu “Perjuangan Masyarakat Adat adalah perjuangan kita Bersama. Generasi muda merupakan jembatan antara generasi dahulu dengan genarasi masa depan, maka dari itu penting untuk memulai perjuangan dari sekarang.”

            Ketiga narasumber yang sudah memaparkan materi pada seminar daring ini memiliki satu pandangan yang sama bahwa belajar kepada Masyarakat Adat merupakan kunci dari upaya konservasi untuk generasi mendatang dan generasi muda memiliki peran penting untuk membetulkan stigma-stigma yang salah terhadap Masyarakat Adat dengan penyebarluasan informasi yang benar melalui media sosial masing-masing. Jika dilakukan secara gotong-royong, maka stigma-stigma tersebut dapat terhapus. Lawalata IPB sebagai organisasi pecinta alam memiliki peran dalam mewakili generasi dahulu dan generasi muda sebagai jembatan kepada Masyarakat Adat serta orang luar demi mempersiapkan generasi mendatang. Salah satu kegiatan Lawalata IPB dengan Masyarakat Adat yaitu dengan adanya Ekspedisi Putri Punan Semeriot dengan mengkaji Kearifan Lokat Masyarakat Suku Dayak terhadap Rangkong (Bucerotidae) di Hutan Adat Suku Punan Semeriot, Kalimantan Utara, kegiatan tersebut dapat dilihat di kanal Youtube Lawalata IPB.

            Selamat Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia, mari bersama belajar, menghargai, dan mensyukuri keberadaan Masyarakat Adat demi kelestarian keanekaragaman hayati serta budaya di Indonesia.

Ditulis oleh : Adinda Egreina Putri
Disunting oleh : Ziadatunnisa Ilmi Latifa

Materi : Klik disini

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*