lawalataipb/ December 13, 2020/ Catatan Perjalanan, Cerita Anggota/ 0 comments

Bersepeda sebenarnya bukan hobi saya, namun ada rasa tersendiri yang membuat saya menyukai olahraga satu ini. Selain simple, bersepeda juga memberi saya inspirasi ketika gowesan dari kaki kanan dan kaki kiri saling bergantian.

Sabtu, 13 Desember 2020, sehari sebelumnya sebuah ajakan dari senior saya di Lawalata IPB, yaitu Aziz atau akrab dipanggil Karat, mengajak saya bersepeda melalui kolom chat Whatsapp. Ajakan ini sebenarnya membuat saya bimbang apakah saya meng’iya’kan ajakan tersebut atau tidak. Karena seperti biasanya, hari weekend yang saya lalui hanya berkegiatan di Sekretariat Lawalata IPB. Kebetulan minggu ini, Lawalata IPB mendapat undangan untuk mengisi materi dalam acara Bakukung Education Camp Session 1 di Cianten, Jawa Barat. Acara tersebut diisi oleh beberapa kegiatan yaitu, diskusi terkait konservasi, jungle survival, search and rescue, penanaman pohon, sharing sessions, live music, dan acara seru lainnya. Apa boleh buat, sudah lama saya tidak bersepeda yang cukup jauh dan lumayan sedikit ingin menghilangkan rasa penat, saya meng’iya’kan ajakannya.


Bakukung Education Camp session 1 di Cianten, Jawa Barat.

Sekretariat Lawalata IPB merupakan titik kami memulai bersepeda. Pukul 09.30, kami berdua perlahan mengayuh sepeda meninggalkan kampus tercinta. Jalan raya macet yang khas di Dramaga menyambut kami di awal perjalanan.

Sudah suntuk dengan asap kendaraan, walau kami berdua memakai masker, akhirnya kami berbelok di  Pertigaan Leuwiliang untuk menuju Jl. Raya Leuwiliang Karacak. Di depan Kecamatan Leuwiliang, kami beristirahat sambil meminum es teh manis. Setelah kami berdua sudah tau, beberapa tanjakan akan kami lewati. Waktu tengah hari sudah tiba, rasa lapar dan matahari yang menyengat menemani gowesan sepeda yang semakin perlahan. Tepat pukul 13.00 WIB, akhirnya kami tiba di Desa Puraseda. Nasi Padang menjadi santapan makan siang kami untuk mengisi tenaga yang sudah terkuras. Sungguh nikmat sekali…


Selanjutnya, perjalanan semakin parah. Untuk menuju Perkebunan Teh Cianten, kami harus melewati beberapa desa dan hutan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Tanjakan yang sangat terjal, membuat kami turun dari sepeda dan mendorongnya. Maklum, kami sudah lama tidak bersepeda sejauh ini. Dibalik rasa capek tersebut, pemandangan alam selama perjalanan sangat indah.


Mengabadikan foto sejenak di tengah-tengah perjalanan.

Beberapa kali kami diam dipinggir jalan, sembari mengatur nafas, kami sengaja untuk mengabadikan momen dan  melihat pemandangan  asri dibalik hiruk piruk kehidupan kota diujung sana. Satu sama lain kami saling menyemangati. “yok bisa yok”, teriak kami bergantian ketika dihadapkan dengan tanjakan, walau ujungnya tetap kami dorong sepeda yang kami kendarai. Jalanan terus menanjak. Memasuki hutan yang ditemani embun tipis dan jalan yang rusak. Kami menemui seorang bapak dan anaknya yang sedang mengais rejeki dengan memperbaiki jalan yang berlubang. Kami berbincang sebentar, duduk di pondok yang dibuat bapak tersebut dan meminta air di sumber mata air tak jauh dari tempat tersebut. Komunitas motor bebek jadul banyak sekali melintas di siang menuju sore itu yang membuat kami ingin naik motor saja. Manusia memang begitu, ada yang mudah mengapa pilih yang susah. Namun, dibalik hal tersebut ada hasil yang menunggu dan tidak semua orang tidak dapat merasakannya.


Kebun Teh Cianten yang sangat indah.

Dengan persedian tenaga yang masih ada,  akhirnya kami di Kebun Teh Cianten pukul 16.30 WIB. Udara sejuk dan hijaunya di kanan kiri, menyambut rasa lelah kami. Soto Mie menjadi pilihan kami, sebelum kami berbelok ke lokasi Wisata Bakukung. Di pintu gerbang Wisata Bakukung kami bertemu dengan teman-teman panitia. Kami menjelaskan asal dan tujuan kami dalam acara tersebut. Kami dipersilahkan masuk ke tempat acara berlangsung. Bang Ghonjes, senior kami di Lawalata IPB, yang tadi siang kami temui di perjalanan, sudah menunggu disana. Sudah banyak berdiri tenda para peserta dan  ramainya orang yang memeriahkan acara. Kami berkenalan dengan teman-teman disana. Sambutan hangat membuat rasa capek sedari pagi bersepeda hilang.

Acara malam akan tiba. Secangkir kopi memulai perbincangan kami dengan teman-teman Komunitas Pencinta Alam dari Kabandungan. OT dan Kentang, keluargaku di Lawalata IPB yang menyusul menggunakan motor akhirnya datang. Malam tersebut sangat meriah, walau hujan kerap turun pada saat jalannya acara. Serial diskusi dari teman-teman komunitas dari Kabandungan mengisi acara malam tersebut. Teman-teman dari Komunitas Absolut asli Kabandungan sangat menghibur dan menambah pengetahuan kami saat diskusi tersebut. Tak lupa, acara puncak dan penutup yaitu penampilan musik reggae menambah kecerian malam di tengah hutan.

Pagi harinya, kami memulai acara Bakukung Education Camp Session 1 dengan senam. Gelak tawa sudah menghiasi diawal hari tersebut. Setelah semua duduk berkumpul, akhirnya Lawalata IPB dipersilahkan maju keatas panggung untuk sharing diskusi terkait Jungle Survival. Seharusnya yang mengisi materi ini adalah OT dan Kentang, namun OT mempersilahkan saya dan Kentang untuk menyampaikan materi ini.


Sharing session tentang jungle survival oleh Lawalata IPB.

Banyolan Kentang yang khas, membuat diskusi ini mengasyikan. Santai tapi serius, saya dan Kentang menyampaikan materi dasar seputar Teknik Hidup di Alam bebas, seperti membuat api, membuat tempat berlindung dan makanan atau minuman yang bisa dicari di hutan. Berbagai pertanyaan dari teman-teman Komunitas Pencinta Alam kepada kami membuat diskusi ini sangat interaktif. Setelah diskusi ini, saya harus segera kembali pulang karena memang saya dan ka Karat harus kembali bersepeda mengejar waktu agar tidak kemalaman di perjalanan. OT dan Kentang melanjutkan acara hingga akhir bersama teman-teman yang lain. Setelah berpamitan, saya dan ka Karat kembali mengayuh pedal sepeda untuk menuju kembali ke tempat rutinitas seperti biasa, Kampoeng Lawalata.


Kegiatan penanaman pohon di lokasi acara

Sungguh,  perjalanan ini sangat bermanfaat. Olahraga melepas penat, mencari inspirasi dan berdiskusi dengan teman-teman yang sehobi dalam acara tersebut tidak saya sesali. Memang, setiap manusia dalam rutinitasnya harus keluar sejenak dari zonanya. Pada prinsipnya, seorang Pencinta Alam harus kembali kepada alam. Mengenali, bermain, dan menjaga itulah hakekatnya cinta yang sesungguhnya.


Terimakasih, keluarga baru.

Ditulis Oleh: Zufar Fauzan E (L-423)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*