lawalataipb/ December 24, 2020/ Catatan Perjalanan, Cerita Anggota, Kelompok Minat/ 0 comments

Akhir pekan lalu, (24/12/2020), saya berkesempatan mengikuti kegiatan penelusuran gua (caving) di sekitar Karst Gunung Guha yang berlokasi di Kampung Rawassel, Kecamatan Jampang Tengah, Sukabumi, Jawa Barat. Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari itu, terbagi kedalam dua aktivitas, yaitu survey pendataan potensi Kawasan karst dan pemetaan gua Sibibijilan. Malam itu, sebanyak 12 orang anggota Lawalata IPB berangkat dari sekretariat menuju Situ Cipiit. Tentunya banyak hal yang kami siapkan sebelum berangkat. Mulai dari menyiapkan peralatan caving sampai dengan kebutuhan logistik tim. Perjalanan sangat melelahkan sebab jalan menuju Situ Cipiit ini kurang baik. Apalagi pada saat kami kesana sedang musim hujan, membuat jalanan berlumpur mengakibatkan ban kendaraan licin. Itulah salah satu faktor penghambat kami untuk menuju lokasi tujuan. Tak terasa 4 jam perjalanan kami lalui, sekitar pukul 01.00 WIB kami sampai di Situ Cipiit. Suasana malam itu begitu sejuk. setelah sampai lokasi Tim langsung bersih-bersih dan istirahat.

Pagi harinya pemandangan indah mulai tampak, sebuah danau (situ) yang dikelilingi hutan pinus mulai terlihat. Hari itu, Tim sepakat untuk melakukan survey gua setelah ibadah sholat Jumat. Sembari menyiapkan kebutuhan survey, kami mengisi dengan candaan, makan, memancing dan ada juga yang melanjutkan istirahat. Selain mengumpulkan informasi dari warga lokal terkait keberadaan gua, sebelumnya Tim juga telah mencoba mengidentifikasi keberadaan gua melalui peta topografi di Kawasan tersebut. Hari itu, Tim ditemani oleh empat orang warga lokal untuk menuju ke beberapa gua berdasarkan informasi yang didapatkan.


Di perjalanan menuju gua, banyak terselip keindahan bentang alam yang sangat menakjubkan. Bukit-bukit menjulang tinggi, kami berjalan melintasinya. Dari puncak bukit, telaga yang dikelilingi pinus memberi kesan visual yang jarang terlihat mata. Namun, disisi bukit yang lain terlihat jelas aktivitas penambangan batu gamping yang sedikit demi sedikit mengeruk keindahan itu. Lokasi penambangan itu tepat bersampingan dengan Situ Cipiit, hanya dipisahkan oleh satu bukit disampingnya. Lebih lanjut menurut Fauzi salah satu warga yang ikut survey bersama kami, di lokasi yang sedang ditambang tersebut terdapat sekitar tujuh gua. Namun, kami tidak bisa kesana untuk survey karena area tersebut masuk dalam kawasan tambang sehingga kami tidak diizinkan untuk kesana bahkan warga setempat pun juga.

Hari pertama penjelajahan, Tim berhasil mendata sekitar tujuh gua. Gua yang ditemukan memiliki karakteristik Lorong yang beragam.  Ada gua dengan Lorong horizontal, vertical maupun kombinasi keduanya. Satu gua yaitu Gua Picung memiliki aliran sungai bawah tanah. Selain mendata gua, Tim juga mendata mata air. Ada satu mata air yang berhasil didata oleh Tim di hari itu yaitu mata air pondok salada. Menurut Fauzi, air yang keluar dari mata air pondok salada berasal dari Gua Picung.

Keesokan harinya (26/12/2020), Tim memutuskan untuk melakukan penelusuran dan pemetaan gua di gua Sibibijilan. Tim memilih gua Sibibijilan karena memiliki aliran sungai bawah tanah yang dimanfaatkan masyarakat untuk pengairan sawah. Selain itu, sebelumnya Tim juga telah mempertimbangkan terkait safety penelusurannya. Itu kali pertama saya menelusuri gua (caving). Sesampainya di mulut gua, saya merasa takut karena stigma saya menganggap gua adalah tempat yang sakral dan banyak hal mistis yang hanya di huni mahkluk halus. Sangat takut betul waktu itu. Sampai masuk dan menelusuri gua pun saya masih memegang erat stigma itu. Tetapi, semakin menyusur ke dalam gua, rasa takut pun larut dengan keindahan gua yang sangat indah. Melarutkan pikiran negatif dan rasa takut isi kepalaku. Keindahan gua nya sangat memukau mata. Banyak batuan aneh dan perdana saya lihat. Batuan tersebut ialah flow stone bentuknya seperti ubur-ubur, straw yang bentuknya mirip sedotan dan meneteskan air. Sebenarnya masih ada banyak lagi tetapi yang saya bisa identifikasi hanyalah dua ornament tersebut.

Ketika penelusuran gua, saya diberi kesempatan untuk belajar pemetaan (mapping). Yang saya pelajari, dalam pemetaangua terdapat beberapa metode. kami sendiri memakai metode forward metode. Pada saat melakukan pemetaan (mapping) saya ditugaskan menjadi deskriptor yang tugasnya mencatat ukuran panjang, lebar, arah, kemiringan. Ketika sampai di ujung lorong, lantai Lorong gua mulai berubah, lumpur semakin menelan kedua kaki saya, sehingga menghambat langkah berjalan. Sampai ujung Lorong gua berupa Lorong yang terendam air dan kami tidak bisa lagi menelusurinya sehingga pemetaan pun diakhiri. Itulah sedikit pengalaman yang saya ingin bagikan. Ketika selesai penelusuran gua, kami istirahat sejenak di depan mulut gua sembari melihat keseluruhan badan yang penuh luka gores karena jatuh berkali-kali. Namun, Itu hal biasa dalam melakukan petualangan apalagi penelusuran gua yang notabene tempat yang jarang dimasuki oleh manusia.

Yang perlu ditekankan, kita harus siap dengan konsekuensinya ketika mengambil resiko tersebut. Hal dasar yang masih saya ingat dan pegang Ketika masih menjalani pembinaan MPCA di waktu yang lalu.  Slogan “Hanya orang-orang berani mengambil  resiko yang akan merasakan kebebasan”, Itu yang selalu terbisik ketika merasakan ketakutan dalam melangkah. Sebuah pengalaman dan pembelajaran yang sangat menyenangkan bisa berpetualang bersama Lawalata IPB. Ilmu-ilmu baru yang saya dapatkan selama petualangan ini ialah gua merupakan tempat yang banyak menyimpan keindahan yang selama ini tersembunyi di perut bumi kawasan karst. Namun, seiring berjalannya waktu kawasan itu terancam eksploitasi yang mulai mengeruk isi kawasan itu.


Ditulis Oleh: Muhammad Anugerah Raharjo (L-AM)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*