lawalataipb/ December 31, 2020/ Catatan Perjalanan, Cerita Anggota/ 0 comments

Sembalun 7 Summits adalah konsep tantangan petualangan untuk menggapai 7 Puncak Tertinggi di Kawasan Sembalun. Dilansir dari situs sembalun7summit.com, kawasan Sembalun sendiri adalah kaldera gunung api purba yang berumur 0, 45 juta tahun lalu. Gunung yang ada di Sembalun ini adalah sisa dinding-dinding dari kaldera purba tersebut. Tujuh gunung tersebut adalah Rinjani, Sempana, Gedong Lembah, Kondo, Anak Dara, Pergasingan, dan Bao Ritip. Pada tanggal 20-29 Desember 2020 tim Lawalata IPB berhasil mencapai ketujuh puncak tersebut. Tim terdiri dari tiga orang anggota muda yaitu Adam, Ridzki, dan Galan juga bersama teman kami Fadli.

1.Rinjani

Tim berangkat dari Bogor pada tanggal 17 Desember 2020 menggunakan pesawat. Perjalanan memakan waktu selama dua jam dari Bandara Soekarno Hatta menuju Bandara Internasional Lombok. Sesampainya di sana kami langsung menuju Mataram untuk menemui kawan-kawan mapala di Universitas Mataram. Ada beberapa opsi untuk pergi ke Mataram seperti Damri, taksi bandara, atau juga travel lokal. Kami memilih untuk menggunakan travel lokal karena harga yang bisa ditawar dan bisa dibilang lebih nyaman. Tarif yang dipatok bergantung pada kemampuan kita untuk bernego dengan si supr. Ketika itu kami dikenakan tarif sebesar Rp 130.000 untuk satu mobil.Kami singgah di Mataram untuk beristirahat sembari mempersiapkan logistik untuk pendakian. Di Mataram kami singgah di Universitas Mataram bersama teman-teman mapala Grahapala Rinjani. Kami menginap selama dua malam di sini. Pendakian ke Gunung Rinjani dijadwalkan pada tanggal 20 Desember sehingga pada malam sebelum pendakian kami harus sudah ada di Sembalun.. Transportasi menuju Sembalun dapat dibilang cukup jarang. Sebenarnya ada transportasi dari DAMRI yang berangkat dari Mataram. Namun, dari informasi yang kami terima jadwal keberangkatan dengan DAMRI menyesuaikan jumlah penumpang yang ada. Ketika itu kami diantar oleh rekan Fadli yang merupakan orang Sembalun. Perjalanan menuju Sembalun cukup jauh dan kami sampai sekitar dua sampai tiga jam dari Mataram. Kami sampai dini hari di sana. Tidak ada toko atau warung yang buka sehingga kami memutuskan untuk singgah di masjid yang ada di depan kantor resort gunung rinjani.

Keesokan paginya kami langsung melakukan registrasi. Kantor buka sejak pukul delapan pagi. Setelah itu, kami menyempatkan untuk sarapan terlebih dahulu di kedai nasi dekat kantor resort tadi. Kami juga melengkapi logistic yang belum terpenuhi. Setelah semua persiapan selesai kami pun langsung berangkat melalui pintu Bawak Nao. Jarak dari kantor resort ke pintu Bawak Nao cukup jauh sehingga perlu menyewa pick up. Harga sewa pick up berkisar Rp 150.000 untuk satu pick up. Perjalanan memakan waktu 20 menit menuju pintu Bawak Nao. Sampai di pintu Bawak Nao kami langsung melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Medan cukup landai karena melewati padang rumput. Kemudian akan mulai menanjak dan masuk ke hutan namun tidak terlalu lama. Setelah keluar hutan mulai dengan medan padang savana. Perjalanan menuju pos 1 memakan waktu satu jam 30 menit. Kondisi cuaca saat itu cukup terik sehingga membuat kami cepat lelah. Sampai di pos 1 kami memutuskan untuk beristirahat sebentar. Hanya sekitar lima menit kami beristirahat di pos 1 yang berbentuk shelter. Tak lama kemudian kami kembali melanjutkan perjalanan. Cuaca Ketika itu cukup terik sehingga cukup membuat kami kelelahan, ditambah lagi dengan vegetasi padang savanna yang membuat kami jarang berteduh. Perjalanan menuju pos 2 memakan waktu sekitar 30 menit. Sesampainya di sana kami beristrirahat cukup lama. Di pos 2 ini kita bisa mengisi air karena ada sumber air di bawah jembatan. Di Pos 2 ini juga terdapat beberapa saung sehingga membuat kita nyaman untuk beristirahat.

Kami kemudian melanjutkan perjalanan dari pos 2. Perjalanan menuju pos 3 mulai sulit. Jalanan menanjak dan kadang bebatuan. Kondisi cuaca Ketika itu pun mulai hujan sehingga perjalanan kami cukup terhambat. Sampai di pos 3, kami kembali beristirahat cukup lama. Sekitar 30 menit kami beristirahat di pos 3 ini. Kami menyempatkan untuk makan siang di pos ini. Kemudian perjalanan kami lanjutkan ke pos 4. Cuaca kembali hujan ketika menuju pos 4. Hujan cukup lebat sehingga menghambat perjalanan kami. Medan menuju pos 4 dominan menanjak dan jarang mendapat jalur yang landai. Sekitar 1 jam 10 menit kami sampai di pos 4 ini. Kondisi cuaca masih hujan ketika itu.Sampai di pos 4 kami berhenti sejenak. Kami bertemu beberapa pendaki lain di sini yang sedang meneduh. Kondisi cuaca Rinjani memang akhir akhir ini sering hujan sehingga menjadi tantangan sendiri untuk mendaki ketika itu. Kami tidak terlalu lama singgah di pos 4 ini. Melihat kondisi cuaca yang tak berubah-ubah kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan walaupun cuaca sedang hujan. Pos selanjutnya yang kami tuju adalah pelawangan. Pelawangan adalah pos camp terakhir sebelum kami akhirnya pergi ke puncak Rinjani. Waktu yang dibiutuhkan untuk sampai ke Pelawangan sekitar 2 jam 40 menit. Estimasi tersebut ketika cuaca sedang hujan lebat. Pelawangan adalah pos camp terakhir sebelum pendaki pergi ke puncak Rinjani. Ada dua bagian pelawangan, yaitu pelawangan satu dan dua. Kami memilih untuk mendirikan tenda di Pelawangan dua karena lebih sepi. Kondisi cuaca ketika itu mendung karena saat itu baru saja hujan lebat. Danau sagara anak pun kurang terlihat jelas karena tertutup awan. Setelah tenda sudah didirikan kami langsung beristirahat untuk persiapan pergi ke puncak dini hari tadi.

            Waktu menunjukan pukul satu dini hari. Kami bangun dan bersiap-siap untuk pergi ke puncak. Kami memilih untuk sarapan dengan mie instan ketika itu karena lebih praktis untuk dimakan. Sekitar pukul setengah tiga akhirnya kami sudah siap untuk melanjutkan pendakian.Perlu diperhatikan logistik yang harus diperhatikan saat pergi ke puncak. Barang penting seperti headlamp untuk penerangan dan baterai cadangan haruslah dipersiapkan. Selain itu baju hangat, sarung tangan, dan gaiter  juga harus dibawa sebagai alat penunjang saat pergi ke puncak. Jalur menuju puncak bisa dikatakan lumayan. Medan yang dilalui adalah jalur berpasir yang pastinya sangat melelahkan. Hal yang membuat melelahkan adalah langkah kita yang akan terperosok setelah beberapa langkah naik. Trek pasir ini yang menjadi tantangan dalam memuncaki gunung Rinjani ini. Selain jalurnya yang berpasir,  jalur ini memutari kawah yang membuat jalur terasa panjang. Sekitar empat jam di jalur bepasir, akhirnya kami sampai di puncak Rinjani. Cuaca cerah menemani kami ketika sampai di puncak. Sungguh pemandangan indah di atas ketingguan 3726 mdpl. Danau sagara anak yang memesona ditambah gunung baru jari yang menambah keindahan. Rinjani memang indah. Namun, ada perjuangan untuk menggapainya.

           Hari mulai siang dan terik, puncak pun semakin ramai oleh pendaki yang baru dating. Hampir tiga jam lebih kami berada di puncak dan akhirnya memutuskan untuk turun ke pelawangan. Cuaca masih cerah ketika turun. Waktu tempuh kami naik dan turun dari dan ke pelawangan hampir. Memakan waktu sekitar empat jam berjalan. Hal tersebut dikarenakan memang jalur menuju puncak yang sangat panjang. Sampai di pelawangan kami terkejut melihat tenda kami. Tidak menyangka tenda yang kami tinggal ternyata robek akibat diserang monyet. Mungkin ini bisa menjadi pelajaran bagi teman-teman untuk menitipkan tenda apabila ingin pergi ke puncak. Perbekalan kami ternyata yang dirampas oleh monyet Rinjani tersebut. Ya perilaku monyet di sini sudah berubah. Tentunya karena kebiasaan pendaki yang sering memberi makan para monyet sehingga menjadi terbiasa mendekati manusia.  Dengan kondisi demikian, terpaksa kami memutuskan untuk turun lebih awal. Rencana awal yang tadinya berencana untuk singgah di Danau Segara Anak sehari lagi akhirnya tidak tercapai. Cuaca yang mulai mendung membuat kami bergegas untuk turun dari Rinjani. Cuca memang tidak bisa diprediksi padahal beberapa saat sebelumnya langit sangat cerah. Sekitar pukul dua siang kami mulai berjalan turun dari pelawangan. Benar saja langit menjadi gelap seketika. Rintik-rintik air pun mulai terasa walaupun tidak cukup deras. Berbeda sekali dengan saat menanjak waktu tempuh kami menuju basecamp bisa dikatakan cukup cepat. Tapi jelas saja tempo kami lebih cepat karena kami berlari saat turun dari Rinjani saat itu. Akhirnya sekitar pukul enam, kami sampai di pondok milik kawan kami yaitu Parman yang berada di dekat pintu Bawak Nao. Melihat kondisi sudah gelap dan resort telah tutup kami memutuskan untuk menginap di pondok dan melakukan check out keesokan harinya.

2. Anak Dara

Dua hari satu malam sudah kami lewati untuk mendaki Gunung Rinjani. Masih ada enam gunung lain yang harus dituntaskan. Gunung yang kami targetkan setelah Rinjani adalah Gunung Anak Dara. Namun, kami menyempatkan beristirahat selama dua malam karena cukup melelahkan setelah mendaki Rinjani. Dua malam beristirahat, tenaga kami dirasa sudah pulih untuk kembali berkegiatan. Kami kemudian kembali ke Sembalun dan singgah di Bawak Nao tempat teman kami waktu itu Parman. Pada malam hari kami baru sampai di Bawak Nao dan langsung beristirahat untuk mendaki gunung Anak Dara pagi besok.

Pagi pun tiba, kami bersiap-siap untuk pergi. Tak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di kaki Gunung Anak Dara. Hanya butuh kurang lebih 30 menit dari Bawak Nao. Sampai di sana kami kemudian langsung mendaki. Pada awal mendaki vegetasi cukup rapat. Kondisi jalur tidak terlalu curam. Tercatat kami mulai mendaki pukul 06.55. Sebab jalurnya yang tak cukup sulit kami jarang sekali beristirahat. Setelah 25 menit berjalan akhirnya kami sampai di pos 1. Kami langsung melanjutkan perjalanan karena tidak terlalu lelah. Pos 2 tidak lama juga kami capai. Jalur antara pos 1 sampai 2 mulai lebih menanjak. Vegetasi mulai terbuka dan sangat terbuka setelah pos 2. Beberapa kali pun tebing yang curam kami lewati. Ada bantuan tali juga yang disediakan pengelola untuk memudahkan saat mendaki. Waktu tempuh dari pos 1 menuju pos 2 sekitar 20 menit. Kami juga langsung melanjutkan perjalanan saat sampai di pos 2 menuju puncak.

Jalur menuju puncak dari pos 2 awalnya menurun. Kemudian menanjak walaupun tidak terlalu curam. Cuaca saat itu cerah sehingga terik matahari sangat terasa menyambar kulit kami. Tak lama berjalan mungkin sekitar 25 menit kami akhirnya sampai di puncak Anak Dara yang berketinggian 1923 mdpl. Pemandangan indah berlatar Gunung Rinjani. Kami berfoto dan beristirahat selama 20 menit. Oh iya di Gunung Anak Dara ini tidak ada mata air sehingga jika ingin mendaki harus mempersiapkan kebutuhan untuk minum yang cukup untuk naik dan turun. Setelah puas berfoto kami kemudian langsung turun. Kami menuruni gunung dengan berlari. Karena jalur yang tidak terlalu sulit kami hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit hingga sampai ke bawah.

3. Kondo

Gunung ketiga yang kami daki adalah Kondo. Gunung Kondo ini juga merupakan destinasi wisata Savana Propok. Kami mendaki Gunung Kondo setelah Gunung Anak Dara di hari yang sama. Kami mulai mendaki sekitar pukul 10.15. Sebelum mendaki kami diharuskan membayar tiket Rp 10.000 per orang dan juga biaya parkir Rp 10.000 untuk satu motor. Jalur di gunung ini awalnya landai. Namun lama-kelamaan mulai curam. Vegetasi awalnya pun tertutup sama seperti gunung pada umumnya. Sudah 30 menit berjalan akhirnya kami sampai di pos 1. Tidak lama beristirahat karena kami ingin cepat menyelesaikan mendaki gunung ini. Kami beristirahat hanya sekitar lima menit. Kemudian kami melanjutkan perjalanan kembali dan akhirnya sampai di pos 2. Hanya membutuhkan waktu 20 menit untuk mencapai pos 2 dari pos 1 sebelumnya. Lalu kami melanjutkan perjalanan Kembali menuju pelawangan. Pelawangan ini merupakan simpangan ke Savana Propok dan puncak Kondo. Sekitar 20 menit kami sampai di pelawangan ini.

Simpangan pelawangan kami kemudian belok ke kiri menuju puncak Kondo. Pada simpangan ini kita harus teliti karena papan penunjuk yang sedikit. Jalur dari pelawangan menuju puncak bisa dikatakan cukup berbahaya. Jalurnya bisa dibilang seperti punggung naga. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke puncak dari pelawangan kurang lebih 30 menit. Ketika mendekati puncak jalur Kembali melebar dan menanjak. Beberapa saat sebelum puncak terdapat palang bertulis puncak kondo, tapi jangan terkecoh puncak sebenarnya belum sampai. Sekitar lima menit setelah palang tersebut adalah puncak sebenarnya. Dan akhirnya kami sampai di puncak Kondo di ketinggian 1934 mdpl. Cukup lama kami diam di puncak, beristirahat dan bersantai. Cuaca ketika itu mendung dan berkabut. Pendaki pun hanya kami bertiga yang pergi ke puncak Kondo. Kami bertemu pendaki lain namun mereka turun ke Savana Propok. Pukul 12.30 akhirnya kami turun dari puncak Kondo. Seperti biasa kami menuruni gunung dengan berlari. Sekitar pukul 13.25 kami pun sudah sampai di area parkir.

4. Bao Ritip

Bao ritip gunung dengan ketinggian terendah dari enam gunung lainnya yaitu 1500 mdpl. Walaupun demikian jalur pendakian menuju puncaknya yang paling panjang setelah Rinjani. Ditambah lagi kami harus menyewa guide karena jalur yang belum banyak diketahui orang. Biaya guide terbilang cukup mahal yaitu Rp 300.000. Kami berangkat pagi hari dari Bawak Nao dan mulai mendaki pukul delapan. Cuaca ketika itu cerah dan vegetasi di awal terutup. Jalur awalnya landai melewati sungai hujan. Tak lama setelah itu masuk ke hutan. Jalur kemudian mulai menanjak. Setelah cukup lama masuk hutan akhirnya kami memasuki vegetasi savanna. Vegetasi savanna yang terbuka membuat kami cepat kelelahan ditambah cuaca terik yang menyerang. Beberapa kali kami beristirahat saat melewati vegetasi savanna ini. Kondisi jalur mulai beragam terkadang naik dan juga menurun. Namun akhirnya jalur terus menurun dan kembali masuk vegetasi hutan.

Tak lama setelah masuk hutan kita akan bertemu sungai. Nah ini juga menjadi saran bagi pendaki lain untuk tidak perlu membawa perbekalan air yang terlalu banyak karena dapat mengambil air di sungai ini. Setelah melewati sungai jalur kembali menanjak. Vegetasi hutan dan masih tertutup. Kondisi jalur karena jarang dilewati sangat samar bila dilihat oleh orang awam. Ini lah alas an mengapa diharuskan menggunakan guide. Cukup lama berjalan menanjak, menuruni bukut, dan juga melewati saddle akhirnya kami sampai di puncak Bao Ritip. Sangat melelahkan mencapai puncak dengan ketinggian 1500 mdpl. Kami sampai di puncak pada pukul 10.55. Selama satu jam kami berada di puncak untuk beristirahat dan makan siang. Melihat kondisi cuaca yang mulai mendung kami pun bergegas untuk kembali. Kami mulai meninggalkan puncak pada pukul 11.55. Kondisi jalur yang panjang dengan medan naik dan turun membuat waktu perjalanan hampir sama dengan saat kami naik. Sekitar pukul 15.25 kami pun sampai di bawah.

4.Pergasingan

Pergasingan merupakan gunung kelima yang kami daki. Gunung ini memiliki ketinggian 1806 mdpl. Kami berangkat dari Bawak Nao. Membutuhkan waktu sekitar 15 menit menggunakan motor. Tiket gunung Pergasingan adalah Rp 10.000 itu sudah termasuk dengan biaya parkir.

Kami mulai mendaki pukul 06.55. Pendakian diawali dengan jalur tangga. Kemudian jalur berubah menjadi jalur tanah dan bebatuan. Sepanjang jalur juga terdapat kotoran hewan herbivora sehingga harus berhati-hati agar tidak terinjak. Vegetasi awal masih terbuka namun setelah melewati area camping akan memasuki vegetasi hutan. Memasuki vegetasi hutan tidak terlalu jauh dan jalurnya pun landau walaupun sedikit menanjak.Cuaca ketika itu cukup cerah. Tak lama setelah memasuki hutan akhirnya kami pun sampai di puncak Pergasingan. Catatan waktu menunjukan kami sampai pada pukul 08.35. Kami tidak terlalii lama di puncak karena pada siang hari nya Ridzki dan Adam harus melaksanakan ujian terlebih dahulu. Jadi kami harus kembali lagi ke Bawak Nao. Hanya sekitar 30 menit kami berada di puncak pergasingan. Waktu kami turun pun terbilang cepat. Sekitar 30 menit kami sudah sampai di bawah. Sampai di bawah kami beristirahat sejenak untuk sekedar mengeringkan keringat. Tak lama setelah itu kami pun langsung kembali menuju Bawak Nao.

5. Gedong Lembah

            Usai mengerjakan ujian kami kemudian bersiap-siap untuk kembali mendaki. Kami langsung menuju Gunung Gedong Lembah. Gunung ini sebenarnya berdekatan dengan Gunung Kondo. Sebelum mendaki kami diharuskan membayar tiket masuk dan juga biaya parkir. Cukup mahal untuk tiket dan biaya parkir yaitu Rp 75.000 untuk tiga orang. Pukul 13.50 kami mulai mendaki Gedong Lembah. Jalur yang landai dan vegetasi tertutup mengiringi pendakian kami. Kondisi cuaca ketika itu pun agak mendung sehingga suasana menjadi sejuk. Cukup lama masuk ke hutan kami kemudian keluar ke vegetasi terbuka. Bisa dibilang karena Gedong Lembah dan Kondo itu berdekatan kondisi lapang diantara kedua gunung tersebut sama.

           Memasuki vegetasi terbuka cuaca berkabut. Sulit untuk melihat jalur karena jarak pandang yang terbatas. Jadi mata haruslah jeli saat berjalan. Tidak begitu lama berjalan di vegetasi terbuka jalur kembali menanjak. Jalur menanjak ini menunjukan bahwa puncak Gedong Lembah yang berketinggian 2200 mdpl. Benar saja akhirnya pada pukul 15.20 kami sudah mencapai puncaknya. Waktu yang sudah sore hari membuat kami agak terburu-buru untuk kembali. Hanya 10 menit kami berada di puncak untuk sekedar berfoto dan beristirahat. Cuaca pun sudah mulai gerimis, kami pun bergegas turun ke bawah dengan berlari. Akhirnya kami sampai di bawah pada pukul 16.10.

6. Sempana

      Sempana gunung terakhir yang harus kami selesaikan. Sempana memiliki ketinggian 2329 mdpl. Sebelum mendaki gunung ini kami menyempatkan diri untuk mampir ke kantor komite Sembalun Seven Summit untuk bersilaturahmi dan memijam bendera. Kami bertemu dengan Pak Rudi selaku komite dari Sembalun Seven Summit. Ternyata Pak Rudi adalah berasal dari Bogor yang merantau ke Lombok. Kami juga diberi peta digital untuk memudahkan mendaki Sempana. Kami mulai mendaki pada pukul 13.00. Vegetasi awal tertutup pohon dan jalan cukup landai. Setelah cukup lama berjalan dalam vegetasi tertutup, kami pun keluar menuju vegetasi terbuka. Kondisi jalur seperti punggung naga jadi harus berhati-hati dalam melangkah. Kemudian medan jalur berganti menjadi bukit yang menanjak. Setelah menanjak jalur melipir ke kanan dan cukup jauh.

      Vegetasi didominasi oleh pepohon walaupun tidak terlalu banyak dan juga tumbuhan bawah. Cukup panjang kami berjalan untuk mencapai puncak Sempana. Kondisi cuaca ketika itu mendung dan berkabut.Akhirnya kami pun sampai di puncak Sempana pada pukul 15.50. Sungguh melelahkan dan menyenangkan. Akhirnya tujuh puncak yang ada di Sembalun telah kami gapai. Tak berlama-lama di puncak, kami pun turun dari puncak setelah berfoto dan beristirahat. Kami turun dengan berlari menuruni bukit namun tidak terlalu terburu-buru. Berjalan agak santai sambal menikmati panorama gunung Sempana. Cuaca yang awalnya mendung tak beberapa lama menjadi cerah. Pemandangan perbukitan pun terlihat indah sejauh mata memandang. Akhirnya pukul 17.45 kami sampai di bawah dan kembali ke Bawak Nao.

Tujuh puncak gunung di Sembalun akhirnya telah kami taklukan. Setelah pendakian telah dilakukan kami kemudian mengunggah foto saat berada di puncak untuk mendapat sertifikat dari komite Sembalun Seven Summit. Foto diunggah melalui situs sembalun7summit.com. Terdapat ketentuan untuk mendapat sertifikat tersebut yaitu foto yang diunggah haruslah foto pada puncak tujuh gunung yang telah dilakukan. Total tujuh hari kami menaklukan tujuh gunung di Sembalun. Tetapi karena dalam dua hari setelah mendaki Rinjani kami singgah keluar Sembalun, terhitung waktu kami adalah sembilan hari. Kami berterimakasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan tantangan tujuh gunung ini. Terimakasih kepada rekan-rekan Grahapala Rinjani, terimakasih kepada saudara Parman Wijaya berserta keluarga, terimakasih juga kepada Pak Rozak salah satu warga lokal di Sembalun, dan Pak Rudi selaku komite Sembalun Seven Summit.

Ditulis oleh: Ridzki Buhron (AM)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*