lawalataipb/ June 9, 2021/ Webinar/ 0 comments

Webinar III Lawalata IPB memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Hari Lingkungan Hidup Sedunia ditetapkan ketika seluruh negara anggota PBB melaksanakan Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Lingkungan Hidup pada tanggal 5-16 Juni 1972 di Stockholm, Swedia atau yang kita kenal saat ini yaitu Konferensi Stockhlom. Prof. Emil Salim, pada saat itu sebagai menteri yang menangani hal-hal terkait lingkungan hidup, hadir sebagai ketua Delegasi Indonesia pada konferensi tersebut. Salah satu keputusan Konferensi adalah menetapkan adanya Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environmental Day) yang diperingati oleh seluruh negara anggota PBB setiap tahun, yaitu pada tanggal 5 Juni, hari pertama diadakannya Konferensi Stockholm.

Webinar ke-3 Lawalata IPB yang memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia dengan mengusung tema “Mengupas tuntas kondisi lingkungan hidup Indonesia” turut menghadirkan pembicara-pembicara yang berasal dari berbagai macam kalangan. Dimeriahkan oleh kehadiran Bapak Dadang Wardhana selaku Sub Direktorat Pemanfaatan Jenis Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekowisata (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Prof. Hefni Effendi, M. Phill selaku Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) IPB University, Arie Rompas selaku Team Leader Forest Campaign Greenpeace Indonesia, dan Yuyun Harmono selaku Manajer Kampanye Keadilan Iklim Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI). 

“Lestari kini dan nanti” tidak hanya menjadi tagline namun juga merupakan bentuk pengharapan akan sumberdaya alam Indonesia tidak hanya dapat dinikmati oleh kita saat ini namun juga generasi dimasa yang akan datang. Definisi lestari kini dan nanti menuntut kita menciptakan keadaan lingkungan hidup yang berkelanjutan dan berkeadilan didalam setiap prinsip pemanfaatan maupun pengelolaan sumberdaya alam. Narasumber yang diundang dari berbagai macam lembaga dimulai dari lembaga pemerintahan, lembaga non pemerintah, juga akademisi, menjadikan webinar Lawalata IPB kala itu sebagai ruangan bertemu para pemangku kebijakan, aktivis, praktisi, dan tentu pecinta lingkungan diseluruh tanah air.

 Materi pembuka diawali dengan pemaparan oleh Bapak Dadang Wardhana yang secara umum menjelaskan program dan kegiatan konservasi keanekaragaman hayati dan ekosistem.  Menurut Pak Dadang, kelestarian bukan hanya menjaga sumberdaya alam melainkan juga memanfaatkannya dengan bijak. Beberapa isu strategis yang dihadapi oleh Ditjen KSDAE diantaranya yakni, kerusakan habitat akibat pengaruh alam dan manusia, perdagangan illegal satwa liar, problem sampah dikawasan konservasi, serta konflik satwa dan manusia. Kawasan konservasi (KK) di Indonesia secara keseluruhan memiliki luas 27 juta hektar dengan didominasi oleh keberadaan taman nasional (TN), cagar alam (CA), dan suaka margasatwa (SM). Bapak Dadang juga memaparkan penilaian efektifitas pengelolaan kawasan konservasi oleh Ditjen KSDAE pada tahun 2017, berdasarkan hasil perhitungan diperoleh bahwa mayoritas kawasan konservasi dinilai masih kurang efektif pengelolaannya (sebanyak 177 KK atau 64,23% memiliki nilai METT 33%-67% yang berarti masih dibawah standar yakni 67%).

Disamping itu, Pak Dadang juga memberikan beberapa informasi kegiatan pemulihan ekosistem yang terdapat di Taman Nasional Gunung Palung, pemberdayaan masyarakat di TN. Gunung Halimun Salak dan TN.  Gunung Merapi, upaya pengelolaan melalui pemanfaatan potensi bioprospeksi seperti di TN. Gunung Rinjani, TN. Kerinci Seblat, TN. Gunung Ciremai. Era digital juga membuat upaya kampanye KSDAE dikemas dalam bentuk media sosial berupa instagram ataupun facebook agar dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat terlebih generasi muda. Beberapa poin penyampaian Pak Dadang dirasa sangat menarik, seperti contoh keterlibatan masyarakat atau mitra menjadi kunci untuk pemulihan ekologi, namun dibalik capaian yang telah ditingkatkan oleh KSDAE ternyata masih banyak tantangan yang dihadapi.

Presentasi kedua disambung oleh Mas Arie Rompas atau akrab disebut Bang Rio yang merupakan perwakilan dari GreenPeace Indonesia. GreenPeace merupakan organisasi kampanye global yang independen, yang beraksi untuk mengubah sikap dan perilaku, melindungi dan menjaga lingkungan hidup, dan mendorong perdamaian. Dalam webinar ini Bang Rio akan menguak kerusakan lingkungan di Indonesia dan tantangan kedepan yang harus kita hadapi bersama.

Krisis ditengah pandemi sempat membuat bumi bernapas lega dengan ditandai adanya perbaikan kualitas udara, namun dibalik hal itu terungkap beberapa problem menakutkan seperti, proses pemulihan ekonomi yang eksploitatif, pemangkasan layanan publik, pengkikisan perlindungan lingkungan untuk mendanai tangan-tangan pencemar terburuk di tanah air. Hutan menjadi penting untuk menjaga iklim, hutan hujan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, namun sayangnya hutan di Indonesia kian hari kian habis. Seperti yang terlihat didepan mata, hutan di Papua yang diratakan oleh bulldozer dan rekan-rekannya. Kasus-kasus deforestrasi, kebakaran hutan, bencana hidrometeorologi, dan penurunan populasi flora maupun fauna adalah topik panas yang hingga sekarang masih alot penyelesaiannya. Selain hutan, Bang Rio juga menjelaskan bahwa masalah lingkungan yang ada dihadapan kita yaitu sampah plastik. Sudah saatnya, kita selaku konsumen menuntut komitmen produsen untuk mengurangi, mengendalikan, dan menangani sampah plastik yang mereka produksi, selain berusaha mengurangi pemakaian plastik tersebut. Penting untuk diketahui dan dikritisi bahwa Indonesia adalah penyumbang sampah plastik ke laut terbesar nomor dua di seluruh dunia.

Selain itu, Bang Rio menyampaikan isu polusi udara. Berdasarkan laporan PBB (2019) bahwa sembilan dari sepuluh orang diplanet ini sedang menghirup udara yang telah tercemar. Sumber utama dari polusi udara ialah pembakaran bahan bakar fosil, trasnportasi, dan pembangkit listrik batu bara. Berita buruk untuk Indonesia adalah DKI Jakarta menjadi kota dengan predikat paling terpolusi di Asia Tenggara, ditemani Kota Hanoi di Vietnam. Bang Rio membahas akar masalah isu-isu lingkungan dengan menjelaskan bahwa kerusakan lingkungan dan hilangnya keanekaragaman hayati terjadi akibat kombinasi model pembangunan yang eksploitatif disertai dengan praktik “korupsi”. Hal tersebut yang berdampak pada kerugian negara, rusaknya hutan, hilangnya hak-hak masyarakat adat, dan memperkeruh krisis iklim. Adapun langkah pemerintah dengan heboh mengesahkan Omnibus Law yang diluncurkan ditengah kondisi pandemi. Hal tersebut menggemparakan para aktivis, praktisi, dan tentu pecinta lingkungan karena didalamnya terdapat banyak kemerosotan perlindungan, pengelolaan, dan penegakkan hukum keadilan lingkungan hidup. Pesan dari Bang Rio kepada generasi muda saat ini adalah kritis, suarakan, dan lakukan aksi demi penyelamatan lingkungan hidup, karena tidak ada ekonomi yang tumbuh ditengah kerusakan lingkungan.

 Narasumber berikutnya berasal dari WALHI yang merupakan manajer kampanye keadilan iklim, Mas Yuyun Harmono. Mas Yuyun secara singkat menjelaskan tentang sejarah, visi dan misi WALHI. Visi utama WALHI yakni terwujudnya suatu tatanan sosial, ekonomi, dan politik yang adil dan demoktratis yang dapat menjamin hak-hak rakyat atas sumber-sumber kehidupan dan lingkungan hidup yang sehat dan berkelanjutan. Mas Yuyun menyebutkan bahwa apapun yang berorientasi pada ekonomi dan politik maka akan terjebak pada paradigma ekonomi diatas segalanya tanpa melihat kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan. Selain mengkritisi dan menolak model ekonomi yang eksploitatif, kita juga wajib menawarkan pengelolaan yang lebih arif, adil, dan berkelanjutan. Dalam materi juga disebutkan delapan nilai WALHI yakni, menghormati hak asasi manusia (HAM), demokratis, keadilan gender, keadilan ekologis, keadilan antargenerasi, persaudaraan sosial, anti kekerasan, dan keberagaman.

Prof. Hefni Effendi selaku kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) IPB University menjadi narasumber penutup pada webinar kali ini. Beliau memberikan wawasan mengenai overshoot alam dan dampak pandemi pada lingkungan hidup, serta relaksasi pengelolaan lingkungan. Pada awal pemaparannya, prof. Hefni menyebutkan buku Limits of Growth (1972) dimana dijelaskan lima model variabel keterbatasan pertumbuhan yakni, populasi, produksi pangan, industrialisasi, polusi, dan penggunaan sumberdaya alam yang tidak terbarukan. Variabel tersebut terus tumbuh secara eksponensial hinggal melebihi daya dukung dan daya tampung lingkungan (carrying capacity). Pada abad ke-21 diprediksi akan terjadi keruntuhan carrying capacity sehingga seringkali isu lingkungan menjadi perbincangan dimanapun.

Covid-19 dapat direfleksikan sebagai kemurkaan alam terhadap kerakusan manusia dalam mengeksploitasi sumberdaya alam dan jasa lingkungan. Terdapat beberapa dampak pandemi terhadap lingkungan, diantaranya yaitu kualitas dan polusi udara, pemakaian energi, manajemen limbah, migrasi global, dan lain sebagainya. Adapun paradoks bahwa kualitas udara membaik selama terjadinya pandemi dan pengurangan emisi karbon akibat berkurangnya aktivitas industri. Paradoks tersebut membuktikan bahwa perubahan iklim, pencemaran udara dan air adalah sebagai hasil antrophogenik (aktivitas manusia) bukan perihal fenomena alam. Kehidupan alam liar juga ikut terdampak akibat pandemi covid, sebagai contoh viralnya monyet yang ada di kampus IPB Dramaga Bogor yang merebak disaat kampus sudah sepi dari kegiatan mahasiswa. Namun dibalik sisi positif tersebut terdapat ancaman limbah medis, limbah rumah tangga hasil e-commerce, penumpukan limbah padat dan bahan sekali pakai. 

            Prof. Hefni Effendi juga menerangkan prinsip relaksasi pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan. Beliau menekankan bahwa masalah lingkungan tidak bisa dipandang dengan menggunakan “kacamata kuda”, terlebih dinegara kita yang masih berkembang, inilah yang dimaksud konformistik. Bukan berarti pelonggaran terhadap kekuatan hukum lingkungan melainkan menyesuaikan kembali standar ataupun pengelolaannya. Relaksasi pengelolaan dan pemantauan lingkungan juga perlu ditelaah untuk menjadi pertimbangan pengambilan kebijakan oleh pemerintahan.

            Setelah semua narasumber memaparkan materinya, dilaksanakan sesi tanya jawab dengan berisi pertanyaan-pertanyaan menarik dan mendalam. Beberapa isu nasional yang menjadi tren turut disinggung dalam sesi tanya jawab ini seperti, kebakaran hutan di Papua, masalah plastik sekali pakai, pertanggungjawaban korporasi dunia terhadap emisi global, rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan, pembangunan bandara yang mengancam habitat satwa di Bali Barat, pertumbuhan populasi dan ekonomi yang menekan daya tampung dan daya dukung lingkungan, pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam konteks pemantauan pemanfaatan sumberdaya alam, pemakaian sumberdaya alam secara boros oleh negara maju, dan lain sebagainya. Diskusi berjalan interaktif dengan banyak perspektif dari berbagai narasumber.

            Diakhir acara, moderator webinar yaitu Linda Rosalina yang merupakan anggota Lawalata IPB, juga mahasiswi pascasarjana program studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL) IPB University menyimpulkan hasil diskusi. Dimana demi mencapai “lestari kini dan nanti” terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi diantaranya yaitu, adanya kebijakan yang berpihak pada prinsip berkeadilan dan berkelanjutan yang mana sedang ditantang dengan kebijakan yang berwatak eksploitatif dan jangka pendek. Saat ini sudah terdapat inisiatif pemulihan ekosistem namun belum menjadi arus utama kebijakan pembangunan sumberdaya alam. Dan diakhir disimpulkan bahwa diperlukan satu perubahan yang sangat mendasar dengan cara mengubah paradigma bahkan gaya hidup yang tidak meletakkan manusia sebagai puncak piramida tapi meletakkannya setara dengan ekosistem, dengan demikian tujuan lestari kini dan nanti dapat dicapai bersama.

Materi Webinar dapat diakses di:
http://ipb.link/materiwebinarseries3-lawalataipb

Penulis:
Ziadatunnisa Ilmi Latifa (L-405)
Lawalata IPB 2021

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*