lawalataipb/ October 16, 2019/ Catatan Kajian, Cerita Anggota, Ekspedisi Lawalata, Kelompok Minat/ 0 comments

Perkumpulan Mahasiswa Pecinta Alam (Lawalata) IPB University merupakan perkumpulan mahasiswa pecinta alam  yang memiliki slogan scientific adventure, dimana setiap kegiatannya melakukan penelitian ilmiah dan menghasilkan luaran (output). Salah satu kegiatannya adalah ekspedisi. “Ekspedisi memiliki peran penting dalam pembentukan karakter mahasiswa karena prosesnya yang panjang dan butuh konsistensi di dalamnya,” ucap Beginer Subhan,  Kepala Sub Direktorat Pengembangan Karakter, Direktorat Kemahasiswaan dan Pengembangan Karir (Ditmawa) IPB University.

Ekspedisi Lawalata IPB University setiap tahunnya dipublikasi melalui seminar hasil ekspedisi. Tahun ini seminar hasil ekspedisi Lawalata IPB University dilaksanakan di Auditorium Andi Hakim Nasution, Sabtu (5/10). Ada tiga ekspedisi yang dipublikasikan  yaitu Ekspedisi Putri Bahari yang mengkaji tentang Teluk Palu pasca tsunami, Ekspedisi Lentera Putussibau yang mengkaji tentang potensi kawasan karst di Taman Nasional Betung Kerihun, dan Studi Etnofitomedika. Seminar ini juga dihadiri oleh Kepala Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum, dan peracik obat-obatan tradisional di Kampung Tapos, Bogor.

Studi etnofitomedika ini merupakan ekspedisi yang mengkaji tentang penggunaan obat-obatan tradisional di Kampung Tapos, Bogor. Selain meracik obat dan mengambil tumbuhan obat bersama masyarakat, tim studi juga melakukan pendidikan lingkungan hidup kepada siswa di sekolah-sekolah di Kampung Tapos, Bogor. “Ditemukan 99 jenis tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat Kampung Tapos, 48 jenis diantaranya ditanam di pekarangan rumah untuk dikonsumsi langsung, maupun diracik menjadi obat tradisional,” jelas Salma Zubaidah, Ketua Umum Lawalata IPB University.

Manusia sebaiknya berbaur dengan alam, mengambil manfaat dan memberikan manfaat kepada alam. Guru Besar Tetap Fakultas Kehutanan IPB University, Prof Dr Ir Ervizal A.M. Zuhud, MS mengatakan bahwa tumbuhan obat memiliki potensi untuk dikembangkan karena Indonesia memiliki berbagai mikroba endofit yang banyak memberikan manfaat namun belum banyak digali. “Pengobatan tradisional menjadi solusi yang murah, dan mudah untuk menangani penyakit, dan perlu disebarluaskan ilmunya kepada khalayak umum. Kehadiran narasumber yang tepat dan moderator yang bagus membuat diskusi terasa hidup. Next time, dengan persiapan yang lebih baik akan lebih memberikan makna bagi khalayak umum,” pesan Haryanto R. Putro selaku pembina Lawalata IPB University. (*)

Sumber: https://ipb.ac.id/news/index/2019/10/ipb-university-lawalata-collects-99-types-of-medicinal-plants-in-tapos-village/280e6a8c9e2f448baa3d18f0596caafa

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*