lawalataipb/ April 20, 2021/ Webinar/ 0 comments

Perlu kita ketahui, Indonesia berada di kawasan pertemuan lempeng-lempeng bumi yang sangat aktif. Hal ini mengakibatkan wilayah Indonesia rawan terhadap berbagai bencana alam. Mangapa demikian? Karena letak Indonesia berada di antara dua samudera besar dan terletak di wilayah cincin api (ring of fire). Wilayah ini juga disebut sebagai lingkaran besar magma yang menyebabkan Indonesia rawan terjadi bencana tsunami, gempa bumi, gunung meletus, dan bencana lainnya. Peran aktif masyarakat yang hidup dan tinggal di wilayah yang rentan bencana sangatlah penting. Bencana tidak dapat dihindari, tetapi dapat dipelajari penyebab dan resiko lainnya.

Pada kesempatan ini Minggu, 8 April 2021, Perkumpulan Mahasiswa pencinta Alam (Lawalata IPB) mengadakan Webinar Series pertama dengan tema “Peran Pemuda dan Masyarakat dalam Mitigasi Bencana” dengan mengundang berbagai pemateri diantaranya Een Irawan Putra S.Hut (Staff  Khusus Kepala BNPB), Dr. Syamsul Bahri (Sekretaris Pusat Studi Bencana IPB), Cucup Supriatna (Staff PTPN VIII Gunungmas), dan Soma Suparsa (Koordinator Relawan Bencana Longsor Sumedang).Acara dimulai pukul 13.00 WIB dengan dibuka oleh Annisa Fatrikha sebagai MC (Master of Ceremony) Lawalata IPB dengan menyambut para pemateri Webinar Series 1 dan mengenalkan moderator yaitu M. Fachri Pratama dari Lawalata IPB. Acara dilanjutkan dengan penyampaian materi dari setiap keempat pemateri yang dipandu oleh moderator.

Penyampaian Materi 1

Materi pertama disampaikan oleh Pak Een Irawan mengenai Pentingnya Mitigasi Bencana. Membuka cakrawala pemikiran terkait studi kasus yang terjadi di Indonesia dengan menampilkan video bencana alam dan non alam dari tahun 2020-2021. Pak Een Irawan membagi kluster kebencanaan menjadi empat yaitu, 1). Geologi dan Vulkanollogi 2). Hidrometeorologi 1 3). Hidrommeteorogi 2 seperti banjir, longsor, abrasi dan lainnya,  dan 4). Bencana non alam. Yang lebih memprihatinkan dijelaskan penyebab karhutla (kebakaran hutan dan lahan) 99% disebabkan oleh perilaku manusia. Dalam salah satu video dijelaskan ada 10-15 orang Kepala Desa dibayar oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk membakar lahan. “Jika begitu kita balik saja, kita yang membayar untuk tidak membakar”, ucap Doni Monardo (kepala BNPB) dalam salah satu video tersebut. Beliau juga menampilkan beberapa kerusakan alam yang terjadi seperti banjir bandang, lahan longsor di hutan beserta dampaknya untuk mayarakat. “Perang itu mungkin, bencana itu pasti. Kita harus siap siaga mitigasi, karena kita tinggal di negara yang rawan bencana”, Pak Een dalam menutup penyampaian materinya.


Penyampaian Materi 2

Pak Syamsul B. Agus (Sekretaris Pusat Studi Bencana IPB)  menjelaskan bencana berdasarkan sumber seperti bencana alam, bencana non alam dan bencana sosial. Manusia menjadi salah satu aktor penting terjadinya bencana. Indonesia merupakan daerah rawan gempa bumi karena dilewati 3 lempeng tektonik yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia dan lempeng Pasifik. Statistik bencana di Indonesia dari tahun 2011 hingga 2020 ditampikan. Beberapa kasus bencana terjadi seperti gempa bumi dan tsunami. Manajemen bencana dan pentingnya mitigasi untuk mengurangi dampak-dampak terjadinya bencana perlu dilakukan. Banyak hal bisa kita lakukan untuk bekerjasama dari tingkat pemerintah, BNPB, kampus sampai unit terkecil yaitu RT dan RW dilingkungan kita. Upaya mitigasi dapat dilakukan diantaranya pertama dengan memperkuat edukasi kebencanaan, kedua yaitu adaptasi diantaranya dari perubahan iklim yang terjadi di dunia sampai saat ini dan ketiga penguatan infrastruktur.


Penyampaian Materi 3

Materi ketiga disampaikan oleh Pak Cucup Supriatna terkait Studi Kasus di Gunung Mas Desa Rawa Dulang pada tanggal 19 Januari 2021. Bercerita mengenai kronologis terjadinya kejadian banjir bandang di daerah tersebut. Saat itu seminggu sebelum kejadian cuaca sangat ekstrim, hujan lebat setiap hari turun. Kejadian bencana banjar bandang tersebut mengagetkan warga sekitar dan membuat panik karena bencana tersebut tidak pernah sama sekali terjadi sebelumnya.. Penyebab banjir bandang tersebut adalah terjadi longsor di hulu dan penyumbatan air di desa. Menurut kesaksian warga, hampir 4 meter ketinggian air banjir bandang yang terjadi pada warga di Desa Rawa Dulang. Evakuasi dilakukan ke tempat aman selama 8 hari. Dengan kejadian bencana tersebut banyak yang dipelajari. Pak Cucup berpesan, pentingnya alam untuk manusia, fungsi alam dan jika alam rusak akan terjadi bencana. “Kejadian tersebut membuka mata kami dan bencana tidak bisa kita prediksi”, ungkap Pak Cucup dengan perasaan yang mendalam. Walau tak ada korban jiwa, rasa trauma terus menyelimuti masyarakat hingga saat ini.


Penyampaian Materi 4

Materi terakhir disampaikan oleh Pak Soma Suparsa yang menjelaskan Studi Kasus Longsor di Sumedang meliputi pra, kejadian dan paska kejadian. Kronologi diceritakan pada tanggal 9 Januari 2021 pukul 16.00 WIB terjadi bencana longsor di Cimanggung, Kabupaten Sumedang. Pak Soma menjelaskan kegiatan saat pra bencana diantaranya menyiapkam tim untuk konfirmasi kejadian, bekerjasama dengan unsur kebencanaan lainnya, mengkoordinir seluruh tim dari setiap organisasi/lembaga yang bergabung dan berkoordinasi dengan tim yang membuat pos. Tak lupa melaporkan kegiatan kerelawanan kepada pemerintah agar lebih efektif. Pada saat penanganan, kegiatan yang dilakukan yaitu berkoordinasi dengan BASARNAS (Badan SAR Nasional), mennyiapkan transportasi, medis, tim evakuasi untuk korban dan mengedukasi masyarakat dari hasil kajian untuk diungsikan ke tempat aman, tak lupa pemasangan garis polisi untuk memudahkan proses evakuasi di tempat bencana. Kegiatan yang dilakukan setelah penanganan diantaranya adalah menyiapkan lokasi pengungsi, MCK sesuai jumlah pengungsi, sanitasi, pos informasi, pos medis, pos relawan psikososial, penyaluran logistik, dan penyediaan air bersih. Menurut Pak Soma, sebenarnya bukit Cimanggung, Sumedang tersebut sudah tidak layak untuk tempat pemukiman warga. Hal tersebut membutuhkan perhatian lebih dari semua pihak baik masyarakat maupun pemerintah. “Kenali lingkungan mu sebelum ancamanmu!”, ujar Pak Soma yang biasa disapa Abah Soma menutup penyampaian materi.

Diskusi dan pertanyaan dari peserta yang hadir Webinar Series Lawalata 1 menambah keseruan acara ini untuk menambah pengetahuan terkait kebencanaan. Sesi foto bersama baik dari panitia, pemateri maupun peserta  mengakhiri acara ini dengan penuh manfaat.

Peran aktif masyarakat yang hidup dan tinggal di wilayah rawan bencana sangatlah penting. Dengan mempelajari penyebab dan risikonya kita dapat membuat rancangan model pengurangan risiko bencana sebagai acuan ketika menghadapi bencana.

Sampai bertemu di Lawalata Webinar Series selanjutnya! Salam Lestari!

Materi Lawalata Webinar Series 1 dapat diakses di: http://ipb.link/materi-lawalatawebinarseries1

Tulisan : Zufar Fauzan L-423

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>
*
*